alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< July 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Friday, September 30, 2005
Pilihan

Assalamualaikum wr wb

Setiap yang saya lihat dijalanan di ibukota  menjadi catatan dibenak saya, betapa warga di ibukota berupaya keras menyambung hidup...born suvivor, jadilah sebuah oretan.

wassalam, teteh

 --------

 

Pilihan 

 Pilihan itu tidak ada buat mereka, kecuali mereka: Harus menerima untuk bernasib terlunta lunta dan tetap jelata. Asa tak pernah putus, doa tetap mereka lafadzkan saat mereka bersujud, usai sholat. Begitu giat upaya untuk mengais rejeki dengan cara terhalal  kendati tidak toyyiban atau berbagai cara hingga pilihan itu seolah  takdir belaka.

 Padahal mereka bercita agar anak anak mereka jauh lebih baik dari mereka. Jangankan berijazah, izzah merekapun sebagai  insan punah,  terhina dipinggiran jalan, terdampar dihamparan kefakiran.


Calo bis kota, kenek, ojeg dan sopir taksi, preman dan polantas
Kerja mereka hari hari mengejar bis bis kota atau angkot yang berhenti di halte untuk menarik upeti. Sambil berteriak sang kenek siap menggenggami  seribu perak kepada para calo untuk sekali tarik dan sekali stop.

 Dan mereka tidak sendiri, setidaknya dua, tiga atau empat orang bergilir menyandang tugas menarik upeti . Antara merekapun sepakat untuk saling mendukung, tak berbalah, bahkan sepakat untuk bagi bagi teritorial kendati tidak tertulis dalam bentuk MoU.

Atau bila kita tengah terjebak dikemacetan trafik, para pengasong sibuk menjajakan   kacang bawang, tahu goreng, mangga muda yang membuat kita kabita, atau koran majalah, peta ibukota, atau minuman Cola, Aqua, Tang yang kuragukan keasliannya...

Atau mereka yang meniup periwitan di belokan yu teun (U turn) buat para pengendara yang harus belok, memotong dan menyingkat perjalanana, uniknya semua pengendara siap menggenggam sang ribuan kendati  kami menggerutu. Mereka berjasa memang. Karena kecepatan, jarak dan egoisme berlaku di pertrafikan. Bising melengking sang periwitan bersaing dengan deru mesin merupakan pemandangan manarik buatku.

 Atau jadi preman menyetop para taksi agar bayar pajak paksa pada kami penumpang di Tanah Abang, Senen. Sedikitnya dua ribu  untuk menghalau mereka, sang sopir taksi terpaksa tunduk kepada hukum rimba untuk keselamatan hari esok.

 Atau jadi tukang parkir disetiap kedai, perkantoran atau restoran atau apa saja. Pemarkir begitu gesit untuk nge-prit dan berteriak ' mundur...mundur !' padahal kamipun mampu mundur tanpa mereka. Namun begitu pilihan untuk tunduk pada hukum yang mereka buat, anehnya kami sepakat bayar seribu  bahkan sopir mengingatkan kami untuk mematuhi. Kalau tidak akan mereka catat nomor plat dan berisiko esok lusa.

 Begitu juga pilihan buat para aparat polantas atau aparat lainnya. Pasalnya gaji itu cuma untuk cukup sepekan, sedang dalam sebulan ada empat pekan. Galau hati mereka manakala pekan ketiga tiba apalagi bila penghujung bulan didepan mata.

 Periwitan maut akan berperan disetiap sudut sudut rindang di ibukota untuk menjerat mangsa saat kritisnya bulan tua. 'Priiit jigo' adalah judul sinikal yang diakui oleh penduduk ibukota. Pedulikah mereka? Pasalnya bukan hanya untuk nafkah anak bini namun untuk setoran juga.  'Ancaman  menilang semata gertakan belaka kendati kesalahan itu tak mendasar'. Kalau mereka kalah argumen maka sepuluh ribupun jadilah sekedar untuk beli secangkir kopi dan rokok, tak segan mereka meminta. 'Mau Tilang atau Damai ?'. Itulah dua pilihan yang mereka tawarkan.


Yang termutakhir adalah memajak para sopir taksi yang markir di warteg.  Mereka tahu kalau sopir taksi adalah pengais uang kontan dalam kesehariannya. Benak mereka terus berupaya untuk menginovasi sesuatu. Syahdan plang 'S' ditancapkan hingga seolah pelanggaran terjadi. Mereka para sopir terpaksa berdamai untuk bayar urunan  seratus lalu naik menjadi lima ratus ribu perorang, perbulan . Bayangkan kalau ada puluhan taksi markir, berapa juta terkumpul? Bukankah ini projek?

 Kalau sang sopir tidak sepakat maka tak ayal ban mobil jadi rata kempes atau ancaman ditilang. Pemerasanpun terjadi. Sungguh kreatif dan inovatif bangsaku ini.

 Pilihan Menjadi TKI, Ojeg, Babu dan Naksi
Yang terberat adalah kalau mereka memilih untuk meninggalkan kampung halaman, keluarga, suami, anak dan Mmak-Bapak. Sepertinya lowongan kerja itu sudah tak ada lagi, seolah pintu rejeki tertutup dinegeri tercinta, kebutuhan kian menuntut. Tawaran menggiurkan berupa bayaran dollar, Riyal. Apalagi Mardiah, sang jiran, baru  mudik dari Saudi telah beli sawah dan masnya melilit di leher. Merekapun memilih  jadi TKI .

 Kendati mereka dielu elukan kalau mereka pembawa devisa negara kita tidak tahu derita dan harga diri mereka sebagai perempuan  yang memberi peluang pada mereka yang naluri 'kemanusiaannya'  hampir nil...yang dzalim dan culas menghakimi sendiri.

 Keluguan merekalah yang menyebabkan para calo dari biro jasa telah menggantung seribu harapan untuk perbaikan nasib masa depan.  Perlindungan tak ada. Penindasan sang majikan melenggang lolos tanpa tuntutan, dibiarkan.  Saat mudikpun tak lepas dari pemerasan para sindikat  Demikian nasib para TKI.  Menteri Peranan Wanita tak berkutik sementara Menteri Perburuhan menutup telinga...anehnya ekspor tenaga tenaga kerja masih dan tetap berjalan.

 ***

Business Ojeg adalah satu diantara business ngetren dan keren. Bak jamur. Hampir setiap pemuda dan bapak muda berbusiness 'Ojek'  di ibukota.  Semuanya jadi latah. Saingan begitu banyak dan mereka berjejer disepanjang jalan, disetiap perempatan, halte halte bis atau dimulut gang. Pekan lalu saat aku berada di Depok Kelapa Dua,  kuhitung ada dua puluh motor ojegan berjejer kebelakang. Aku tersenyum kagum penuh haru.

Mereka berhelem, hidung mereka disarungi serbet hitam menghindar debu, bermandikan terik mentari, mengisap kepulan asap dan debu. Sengatan panasnya mentari tak mereka pedulikan.  Mereka ramah menyapa menawarkan jasanya. Konon  setidaknya mereka bisa meraup tiga atau empat puluh ribu sehari dan mereka jalani demi kelangsungan hidup yang begitu keras dan buas.

Atau menyopiri taksi kerja 14 jam atau lebih dan membawa balik 40 puluh ribu sebagai komisi atau potongan. Padahal dua atau tiga ratus mereka raup seharinya. Namun itulah perjanjian yang mereka sepakati antara pengemudi dan majikan. 'Tapi kami dapat tunjangan berobat, rumah dan pendidikan untuk anak anak' ujar sopir Blue Bird yang betah karena disiplin dan ketegasan manajemen yang adil serta tunjangan yang layak.

 ***
Kalau tidak  mampu jadi apapun maka mulung adalah pilihan terakhir untuk mulung apa saja dijalanan lalu dijual kepasar. Atau nenteng kotak amal, atau jadi peminta minta, mengemis dan memelas welas asih sekedar untuk makan hari itu.

Membasuh baju dan menerika atau jadi babu juga pilihan terakhir agar bisa bayar espepe, beli seragam dan uang test dan ujian. Terkadang anak mereka ikutan bekerja dengan imingan disekolahin oleh dunungan. " agar anak anak kami tidak tuna huruf tidak jadi sampah masyarakat". Walau seringnya mereka berhutang pada majikan.

 ***
Aku sungguh terpana menyaksikan kegigihan setiap mereka untuk bertahan dan mempertahankan hidup di ibukota. Keras, buas dan ganas tak kenal welas dan asih.

Sesungguhnya mereka bukanlah orang orang yang malas tanpa usaha. Sejatinya mereka ingin hidup layak, hak mereka sesungguhnya ada sebagai warga, sebagai bangsa. Hari, pekan dan bulan terlewat penuh kecewa hingga tahunpun berlalu.

Mereka yang jelata terjerat lilitan hutang, terperangkap oleh kefakiran hingga dibawah garis kemiskinan dan putaran sistem korupsi yang tak kenal tepi, berputar bagai putaran setan, berpindah dari satu presiden ke yang lainnya dari satu kabinet ke kabinet lainnya. Derita itu kian memarah dirasakan, ambang kesabaran kian rapuh dan pupus.

 ***

Pilihan itu bukanlah pilihan bahkan mereka tercampak pada pilihan untuk tetap mereka kenyam dan telan, pahit dan getir.  Pilihan untuk tinggal di petak petak sempit pengap sekedar melonjorkan kaki, merentang pinggang yang penat, usai berlarian dan mengejar kendaraan atau duduk puluhan jam di taksi. Kalaupun mandi dengan air keruh sekedar mengguyur badan yang berpeluh untuk meregang kepenatan yang sangat. Sedang dimalam hari buruh pencuci baju merasakan pegel dan ngilu kaku sang jemari, bekas mencuci.

 Bukan pilihan mereka untuk hidup miskin papa, hidup dalam kenistaan, kefakiran yang seringnya bermuara kepada kekafiran. Bukan pilihan mereka untuk membuta hurufkan anak mereka atau memaksa memulung atau bekerja dibawah usia... atau  mengirim sang istri ke negeri lain mengais rejeki.

Itulah pilihan! Mereka tak punya pilihan dan tak mampu memilih....pilihan dalam keterpaksaan, pilihan yang  dipaksakan oleh kondisi dan dikondisikan oleh anak negeri bangsaku...

 Hidup mereka nelangsa nan berkepanjangan.


 

Dari Aisyah ra aku mendengar Rasulullah berdoa: "Wahai Allah! Siapa yang menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku, lalu dia mempersulit urusan mereka maka persulit pulalah dia dan barang siapa menjabat suatu jabatan dalam pemerintahan ummatku lalu dia berusaha menolong mereka, maka tolong pulalah dia!"  ( Hadith Shahih Muslim)

Jakarta 27 September, 2005

 al_shahida@yahoo.com


Posted at 08:36 am by alshahida
Make a comment  

Next Page