alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< July 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Sunday, July 24, 2005
Sendiri

Kerap kunikmati akan kesendirianku ,saat kukayuh sang mobil ..menelusuri jalanan mengais rejeki, menyusun kerja bersama mitra, melayad atau sekedar merajut Ukhuwah Fillah.

Sang nurani tak henti berujar, bertutur, berceloteh, benakku lincah berkilah, bertanya dan berdebat, sendiri, akhirnya lelah sendiri - akhirnya aku pasrah nyerah kukembalikan pada si pemilik benak dan hati.

Hari berlalu hingga semburat rona jingga senja tiba, sang mentaripun beranjak kebelahan ufuk lain. Atmosfir sejuk dan keremangan menyelimuti malam hingga kami mampu merentang sekujur fisik dan benak lalu bermuhasabah atau mendepak yang pahit 'tuk dilupakan.

***

Dikeheningan malam senyap penuh rasa damai, sunyi kendati disekitar kita ada anak, sanak, suami/istri, khalayak, dan mereka tengah menyerahkan ruhnya pada pemilikNya untuk sesaat, setidaknya empat, enam atau delapan jam. Begitu hening kecuali dengkur dan desah-desah napas pulas memenuhi ruangan, mungkin tengah terbuai oleh geraian kegiatana hari hari yang telah meluber atau mimpi indah.

Saat kuberanjak dan kurentang pula sekujur tubuhku, saat kuletakkan kepala diatas susunan bernama bantal hingga kelelahan hari hari memudar dan sirna dari benak.

Kumelanglang kelangit langit, jiwa dan ragaku res, saat terasa akan kesendiraanku... Lalu mulai hadir percikan dan buncahan perjalanan hari hari dari yang manis, indah, pahit, perih bahkan aku tak tahu lagi .

Nuraniku mulai lagi berujar......dan bersyukur: 'bahwa tak ada satu makhlukpun yang mampu membaca apa yang tersirat dan tertoreh dalam benak, qalbu dan nuraniku

Kecuali Engkau Pemilki Hati, kekasihku... Engkau yang Maha Penyimpan semua rahasia hatiku menguasai dan tahu liku, seluk serta rona kisi-kisi hatiku. Andai saja ada makhluk lain mengetahui ini..oh celakalah! Ingin kusampaikan rasa syukurku... lalu kubasuh wajahku. Lalu kumerengkuh..bersujud sambil kuberbisik lirih sendu Siapkah Engkau mendengar kata hatiku, tuturanku jerit dan rintihan hatiku...ya Rabb.

Belum sempat kudengar jawabMu, aku bersimbah dengan derai airmata tentang hari hari laluku, hari hari esokku, hari yang kutakutkan, hari penuh harap dan cemas.

Betapa tidak... kerna kutahu bukan anak-anakku, ayah Ummiku, suami, sahabat atau khalayak ramai yang akan mementaskan aku dari semua panasnya Naar, atau gelegar dan dentuman gaungnya neraka jahannam

Dalam kesendirianku...kuberjalan terseok seok menyeret kakiku, lagi sendiri, di Padang Masyhar yang tak berbatas luas, panas, dihari hari Pengadilan dan hari hari lainnya.

Aku tak sanggup...aku takut namun aku tak bisa lari. Aku hanyut dengan bayang dan khayalku sendiri.

"Tiap tiap diri bertanggung jawab atas apa yangtelah diperbuatnya". (Al-muddatstsir-38)

 

Di Tanah Haram

Tatkala aku berada diputaran kubus hitam bernama 'Kabah' terasa kesendiraanku kendati kiri kananku jutaan jamaah saat itu aku lupa ummi ayahku, anak suamiku, kerabat sahabatku

 Aku merasakan kesendiranku diantara jejalan padatnya manusia yang sama sama memelas Rakhmatmu, ampunan dan RidhoMu Ditanah haram itu kutersadar akan kesendiraanku, egoisku. Kulempar pandangan sesekali kekubus hitam itu, kendati kutahu ia bukan sesuatu yang memberi manfaat atau mudharat Ia adalah sebuah simbol kesatuan, kebersamaa dan yuniti, kalau mungkin kusentuh dan kukecup sang batu hitam.

Ternyata pandangan pertamaku pada sang kubus hitam sungguh tlah meluluh remukkan belulang sekujur tubuhku lalu menghadirkan keharuan mendalam, dalam sekali hingga buncahan gejolak hati membuat airmata menyeruak. Aku jatuh cinta - aku jatuh cinta pada sang Khalik lewat kubus hitamMu yang kutawafi sebagai sebuah syarat.

***

Kami...dikerumunan ini tak ubahnya bak lebah atau semut tengah berterbangan mencari selamat diri, menyelamatkan diri tak bunda, ayah, paman, suami, abang bahkan anak yang akan mementaskan dari siksaMu atas dosa dan amal kami atau menjadi syafaat kecuali Cinta mulus dan tulus untuk Rasulullah swt lengkap seperangkat bukan sekedar basa basi penuh pretensi. Lalu kupintakan ampunan serta hampuraMU.

Tatkala aku datang kedunia, sendiri, disambut. Pulang sendiri pula, dihantar hingga liang lahad. Menghadap dan menemui sang Khalik. Kita, aku akan sendiri lagi...

 "Rabbana athiina fidunniya khasanah wafil akhirati khasanah waqinna a'zabannaar".

 London, 16 Juli 2005

Dikeheningan pagi nan jernih



Posted at 04:16 am by alshahida
Make a comment  

Next Page