alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< July 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Thursday, July 14, 2005
Ada Apa Dengan Aceh...?

Ada Apa Dengan Aceh...?

Suatu hari aku berdiri didepan khalayak ramai menggelar 'Aceh Appeal', menggalang dana, menebar dan menyebar peduli dan prihatin, buat yatim yatim Aceh. Namun itu khayal belaka, itu suatu impian dan lamunan, lalu mimpi dan khayal ini kusimpan dan kusudutkan direlung sudut dan sela hati.

Setiap saat kuusung hal Aceh dimajlis kami selalu ditepis dan dibekukan, aku sebel dan kecewa. Aku tak ada daya saat itu. Upaya untuk meyakinkan memang tidaklah mudah. Pasalnya memang aku sendiri tak tahu banyak tentang Aceh. Kadang aku jadi malas dan enggan. Karena rumit dan ruwetnya kalian punya hal, sukar untuk diurai. Namun halmu tetap kusimpan dan tetap menjadi agenda.

Disela sela kesibukan rutin mencari simpati dan menebar peduli buat bocah bocah Maluku, lewat jejaring 'maya pada' yang mengglobal, ternyata hal ini sempat membuat saudaraku yang Aceh tersengat. Deraan, kritik dan teguran tak luput dan mengundangku 'tuk menohok ke Aceh'. Akupun terhenyak. Sangat mungkin aku ini kurang bijak, menutup sebelah mata buat bocah bocah Aceh yang sama sama punya derita yang bahkan tak berkesudahan.

Lalu aku bertanya pada diri sendiri. Benarkah aku tidak bijak, benarkah aku telah menganak tirikan Aceh? tuntutan itu kerap datang dan mengundang, sementara rasa berdosa mengiringi lalu menyelinap dibalik tirai hati...disimpan.

Masih belum surut usahaku dan dengan berat hati kucoba lagi kuusung masalahmu lewat majlisku kendati kutahu jawabnya akan sama 'ditepis'. Kalian tahu ucap mereka? 'Sabarlah..tunggulah kita harus melawat dan menengok mereka'. Buatku ini cukup kendati mungkin basa basi.

Tiga tahun selam aku sempat bersitegang dengan rekans via email tentang Aceh. 'Bantulah anak yatim Aceh' sarannya, lalu kujawab 'Di Aceh kan tidak ada jihad' oh....dia berang, kami malah jadi berseteru dan saling tak menyapa karena miskonsepsi dan misinterpretasi tentang jihad. Kami bungkam gara gara soal Aceh dalam pemahaman jihad.

---

Syahdan suatu hari deraan itu kian menguat untuk bertandang ke Aceh, melawat sang yatim dan ibu janda mereka. Tekad dan determenasi setara, rasa rasanya saat itu. Namun nyaris sahabat dan kerabat tak membolehkan aku untuk menginjak tanah Rencong yang lama kurindu...

'Teteh jangan dulu ke Aceh..belum waktunya' ujar mereka merajuk. Aku protes, aku menggeleng tak mengerti. Ragu dan bimbang hadir kembali, bersaing menggeluti hati. Lalu aku bertanya ' Ada apa dengan Aceh?' Niatpun jadi urung dan aku tahu sahabat di Aceh yang mengharap kunjunganku jadi kecewa.

Dengar anak-anakku di Aceh

Anakku ...suatu hari aku saksikan di layar teve lewat kepingan cd. Wajah kalian yang cantik dan tampan menyembul. Kalian berjejer dengan puluhan temanmu menembangkan ritme dan lyrik Acehmu. Diantaramu ada seorang vokalis menyampaikan pesan duka laramu sebagai bocah bocah yang nelangsa dan terdzalimi.

Anakku.n.aku menyaksikan wajahmu yang hiba mohon welas asih akan keadilan, menghentikan bentuk kedurjanaan apapun alasannya. Kami tahu bahwa masa kanak kanakmu telah terenggut oleh dan atas nama egoisme dan emosi belaka, masa riamu terampas oleh dan atas nama kedzaliman, ketama'an dan kekuasaan. Anakku dadaku megap gedebukan, pelupukku memanas hingga derai airmata tak sanggup kubendung. Pesan lirihmu sungguh telah merobek lembar lembar hatiku, air matamu telah meremas remas relung hatiku yang paling dalam.

Kalian bagai anak ayam yang kelaparan dilumbung padi, emak dan indukmu menghilang disambar elang ganas - kau terhuyung huyung kehilangan kendala....sungguh paradoks. Sayangnya saat itu aku masih terlalu lemah untuk segera melangkah bertandang kenegerimu, masih kecut dan takut. Anakku pelan namun pasti tekad itu susesungguhnya sudah mulai mengokoh untuk berkunjung..namun hati ini tetap bertanya tanya ...ada apa dengan Aceh?

Kini.....

Anakku..impian dan khayal itu kini menjadi nyata. Berdiri didepan khalayak mengimbau, yang pernah kudambakan dulu itu kini bukan lagi impian namun sudah nyata..oh anakku. Kami ajak dan panggil peduli mereka untuk kalian di Aceh, dari semua daratan dan pulau, dikota dan digedung gedung kantor, sekolah, kedai, pasar, trotoar, jalanan, station hingga bocah balita bernama Salsabila menenteng ember bersama bundanya entah itu dibundaran Trafalgar, station Liverpool, hingga yang lalu lalang melempar poundnya.

Begitu pula Putri diutara, gadis cilik nan cantik di Aberdeen sana mengajak guru dan kepala sekolah serta teman sebaya untuk unjuk peduli mereka untuk kalian. Konon bingkisan besar itu akan melepas sauhnya untuk beranjak segera yang akan merelai duka kalian. Tunggulah

Kalian tahu kalau anak manusia, semua mahluk dibumi ini, hingga semutpun menangisimu, peduli dengan duka lara kalian...dan peduli ini mereka sampaikan lewat tayangan tivi atau berhadapan. Penasaranku menggelitik lalu kutanya kenapa mereka peduli dengan kalian? "Kami merasa ada keterikatan hati dengan Indonesia terutama dengan Aceh, terutama bocah bocah dan yatim Aceh" dan mereka melepas gelang, cinin, mercedes, jacket , kekayaan apapun bahkan mereka turun langsung bertandang.

Kusampaikan rasa haru dan terimakasihku atas nama kalian di Aceh dan ini pesan mereka, 'Tolong doakan kami ' mereka yang di Amerika, Canada, Jerman, Inggris Scotland, Wales dan Irlandia dan banyak lagi...dari seluruh ras, bangsa, warna dengan pesan 'please make doa for us'. Lalu kukatakan pada mereka' insya Allah doa warga dan anak anak Aceh akan makbul karena mereka adalah orang orang yang tengah terkena bencana, bersimbah dengan duka lara, terdzalimi dimasa lalu pula'.

Aku tertunduk, suaraku tersendat penuh haru, haru atas peduli dan cinta mereka untuk kalian, kubenam kembali airmataku. Anakku berjanjilah untuk hidup rukun dimasa depan, terutama sesamamu, serumpun dan se-agamamu, kalian adalah ibarat satu tubuh, jangan kau dzalimi diri kalian.

Tunggulah anakku hingga aku berada didekapanmu, hingga aku mengusap dan menyentuh helai rambutmu kendati aku masih bertanya tanya...ada apa dengan Aceh ?.

London, 19 Januari 2005


Posted at 12:14 pm by alshahida
Make a comment  

Previous Page