alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< July 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Thursday, July 14, 2005
Wajah Aceh Terkini

Wajah Aceh Terkini

Pada akhirnya kami bisa memahami Aceh walau tidak sepenuhnya. Kedatangan kami memang termasuk yang paling belakangan dibanding dengan lsm lsm lainnya yang datang terkait dengan bencana Tsunami. Banyak alasana mengapa datang belakangandan ada alasan pula kenapa mesti datang ke Aceh.

Bandara Banda Aceh

Karena Aceh belum pernah kukunjungi maka tak bisa membanding dengan Aceh yang dulu. Saat kami tiba di bandara persis seperti yang digambarkan oleh teman teman jurnalis tentang kehadiran dan semaraknya tenda-tenda dari berbagai lsm raksasa, tenda tenda berwarna krem, putih, biru, kuningdan berwarna hijau khaki dari tentara asing seperti Amerika, Prancis, Jepang,Australia dan New Zealand.

Tanah lapangan di sekitar bandara hampir tak ada yang tersisa. Spanduk, umbul umbul, bendera semarak berkibar persis Taman Sirkus(Fair Gound) atau ‘Jambore’ kata rekan wartawan.

Begitu masuk gedung bandara tampaklah pula beragam bangsa dan warna memenuhiruang pengambilan bagasi. Sungguh prihatin, gedung bandara yang kecil itu harusmemuat puluhan orang datang dari berbagai sudut dunia.

Bayangkan kalau harus antri di loket imigrasi macam di Cengkareng tentu suara stempel akan bersahutan dengan antrian yang panjang.Aceh terbuka, Aceh bebas...Aceh lepas dari berbagai aturan international namunAceh belum jadi ‘No man Lands’ macam di Bagdad, Iraq.

Gedung padat oleh pendatang baik yang pribumi yang multi etnik plus kuli-kuli bandara, kardoos,karun- karung rafia, bergelimpangan, bertumpuk menyatu dalam ruangan yang kecil, sempit dan pengap oleh asap rokok. Atmosfir cukup pengap dan sumu, terasa sekali... terutama buat kami yang datang dari dunia belahan barat.

Sementara kuli berlomba menawarkan jasa, kami tak sempat tawar dan bernego, kami ambil empat orang, mereka serempak tak melepasbagasi kami. Nampak sekali kebutuhan mendesak mereka untuk survive. Kesanku ‘ ah mereka tidak se-agresif dan nyinyir macam diibukota’. Barang barang kami dibawakeluar.

Diluar, nampaklah dinding kaca berwarna gelap, rentetan maklumat tentang keluarga yang hilang, mereka masih berharap dan setidaknya bisa menemukan jenazah. Konon kesedihan mereka berganda kalau tak tahu kapan hari tanggal wafatdan dimana kuburan, sehingga kenduri khaulan nujuh hari, 35 dan 40 hari -kematian sang sanak tak bisa dilaksanakan. Kami sempatkan membaca, tiba tiba...seorang ibu berkerudung menyodorkan selembar kertas ukuran A4 dengan foto,sebuah isyarat akan memelas kasih dan simpati dari kita.

Ke Posko, ibu kota

Kijang mengangkut kami ke Posko. Tanda tanda kerusakan olehTsunami tak nampak. Masih utuh tak tersentuh . Begitu kijang meluncur membawa kami ke kota, mulai nampak keindahan Aceh, hamparan sawah dengan padi yang tengah menguning dilatar belakangi hijaunya pepohonan dan bukit sertagunung-gunung. Spektakular.

‘Piece of jannah, sepenggal syurga’ kata orang Arab.Betul...Aceh cantik, Aceh indah, Aceh molek, negeriku memang cantik. ‘But there is a beast behind the beauty’ ’ benakku otak-atik memberi judul dan ungkapan.‘Ada beruang beringas dibalik kecantikan Aceh’.

Aku terhenyak dari lamunan, kala kami lihat tanda plang, ‘Kuburan Masal Korban Tsunami’, ditulis dengan cat merahdengan huruf besar disekeping papan lusuh. ‘ Ini kuburan masal...!’ ujar si masyang meyopiri kami, disitulah teman teman menyaksikan penguburan masal pertama.Ngo's, yayasan, lsm, paguyuban, posko dadakan.

Karena Tsunami, Aceh kebanjiran lsm dalam negeri dan international, menjamur dimana mana dari Meulaboh sepanjang pantai Barat hingga Lhoksmawe di utara sana. Banda Aceh si ibukota tentu pusatnya.

Di pendopo gubernuran berjejer puluhhan lsm asing yang datang dar iberbagai penjuru benua, yang dengan sendirinya penterjemah dan guide dibutuhkan,yang past ini menciptakan sebuah ‘employment’ .Berbagai organisasi amal, lsm, yayasan, posko dadakan, paguyuban, partai dan organasasi keagamaan serta missionaris ada dimana mana, diseluruh sudut kota, desa, bahkan di bukit bukit terisolir.

Nama nama itu sendiri ada yang lengkap terpampang dan ada yang cuma singkatan. Banyak yang saru dan tak tahuBegitu juga pula para relawan atau relief worker dengan identitas menggantungdileher warna warni. Tentu ada sebongkah rasa bangga ’aku niih relawan...’yang menjamin aman masuk daerah rawan sekalipun, Kaos T-shirt, rompi dan topitak luput mejeng, juga dengan label dan logo sablonan atau bordiran, entah dipunggung, didada atau disamping, semua ingin menunjukan identitas diri sertapengakuan kehadiran lsmnya di tempat musibah.

Logikanya tentu selain mewakiliasumsi perlunya identitas sebagai penolong atau bukti untuk para donaturnyasekaligus semangat untuk memasarkan dan mengusung lembaga masing-masing. BerPRtentu penting.

Ada relawan yang datang melulu untuk evakuasi mayat, yang membuat hatiku terenyuh. Insya Allah merekalah orang orang yang hanief dan mukhlis, tidak butuh popularitas dan pengakuan dimata manusia. Sesekali kami melihat mereka dijalanan atau sedang markir siap beroperasi, mereka berada diatas truk besar.

Mereka berdiri dengan sarung tangan besar dan longgar hingga siku, berwarnahijau nyala, dengan sepatu laras ‘all sizes’ hingga lutut warna hijau lumut,baju putih, topi penahan sengatan matahari, tak lupa masker melingkar dimulut dan kepala. Pemandangan ini membuat hatiku penuh haru akan keikhlasan mereka.

Mereka yang paling siap mencari mayat dibawah teriknya matahari Aceh, disela sela ringsekan mobil dan motor berlumpur, lalu mengkafani dan menyolatinya, mereka siap mengerjakan the ‘dirty work’, mereka adalah para mujahiddin dari berbagai organisasi Islam yang layak kita sematkan didada mereka, yang kadang menerima segala macam risiko.

Begitu juga para tentara atau Brimob yang juga tak kalah berjasanya.Tsunami yang melanda Aceh membuat semua orang jadi ikutan hiba, menangis, setiapkita ingin menyampaikan empati yang dalam dan sangat dengan berbagai cara.

Sepertinya setiap kita jadi dermawan, ingin menolong atau datang melerai duka mereka. Namun sebaliknya, yang tak bergeming sedikitpun tak kalah banyak jumlahnya. Aceh yang selama ini tak pernah digubris, tak pernah didengar jerit tangis serta teriakan ribuan janda jandanya, rintihan lirih yatim piatunya...kini perhatian yang mendunia terfokus ke Aceh, Tsunamilah yang memboyong kita ke tanah Rencong.

Kerusakan Dahsyat.

Kerusaakan yang kami saksikan betul betul membuat kamiterperangah, tak hentinya kami mengucap istghfar, seringnya kami tak mampubicara. Seolah al-Khalik sedang menunjukan ke-karimanNya, mengalahkan negarayang mengklaim paling adidaya. Kiri, kanan, depan belakang dan sejauh matamemandang yang nampak adalah kerusakan dahsyat, rata tak ada yang tersisa.Lumpur dan genangan air ditimbuni reruntuhan batu-bata, cabikan seng berkarat,genteng, kayu, bambu, pipa dan gulungan kawat.

Bongkahan tanah yang menganga,kapal yang mendarat diatap rumah, motor dan mobil yang mem-bonsai. Kami semua bingung dan menggelang kepala. Bingung sungguh bingung dari mana kita memulaidan berapa lama.Ajaibnya, yang membuat mahluk sejagat ta’jub adalah masih berdiri dengan tegar dan gagahnya Masjid-masjid yang menyisakan sebuah pesan dalam dari Allah, banyak survivor yang lari ke masjid berlindung, terselamatkan.

Bukankah ini suatu peringatan agar kita semua kembali ke masjid, kembali dan berpegang padaNya, masjid bukan melulu hanya untuk sholat, berdzikir, berbuka shaum serta ibadah ibadah ritual belaka tapi ‘Kembalilah kemasjid untuk semua hal, kemaslahatan ummah, kegiatan sosial, tempat bermusyawarah atas namaKu’.

***

Sungguh sulit memahami Aceh. Sungguh aku tidak tahu. Riuh dan hiruk pikuknya yang ingin menolong, ramainya orang datang, berlomba orang beramal, berlomba para lsm membuat proposal dan proyek sana sini untuk membuat pundi emas, menarik simpati donatur luar dan dalam negeri.

Yang mahir berbahasa bilingual atautrilngual tentu kesempatan mas untuk mengamalkna ilmunya sehingga sang proposaljadi tampak profesionil.Yang tergesit tentu yang dapat dapat kucuran dana dari luar dan dengan ‘magicwandnya’ atau bim salabim bisa menyulap segalanya. Es-de-em, dana...tak masalah,lipur dan hiburlah bocah yang trauma dengan panda, badut, mainan berbagai boneka, mobil mobilan, tontonan dan mainan yang menggiurkan, nyanyian gitar..bahkan ratusan ribu radio agar warga bisa menikmati siaran radio, konon itulah terapi untuk paska musibah.

Gudang Insprirasi dan agenda

Aceh menjadi sumber dari segala macam inspirasi, yang pasti gudang inspirasi bagi yang bernaluri business. Penulis akan banyak menulis ribuana cerita dari para saksi hidup hingga menjadi cerita pada kurun waktu tak tertentu, dan yang lebih pasti lagi media listrik dan cetak tetap mencapai oplah tiggi, apalagi dengan canggihnya teknologi satelite, kita bisa saksikan di internet ‘Aceh pra dan paska Tsunami’ Kita baru tersadar kalau Aceh dan negeri kita terus diintai, diintip dan dipantau .

Jangan lupa dibalik semua itu Aceh akan menjadi ajang dan lahan berbagai agenda‘ selain untuk alasan kemanusian tentunya,. Aceh yang dikenal 'Serambi Mekah,'Veranda of Makkah' yang layaknya kita lestarikan predikat ini.

Yang dulu hanya kenal mono agama dan budaya, ada upaya-upaya penuh determinasi agar Aceh menjadi bermulti agama dan budaya baik dalam jangka lambat dan cepat, ‘ini negeri bebas, kita tak bisa berbuat ’ ujar penguasa negeri. Kiranya ini menjadi acuan, siapapun boleh berencana. Gempa dan gelombang Tsunami surut, gelombang lain datang.

Sayang...Aceh yang pertama kali kukenal dan kunjungi adalah Aceh yang sedang tercabik cabik, tengah berduka dan terluka, luka yang yang membuat air mata semua warga Aceh tak lagi tersisa, mengering. Aceh yang kelabu dan murung hingga sukar bagiku untuk membanding Aceh pada pra Tsunami.

London, 9 Maret 2005


Posted at 01:46 pm by alshahida
Make a comment  

Previous Page Next Page