alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< July 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Thursday, July 14, 2005
Anak-anak Musibah

Paska Tsunami yang telah mencabik cabik Tanah Rencong setidaknya telah menyisakan tigapuluhlima ribu anak-anak yatim atau yatim piatu, setidaknya. Bocah bocah cilik tak berayah-ibu itu merasakan dinginnya dikegelapan tenda-tenda pengungsian.

Kerinduan dan rasa kehilangan begitu mencekam, rasa takut, bingung, kadang terancam oleh bujukan dan imingan yang mempesona agar mereka pindah dari kampungnya kekota kota besar di Jawa atau lainnya.

Tak pelak imingan paket-paket mainan cantik dikemas menarik terselip mainan aneh berupa lilin atau sabun berbentuk silang atau patung plus bon-bon lolly, secarik kertas tertulis pula pesan, tak terelakkan. Konon nada hymne dan nyanyian yang mereka tidak pernah dengar, diajarkan.

Sepertinya mereka tengah diperkenalkan dengan budaya baru. Anak-anak Tsunami yang polos dan mulus menyambut kedermawanan mereka, tentu saja karena pra Tsunami mereka hidup dalam kondisi intimidasi.

Mereka, bocah bocah kecil yang rentan, tidak saja terancam olah rasa lapar dan seribu satu wabah yang kerap mengintai namun...Tigapululima ribu bocah bocah yang telah yatim pra Tsunami kini yatim piatu karena bunda-bunda mereka terenggut gelombang Tsunami.

Disela sela ketakutan penuh harap mereka masih ingat pada rutinitas yang lalu menyandang tas sekolah bergambar Telly Toby atau Ranger, lalu pulang kerumah dan teriak sambil melepas sepatu..' Mama saya pulang...mamaa !’ Bunda mereka biasanya menyambut.

Kini keduanya tiada...merekapun tak tahu dimana rumah mereka. Tak ada yang tersisa. Kini mereka bersama kerumunan bocah-bocah lainnya yang senasib di tenda-tenda pengungsian, berlantaikan tanah tanpa kasur dan bantal, bajupun didapat dari buntelan goni donasi dari Jawa, dan lainnya, dari mereka yang sudi dan peduli.

Di Lhoong mereka beruntung dipedulikan oleh relawan yang datang dari Jawa, Jakarta, Surabaya bahkan Kalimantan. Relawan itu ingin merengkuh mereka karena tempat tempat mereka nan terisolir rawan adalah tempat incaran dan buruan.

Lalu merekapun disibukkan dengan TPA diwaktu Ashar, lalu dihibur oleh kakak penggembira yang pandai dongeng, sehingga gelegar tawa mereka memecah di masjid menjelang maghrib. Suatu pagi kutemui mereka dikelas sekolah Min Lhoong.

Mereka mengenakan sendal jepit, itupun warnanya berlainan antara kaki kiri dan kanan. Mereka berbaju dengan motif dan ukuran tak karuan, lalu ibu guru memperkenalkan: 'Ibuuuu..ini anak anak Musibah!' Kalau yang berseragam mereka bukan anak musibah! tambahnya. Ohhh..baru kufaham.

Lalu kutanya anak-anak kalau mereka mau seragam baru: 'Mauuuuu...! serempak mereka menjawab.Akhirnya bu guru menyempatkan diri menulis sederetan daftar nama anak anak baik jenis kelamin, kelas atau usia.

Kertas lusuh bergaris sebanyak 4-5 lembar diberikan lalu kumengangguk tanda setuju bahwa kami akan membelikan mereka seragam, lengkap, lalu kami bawa mudik ke ibukota. Kumenoleh pada mereka...alamaak...binar mata mereka memancar, membias, penuh harap kalau mereka akan memiliki seragam baru.

Mereka menyandarkan harapan sehingga judul dan julukan 'anak musibah' itu akan pupus dari pundak dan dada mereka. Sejatinya mereka ingin pula dibelikan sepatu, tapi bagaimana tahu ukuran mereka? Bu guru menyarankan: ' gimana kalau kita ukur kaki mereka pake tali' , ahh aku tergelitik dibuatnya.

Diantara merekapun belum dan atau tak mau mendakwakan dirinya anak yatim; karena mereka masih berharap bahwa bunda atau ayah mereka muncul, suatu hari. Dan bahkan beberapa bu guru masih mengharap ayahnya atau ibunya masih hidup, kendati terbawa oleh gelombang Tsunami.

Siapa tahu mereka masih hidup, begitu harapnya sambil mengusap bulir airmatanya yang sempat terjatuh.Lalu bu guru menyuruh mereka maju kedepan menyampaikan selamat pisah, antri satu satu, lalu kutanya kalau ada pesan: 'Bunda..belikan jilbab dan telekung ya..' pesannya saat mereka menyalamiku.

Mata mereka yang masih sembab, merunduk malu menyampaikan keinginannya sambil tanganku disentuhkan kedahinya. Lalu kuangkat dagunya, kuusap pipinya, aku tahu..dibalik kebeningan matanya ada tersembunyi duka lara tak terperikan - Aiiih aku tak tahan menatapnya. Aimataku kubenam kedalam.

Kepala mereka rata rata ditutup dengan helai kain bernama 'jilbab' tapi ada yang ditutup dengan secarik handuk kecil, tanpa peniti dan tangan kirinya berusaha memegang kedua ujung sang handuk agar tidak terjatuh sementara tangan kanannya merengkuh tanganku.

'Tentu anakku..nanti bunda belikan jilbab dan telekung buat sholat ya'. Mereka mengangguk senang, diiringi senyum menyungging dibibir mereka.Uhh..aku gemes, rasanya pingin bawa salah satu mereka kerumahku, aku ingin menggantikan ummi dan bunda mereka, menggantikan kasih sayang dan cinta mereka yang telah terserap hilang oleh Tsunami.

Atau aku duduk bersama mereka, tembangkan lagu lagu, mendongeng tentang kehidupan Rasul dan para sahabah dan sahabiah, melipur, mengaji Iqro, berShalawat atau bergurau, main game, main boneka atau jadi badut...segudang keinginan dan harapan tersusun. Oh.. tidak aku harus pergi meninggalkan mereka.

Aku harus mengisi pundi pundi, mengisi kotak dana atau ember, kan kuketuk para pemilik piala hati, menebar peduli kesetiap kota, sekolah, kantor, rumah rumah agar mereka bisa lanjut bisa tahan dengan kehidupan yang keras dan beringas...karena kehidupan mereka baru saja dimulai.

Aku tak tahu nasib kedepan mereka? Seringnya Aceh membuatku bingung. Masih sangat mungkin konflik yang terjadi pada masa pra Tsunami akan berulang kembali. Kutahu mereka, anak-anak sudah jera dengan kehidupan lama.

Kehidupan diantara desingan peluru dan dentaman bom, lalu lalangnya pembawa senjata nyandang dibahu, atau antara hardik dan teriakan, penggerebegan sewaktu waktu, gedoran pintu secara tiba tiba, dimalam malam kelam mencekam.

Atau anak-anak musibah menjadi incaran dan lahan dari sebuah agenda yang mode operandinya sama, mulai dari Bosnia, Kosovo, Afghan, Chechya dan Iraq, yang datang untuk dan bekerja untuk dan atas nama 'kemanusiaan'.

Sementara mereka fakir, dhuafa papa penuh intimidasi kiri kanan dan mereka jera jadi fakir. Lalu apa tidak mustahil mereka akan terjerat. Lalu kucermati beda antara anak anak korban konflik di Aceh dengan anak anak korban konflik di timur Indonesia. Kalau kutanya bocah laki laki di Maluku tentang cita cita mereka, jawabnya akan dan selalu sama ' Ingin jadi Tentara atau Brimob'. Kenapa? tanyaku.

'Kita suka seragamnya bunda, gagah, teruuus kita punya senjata jadi saya bisa bela diri, lindungi ibu dan kaka atau adik saya...' Ohhh begitu''Kenapa mereka harus dilindungi? tanyaku lagi...' Karena waktu kami diserang oleh gerombolan bertopeng kita orang tidak ada yang tolong dan bela kita'.

Aku mahfum. Lalu yang perempuan selalunya ingin jadi suster atau dokter. Kenapa? Konon saat attrocity terjadi (dan mereka menyaksikan) 'saya lihat darah dan luka dimana-mana, dikampung kami tidak ada dokter dan suster, sampai darah kami kering atau membusuk, baru datang bantuan' ujarnya.

Bedanya lagi ditimur sana tidak ada agenda imingan dan godaan merubah haluan, impaknya malah terjadi pembatasan teritorial antara dua komunitas. Ada pula dampak tertahannya anak-anak kita dijadikan sandera hingga kini. Kalaulah keluarga mampu, mereka tebus anak-anak mereka kalau tidak mereka berserah diri pada nasib.

Gerangan siapa yang mampu menebus sedikitnya sepuluh juta ? Sedang mereka pengungsi tinggal di rumah rumah barak atau gedung tua lama.Lain di Aceh kala kutanya cita cita mereka? Mereka geleng geleng tak tahu, lalu kumenoleh ke bibi atau neneknya, beliau menjawab: 'Ah ibuuu kita tidak punya cita cita.

Apa itu cita cita...nanti malah kita seteress..ndak bisa sekolah, tidak ada uang tidak ada biaya, bapak mereka hilang tak tahu rimba, kalau kami hidup dah syukur..? 'Ohh begitu ?' aku terhenyak, kutelan liurku pahit sekali. Begitu mereka bersikap. 'Jadi..tidak ada yang mau jadi aparat niih ?' tanyaku.

'Waaah tidak lah bu, kami trauma sama baju baju loreng, kami takut mereka.Demikian sekelompok nasib anak anak Indonesia korban konflik dibarat dan ditimur Indonesia. Yang ditimur mereka kehilangan segalanya, terusir dari kampung halaman dan menjadi pengungsi dinegerinya sendiri.

Sedang anak negeri yang mereka pilih oleh ayah bundanya sebagai wakil rakyat' tak menjamin keamanan mereka, tak mengindahkan nasib malang mereka. Dana RTS dan Tunjangan biaya hiduppun masih tertahan. Padahal undang undang berkewajiban melindungi dan mencerdaskan mereka. Lalu aku berfikir dimana salahnya. Takdirkah , nasibkah, rekayasakah? Kenapa mereka terlahir dalam kondisi seperti ini, kondisi kekerasan, keberingasan, kemiskinan yang tak pernah berujung hingga menyisakan cedera dan trauma pada jiwa-jiwa mereka.

Mereka anak-anak yatim, anak korban konflik, bencana, dhuafa, fakir adalah anak anakmu, anak anak kita dan Allah akan meminta pertanggungan jawabmu, pertanggungan jawab kita semua dihari pembalasan, dihari kita tak akan ada lagi kesempatan untuk berlari dan melarikan diri atau kembali kedunia.

Ya Allah balutilah qalbu qalbu kami akan rasa hiba, pekakan rasa sosial kami, lembutkanlah hati hati kami, terpa-kan nurmu pada dinding hati kami yang mungkin sempat mengkristal...Ya Allah...Ya Rabb lindungi hati ini, jangan biarkan terlarut dalam fatamorgana dunia yang melena’kan. Allahu alam bisawab.

London, 23 Juni 2005al_shahida@yahoo.com


Posted at 02:32 pm by alshahida
Make a comment  

Next Page