alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< July 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Friday, December 09, 2005
Demi Masa...

London beranjak dingin, bahkan tambah dingin, mengiris ari  sampai menggigit. Bumi terasa lembab dan nampak sembab. Hari hari yang nampak adalah layar pekat pada langit mewarnakan kelabu merunduk sendu hingga kita tak bisa membedakan antara pagi, siang atau senja. Begitu singkatnya waktu.
 
 
Tidak saja sang awan pekat kelabu, titik derai hujan mendenting ruas jalanan. Membasuh semua juraian reranting dan cabang pepohonan coklat kelam, kendati beberapa dedaunan masih ada yang menggelayut, berwarna jingga, tersisa, semuanya bersimbah tak terkecuali, seakan berbias pada atmosfir raya tentang kesenduan dan kerinduan. .
 
 
Sementara dedaunan yang tertimbun dipinggir jalanan habis tergilas terabaikan, tak ubahnya bagai nasib hambaMuRabb entah mereka yang berada dinegara-negara Balkan hingga di Asia tengah sana, negeri-negeri berujung kata tan seperti Uzbeskistan dan semisalnya,  dari Maroko hingga Marauke yang tengah dan telah tercampakan, yang terinjak izzahnya, mereka terlantar , seakan kita semua tengah menjalani hukuman dari sang  Maha Penguasa.
 
 
Kesenduan itu merasuk pada relung hati kami akan nasib saudara kita yang teraniaya, yang rentan nasibnya  karena kesaksian mereka akan syahadat dan mereflesikannya dalam kesaharian akan sendi dan pada rukun iman mereka.  Seutuhnya sebagai ikrar mereka kepda Rasul dan Tuhannya. Salah kiranya.
 

Sungguh paradoks bila ladang keji penuh nista dan fitnah, prejudis terjadi ditanah airnya sendiri.  Mendamba kedamaian bagai mimpi, kerinduan akan keadilan  tak kunjung datang, para algojo melenggang tanpa peradilan hingga menyisakan ribuan janda dan jutaan yatim terbaluti  trauma dendam dibalik gunung sana atau ribuan lelaki yang tlah menyia nyiakan waktuny, pasrah menanti ibalik jeruji besi. Mereka semua adalah korban keserakahan wahn dan idiologi belaka.
 
 
***
 
Bersegeralah lengser dan meloroh hai daun-daun kecoklatan yang renta, yang masih tersisa menggelantung dipohonmu hingga sang pokok bisa res dan tidur lelap, setenang jiw jiwa yang mutamainnah merindukan Rasul dan Tuhannya..  
 
Lalu esoknya siap menumbuhkan reranting, tunas dan kuncup-kuncup baru. Hingga semburai rimbun daun anyar kan  menggeliat diri untuk musim semi mendatang.
 
Kalau aku jadi pohon ku akan memilih jadi pohon cemara karena  hanya tonggak cemara dan pinus yang terlihat paling gagah dan tegar, seolah acuh biarkan alam datang berganti, sekalipun badai mengoyak raya....hmmm.. mereka tetap setia untuk tetap menjadi hijau, demi sebuah keindahan Jagat Raya.
 
 
Atau aku ingin seperti pohon Kurma, daunnya seolah tidak pernah  gugur oleh musim,  pokoknya yang kokoh dan tangguh, tahan terpa'an angin padang Sahara, sedang pelepahnya yang berlapis tak kan habis oleh masa.
 
 
Buahnya bermanfaat lezat dan memberi enerji penuh baroqah bahkan menjadi  peri, analogi dihikayat dan sirah Rasulullah.
 
 
Durinya yang tajam adalah pusat ketegasan sikap terhadap prinsip Tauhid dan ketidak adilan, sikap penentang perintah Allah.
 
 
Wahai Sang Maha Indah, bila boleh ku merajuk..ingin ku seperti Cemara dan atau setangguh pohon Kurma yang banyak memberi manfa'at jariah.
 
Ohh... alam engkau tlah mewakili rasa seolah engkau sebuah refleksi diri. Lagi lagi engkau telah membuatku jadi lebih metaforis, lagi lagi ya Rabb aku bercumbu dengan alam ciptaanMu, lagi lagi aku banyak mendesah dan berkeluh.

Fenomena Esok
Hari esok itu kunanti dan senatiasa kunanti, gilirannya  esok tiba ternyata tidak pernah ada. Pada esok harinya kuberharap lagi bahwa ada hari esok dan esok lainnya, ternyata harap itu kandas dan esok itu tidak pernah kunjung tiba. Sedang setiap kita merancang hari esok dan berharap hari esok lebih baik dari hari ini.  Adakah sesungguhnya hari esok itu ya Pemilik Waktu ?.
 

Tapi fahamilah ya Rabb jika aku datang bertanya dengan fenomena waktuMu karena waktu itu teramat cepat berlalu, terbang melanglang ke cakrawala, waktu tidak pernah diam statis...kami tak mampu berpacu namun sebaliknya kau mendominasi kehidupan kami.

 
Kalau saja bisa kuhentikan jam ini tanpa tiktoknya detik, menit, jam, hari, pekan dan bulan...kalau saja kumampu kuputar balik sang beker, katakanlah lima tahun kebelakang,  tentu  kan kukejar, kuburu...semua ketertinggalan, kekurangan dan kemubadziran. Mustahil bukan  ???
 
Demi masa...
Sesungguhnya aku, kita manusia itu benar benar berada dalam kerugian.
 
London, 8 Desember 2005
 
pendamba keadilan

Posted at 08:13 am by alshahida
Make a comment  

Next Page