alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< July 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Wednesday, December 28, 2005
J A N J I

 

London, 20 Desember 2005
 
Oleh : AlShahida
 
 
Selasa  pagi telefon berdering. Seperti biasa hati penuh tanda tanya siapa gerangan. Tak tahunya Amina, wanita lajang asal India. Aku terkejut.('Hmm tiba tiba dia menelfon' aku bergumam) kusambut hangat tentu. Ahh belum apa-apa dia minta maaf atas ulahnya sendiri.
 
 
" Ma'af sis ...saya janji mau nelefon, saya janji mau ketemuan, bikin report, janji mau bantu kamu..saya janji ini itu dan tapi bla, bla, bla", ujarnya. Aku terima dan kumahfumi dengan sebelas alasannya. Sekarang sudah kujadikan hal yang biasa sejak aku banyak membaur dengan  yang multi bangsa, terutama Asia. Hal ini tidak begitu dengan temanku yang bule-bule, aku mencibir..ah tipikal. Kita bincang macam-macam. Kumahfumi dan kumaafkan dia...eeh diakhir percakapan dia berani-beraninya bikin janji lagi.
 
 
Pagi itu dia menawarkan meja untuk jualan, ada Bazaar hari Sabtu depan. Mereka sedang mencari dana untuk bantu para keluarga yang ditinggal atas fitnah paska sebelas september duaribu satu. Yang jelas para suami atau anak lelaki dari beberapa keluarga menghilang tanpa juntrungan bagaimana dan dimana mereka. Belakngan ketahuan bahwa mereka berada di Guantamana. Seorang dokter mengkoordinir event ini. Kasihan nasib mereka. 
 
 
" Sis I cannot spend the time with you all day but I will contribute food like fry noodle,  enough for 70-100 portion, is that ok? " tanyaku, dan aku tahu orang Asia sangat menyukai mie goreng ala Indonesia, karena dijamin halal,  dia tersipu malu untuk menolak, entah kenapa.
 
 
Aku cuma ingin tunjukan dan memberi sebuah pembelajaran walau aku, dikecewakan,  kita tak kenal balas dendam, sebaliknya tetap saling suport dan bantu dan ingin kubuktikan janjiku yang real, being reliable person, bukan sekedar basa-basi.
 
 
 
Amina, pernah mengajakku ke Palestina pada musim semi, tahun lalu, satu dan lain hal, trip itu tak terjadi, aku malah membelot ke Popilo dan Ambon. Amina tetap kesana bersama  groupnya. Autumn 2004 aku melihat wajahnya di TV tengah diwawancarai, nasib na'as menimpa Amina dan groupnya. Sempat dicurigai lalu diinterogasi dan ditahan beberapa hari dan dipulangkan ke Inggris. Tuduhannya bahwa mereka punya misi ganda, mereka dilepas karena tak ada bukti. Sejak itu dia tak boleh balik ke Palestina. Dicekal. Amina kesal tapi tetap tawakal.
 
 
 
Juni lalu, masih tahun ini, nuraninya terpanggil untuk menjenguk korban musibah Tsunami. Kita kirim untuk menjenguk anak anak di Aceh. Bersama Sofia  yang guru bahasa Inggris, adiknya Riswan yang freelance jounalist kesana. Dia jatuh hati. Terpaut hatinya dengan anak anak yatim di Lhoong. Itulah awalnya ia berjanji. Nuraninya sangat peka terhadap orang orang yang terdzalimi. Maklum dia seorang lawyer, pendamba keadilan seperti  kita semua..
 
---
 
Pagi itu sambil bolak balik baca newsletter yang ditunggu di komputer, aku siap mengayuh untuk memenuhi janjiku. Sabtu siang, kubawalah satu box besar berisi mie goreng. Dijalan kuhanya mampu krusing antara Bromley dan Tooting. Trafik begitu padatnya. Krusial memang, karena Sabtu kemarin  adalah Sabtu terakhir untuk para konsumen, belanjda untuk menuh-menuhi  'Christmas stocking mereka'. Aku merasa kasihan atas pressure dan tekanan bathin para pembelanja...
 
 
 
Setiap aku berpapasan dengan  penjalan kaki, para shoppers (konsumen) tak ada pemandangan lain yang kulihat, kecuali wajah wajah yang seteres, tertekan oleh  gejolak hatinya sendiri yang bernama nafs. Ditangannya ada  daftar belanjaan, shopping list, panjang sekali, nampak bingung, sementara kiri kanan tangannya juga bergelayutan 'shopping bags, mungkin ada 6/7 kantong. Demam natal betul betul tengah mewabah dengan dahsyatnya.
 
 
 
Kalau dinegeriku para dhuafa, fakir bingung dengan apa yang akan dimakan esok, bingung dengan janji para pejabat yang melanggar janjinya, mereka disini bingung dengan hadiah apa yang akan mereka beli untuk menyenangkan sanak dan sahabat.  Sebetulnya mereka tidak perlu, namun mereka tengah menjadi korban globalisasi. Natalan melulu dan sangat dan sangat komersiil, kata mereka yang anti natalan.
 
 
 
Mereka berjanji untuk bikin 'surpise' baik anak, keluarga, mertua dan sahabat. Sementara setiap anak disuruhnya berjanji untuk  berkelakuan baik agar Santa memenuhi permintaanya, katanya. Sungguh paradoks dan tragis. Aku tak tahu apa yang mereka cari?? Ohhya aku sempat menyaksikan 4 polisi tengah menangkap seorang lelaki, dipersimpangan, entah apa salahnya, bisa jadi mencuri atau berlebihan mengkonsumsi alkohol...'its chrismast' ahh lucu, seolah dengan  natalan itu semua bisa jadi benar, dan dibenarkan bersukaria dan menjustifikasi, aku terus melaju mengayuh bemoku.
 
---
 
 
Tiba ditempat tujuan, huuh..tak ada tempat parkir, penuh. Kunyalakan lampu hazard, kubergegas dan kutarik sang box, setengah berlari lalu kuserahkan pada 3 akhwat yang tengah berdiri dipintu.
 
 
" Sis tolong, tolong deh titip ini untuk Amina", aku balik lagi, kuparkir mobilku. Agak jauh kedalam, kudapat  tempat parkir..aah tidak gratis, duapulu ribu sejam (1.20)tak ada pilihan daripada aku kena denda  tujuhratus ribu rupiah (40).' lalu kumasuk kedalam...subhanllah hangat sekali didalam, tiba tiba...
 
 
" Ohhh...sistaaa..!" seseorang memelukku dipintu masuk.
 
 
" How nice to see you!" Hanna, juga gadis lajang asal, sama asal India, sang councelor yang juga sempat ke Aceh, terkejut melihatku ada disitu. Dipeluknya lagi, lebih erat dengan binaran mata yang penuh rasa berdosa...kukira, lalu dipandangnya aku.
 
 
" Siiiiiisss... I am sorry.. I know I broke my promise, I never rang you nor helped you..so sorry sis...pleeease" panjang sekali merepet bak petasan hingga aku tak diberi kesempatan untuk menjawabnya. Aku senyum dan senyum sambil,
 
 
" Shuush shussh ....aku mengerti sis, kau sibuk, kau pekerja full timer dan entah apa lagi..." belum selesai dipeluknya lagi aku. Lalu dia tanya kondisi terakhir dari charity organisasi yang tengah Senin Kamis. Dia lebih merasa berdosa sendiri, kentara dari binar matanya Kumaafkan juga yang ini,  lebih lucunya lagi diakhir percakapan itu, dia berjanji lagi. Bahkan  dia meyakinkan aku yang hampir bersumpah pula.
 
 
"Betul sis akhir Desember ini aku selesai mentraining orang..bener niih!", lalu kukenalkan juga pada Soraya yang mejanya berseberangan, ukhti asal Pakistan, mereka senang dipertemukan.
 
 
"What a small world!"  ujar mereka, kelihatannya merekapun berjanji untuk ketemuan, setidaknya mereka sudah saling kusambungkan. Aku pamit...dengan seabreg abreg janji untuk  ketemuan lagi dan bekerja sama. Kita lihat nanti.
 
---
 
Sambil kunyalakan mesin sang mobil, kubaca sang peta, kuhitung dan kuperkirakan kira kira berapa lama tiba di Norbury, tujuan kedua untuk jumpa konsulatanku untuk mengambil dokumen. Sambil aku berfikir dan dapat simpulan tentang manusia dan janjinya.
 
 
Setidaknya hari ini kudapat pengakuan dan permintaan maaf dari mereka yang selama ini berjanji dan memberi harapan. Aku memang sempat kesal dan rasa rasanya sesak dada, karena banyak kerja kerja terbengkalai akibat janji janji ini, tidak saja dari mereka berdua. Benakku banyak bertanya dan tidak paham, sungguh?  Tercuat rasa se-udzonku, inikah karakter orang Asia,  Muslim Asia, atau Muslim atau memang sifat manusia pada umumnya ???
 
 
Kita memang sering berjanji tanpa berfikir sebelas kali, tanpa mengukur kemampuan diri. Janji sering  diucapkan begitu saja dengan mudahnya, diobral dengan murahnya sedang pelaksanaanya?. Ada yang lebih parah lagi begitu seseorang membuat janji cenderung untuk dilanggarnya atau membuat alasan untuk menunda dan mengkanselnya dengan berbagai alasan. Sekali, dua kali dan yang terakhir kita bisa ambil kesimpulan siapa dia.
 
 
Yang kulihat sendiri dan aku yakin karena setiap  kita memiliki nurani atau qalbu, berada dibalik rongga, entah dimana pastinya atau mungkin abstrak, yang somehow ia suka akan kejujuran, cinta kebenaran dan manakala  sipemilik tak mempu melakukannya dia akan  merasakan siksaan atau terdzalimi oleh dirinya sendiri. Kadang akupun mengalami namun kuupayakan untuk tidak membuat kecewa, kuupayakan untuk memerangi nafs yang ingin mengingkari janji yang pada akhirnya diri sendiri lah yang merasakan deritanya
 
---
 
Saat kujalani trip ke daerah zona konflik..kudengar cerita para relawan di lapangan atau para pengungsi betapa orang-orang yang datang juga menghambur janjinya, tidak itu saja mereka malah datang hanya untuk mengambil data, kronologi, cerita, pasang spanduk, lalu di foto dan tidak pernah kembali.
 
 
Tak habis dan putusnya kalau kita membahas masalah janji untuk sementara ada:
 
"Salah satunya yang paling utama adalah mereka yang memelihara amanat dan janji yang pernah diucapkannya.  elah Beruntunglah orang-orang beriman, yaitu yang . dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya. (QS Al-Mu'minun: 1-)
 
Allahu alam bisawab..insya Allah bersambung.
 
 
 



 


Posted at 03:37 am by alshahida
Make a comment  

Next Page