alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< July 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Thursday, December 15, 2005
Fauzan

 
 
Fauzan, bukan nama yang sebenarnya. Fauzan adalah  nama yang dihadiahkan oleh masyarakat ketika ia diketemukan dari persembunyiannya. Kini usianya kurang lebih  8 tahun, kelas 4 SD tinggal disalah satu desa di pulau Seram, Ambon. Ia yatim dan piatu, betul betul sendiri,  kakak dan adik telah tiada, begitu pula Ummi dan Abi.
 
 
Tahun sembilan puluh sembilan silam...syahdan konflik antara dua komunitas telah terjadi, tak terelakan. Hal ini terjadi justru pada saat salah satu komunitas tengah menikmati hari kemenangan, hari dimana kefitrian itu teraih, saling berma'afan antar sesama, dosa-dosa nista telah lebar...setelah:
 
Mereka lalui hari hari panas dan terik,  mereka lewati rasa dahaga penuh penantian hingga dipenghujung hari. Dua belas jam menjalani shaum rasanya cukup lama, rasa dihaidrasi sering mencekak tenggorkan, namun mereka nanti dengan sabar hingga semburat jingga tampak diufuk barat, terjatuh dipantai Ambon. Pedagang ikan atau pekerja perahu spit di pasar Batumerah selalu menyaksikan tenggelamnya sang mentari.
 
Bocah bocah berlarian kerumah mengejar ifthar, kala bang azan mengumandang. Usai itu mereka mencoret penanggalan, lalu dihitung telah berapa hari berpuasa hingga tiba dipenghujung bulan.
 
 
Malam Takbir dan Lebaran Eid
Gaung Takbir tak hentinya menggema dari maghrib hingga dini hari, bedukpun tak henti ditabuh. Bergantian. Petasan? Ahhh dicipta sekedar untuk menambah semarak, kendati mubadzir tapi kini jadi sebuah budaya. 
 
Kala subuh tiba mereka menyiapkan diri untuk ke masjid. Yang lelaki ikut abi atau papa, yang perempuan ikut bunda, umi, mami, oma-opa, paman dan bibi, semua menuju masjid. Tak mengapa jauh asalkan mereka bisa sholat Eid, karena sholat Eid cuma sekali dalam setahun yang punya warna dan makna tersendiri.
 
 
Sholatpun menjelang, seseorang mengingatkan untuk merapat dan meluruskan shaaf.  Sholat dimulai  dengan tujuh Takbir, usai, lalu berdoa minta keselamatan, kemudian disambung dengan khotbah hingga selesai. Tak lama sang kotak sumbangan beredar, terdengar gemericik suara uang logam lalu diakhiri dengan pengumuman tentang zakat fitrah. 
 
Rasa bingah dan bagia memenuhi dada  setiap jamaah, senyum lepas itu menyungging dibibir mereka. Dihari yang fitri itu terasa keakraban sesama, terungkapkan, mereka saling jabat tangan berma'afan, saling hampura, seakan semua dendam kesumat luluh melebur, lalu pulanglah kerumah masing masing.
 
Hari itu setiap jama'ah merasakan sesuatu yang agak  lain kala mereka keluar dari masjid, banyak kerumunan diluar masjid, karena kita Muslim kita tidak boleh berprasangka buruk.
 
Dirumah penganan telah tersedia dari makanan tradisi yang dimasak cuma setahun sekali, lontong, ketupat dan lemang beserta rendang, ayam rica-rica, opor ayam, begitu juga kue kue lebaran, semua tersedia dimeja.
 
Berdatanganlah sanak, kerabat, besan, jiran silih berganti, tak kenal ras, warna dan agama,  mengucapkan selamat Lebaran. Mereka duduk menyantap penganan khas Lebaran, bahkan hari itu para jiran mengingatkan, agar;
 
" Ibuu..masak yang banyak ya kita orang datang besok tokh? " Ibu yang ingin menyenangkan sang tetangga balik lagi kepasar membeli beberapa ekor ayam, dilebihkan karena sang tetangga akan ikut merayakan. Hal ini telah berlaku hampir puluhan tahun, kata mereka. Kami sama sama merayakan kedua hari raya kami, tambahnya. 
 
***
 
"Ini tradisi Agama tua kami "ujar para Oma dan Opa, maksudnya berbuat baik kepada tetangga, mengundang dan saling menolong, rukun walau berbeda agama. Tradisi ini telah berjalan begitu lama, diperkuat dengan budaya Pelagadong pula.
 
Agama tua disini maksudnya adalah agama Islam. Konon 'agama tua ' ini yang datang lebih dahulu dibanding agama lain, cerita dan legenda ini sampai dari mulut kemulut dana nama tersebut masih dikenal hingga kegenerasi terakhir.
 
 
Mungkin ketawadhu-an serta keluguan-lah yang telah membuat semuanya terjadi. Tidak ngeh. Nuansa yang meresahkan, keganjilan sebetulnya sudah dirasakan, namun mereka berharap tidak ada apa apa.
 
 
Selentingan mereka mendengar kabar bahwa mereka akan kedatangan Tuhan Yesus di Gudangarang, lalu mereka berkumpul di Gudangarang. Pada hari mereka berkumpul  tahu-tahu Yesus tidak datang, merekapun pulang dan berita ini diulang ulang. Belakangan baru disadari seakan itu sebuah 'latihan' untuk berkumpul, entahlah.
 
Yang jelas puncaknya terjadi disaat mereka merayakan Hari Besar yang Fitri, serasa dicampa'kan, dikhianati bahkan setelah tetangga sebelah habis melahap penganan yang disediakan. Demikian tragedi kemanusiaan yang tak terjangkau oleh bayangan anak manusia itu terjadi. Ambon bersimbah darah, Ambon tidak lagi manise tapi malah jadi beringas menakutkan.
 
 
***
 
 
Perseteruan itu terjadi dengan sengitnya, hal ini berlangsung berbulan bulan hingga mencapai pada puncaknya. Kerusuhan itu telah banyak menyita nyawa kedua belah pihak. Mereka yang biasa tinggal saling  bersebalahan, salah satu mereka harus melakukan eksodus. Sama sama terusir dan sama sama tak punya pilihan untuk tinggal bersama seperti dulu.
 
 
Semua bangunan milik mereka habis dan rata dengan tanah, atau dibakar, atau kolaps oleh letusan bom malotof, sementara tulisan grafiti yang menghujjah terbaca dimana mana, sungguh tidak paham dan tak bisa diterima semua ini.
 
 
Mereka yang biasa tinggal dibukit-bukit terpaksa mengungsi kebawah, ke mesjid atau kegedung THR, gudang-gudang, ruko, digudang-gudang dipelabuhan Yos Sudarso, di Silale atau ketempat tempat yang mereka fikir aman dan terlindungi. Begitu pula mereka yang terbiasa tinggal dipusat jantung Ambon terpaksa pula mengungsi keatas bukit, gabung dengan komunitas sesamanya. Kerukunan berubah menjadi kebencian, gotong royong menjadi buyar, toleransi itu dinodai, sudah tak bisa lagi ditolerir, semua berujung pada permusuhan.
 
 
Tim Evakuasi
Pada saat kedua belah pihak menyadari bahwa  kontak fisik tak bisa lagi dihindari, keduanya harus saling hengkang dan mencari tempat aman, saat dimana tim Posko merasa berkewajiban untuk melakukan evakuasi ke kampung kampung  dimana warga Muslim dulunya tinggal.
 
Maka berangkatlah mereka ketempat tempat, kerumah rumah untuk melakukan evakuasi,  mencari barangkali masih ada yang perlu direscue,  sampai akhirnya mereka tiba didesa Kudamati.
 
Suasana ditempat itu sungguh mencekam, tak ubahnya  bagai memasuki kota yang kalah perang. Aroma kayu-kayu terbakar masih mengudara, begitu pula bau anyir darah cukup menyengat hidung, mereka terpaksa jalan jingjit diantara puing puing dan reruntuhan rumah rumah karena banyak benda tanjam dan paku bertebar.  Saat mereka didalam rumah, mereka meniliti kesetiap bilik, ruang makan, dapur, kamar mandi hingga kamar tidur, disetiap lemari pakaian hingga tak ada yang luput satupun.
 
Begitu teliti sampai merekapun memeriksa kolong tempat tidur atau sudut dan belakang lemari yang memungkinkan orang bersembunyi.  Saat mereka berjongkok kesebuah kolong tempat tidur,  tiba tiba mereka melihat sepasang kaki anak kecil, ia teriak.
 
 
"Heii...ini ada anak kecil dikolong tempat tidur...!" teriaknya lalu beberapa temannya mendekat dan ikutan tengkurap pula.
 
Sipemilik kaki malah maju lebih dalam. Mereka saling memandang terkejut. Lalu mereka berusaha untuk mengambil anak itu dari persembunyiannya.  Si anak tak bergeming sedikitpun, wajahnya malah disembunyikan, sepertinya dia dalam keadaan ketakutan.
 
 
" Sini naak....sini sayang, ini Oom", ujar salah seorang membujuknya.
 
Diam dan hening. Tak bereaksi, saat salah seorang  menyorotnya dengan lampu senter wajahnya malah   disembunyikan, telungkup kelantai. Rombongan kehabisan akal untuk menjemput sianak, upaya apalagi yang hendak mereka buat.
 
Kalau karena tidak si anak ini.. huh rasanya ingin segera angkat kaki dari desa Kudamati, sangat mencekam, untung mereka bawa aparat, mengawal. Mereka tak bisa pergi tanpak mambawa ini anak. Malam menjelang , harapanpun putus, tak ada pilihan kecuali mereka terpaksa minap sambil menunggu sianak keluar. 
 
 
 
Esoknya
Hal ini berlangsung hingga esoknya dan bahkan hingga siang hari. Berbagai cara dan upaya, tetap saja sang anak tidak mau keluar, tetap sembunyi, sampai akhirnya mereka memutuskan sesuatu. 
 
Setelah sholat dhuhur selesai rombongan duduk lesehan dilantai, salah satu mereka mengumandangkan azan lalu disambung dengan mengaji Al-Quran. Dimulai dengan surat Al-fatihah lalu disambung dengan beberapa surat, mereka lakukan bersama.... Sekonyong konyong tubuh mungil bergerak dari tempat persembunyiannya, lalu dia keluar dan tanpa susah payah dia mendekati rombongan dan menyerahkan diri minta digendong.
 
"Allahu Akbar!' serentak mereka  memekik dan direngkulah si anak lalu dipeluknya.
 
"Ya Allah anakku...Allahu Akbar" yang lainpun memekik takbir, penuh haru. Semua ingin menggendong si anak.
 
"Heii siapa namamu nak.. siapa ?" dia cuma menggeleng geleng kepala, giginya gemeretuk, nampak ketakutan. Dia bisu, seakan lidahnya kelu. Anehnya dia tidak menangis.
 
 
" Hei kamu kenapa sembunyi dikolong tempat tidur? tanya salah satu mereka.
 
"Takut..takut  oom "sang anak gemetaran menggigil.
 
"Mana Papa kamu atau Mama?" mereka tak sabar bertanya.
 
"Mama..maa..matii.. dibunuh..!" lalu dia menyusupkan wajahnya ditengkuk.
 
"Ya Allah.." teriaknya. Si anak dipeluk makin erat.
 
Mereka bersegera meninggalkan desa Kudamati langsung menuju Posko. Ramai sekali di Posko oleh kerumunan orang. Ya petugas, aparat, relawan juga pengungsi dengan berbagai kondisi. Lebih ramai ketika rombongan ini datang menggendong anak kecil. Semua ingin melihat.
 
 
Keadaan kian ramai saat si anak tak mampu menyebutkan  namanya sendiri dan tak satupun yang mengenal si anak. Siapapun yang  mendengar berita tentang diketemukan anak ini merasa hiba. Berita inipun menyebar, cepat sekali, gejolak emosi saat itu sukar dikendalikan.
 
 
Berita ini sampai ketelinga kak Ifa, dia bersegera ke Posko. Ketika tiba di Posko kak Ifa langsung mendekati si anak lalu dipangkunya, maklum beliau seorang guru beliau tahu bagaimana menghandel anak-anak. Diajaknya bicara pelan, namun sukar sekali menangkap pandang sianak, dia selalu membuang wajahnya. Ternyata anak ini mengalami trauma yang sangat, sangat berat.
 
 
Kak Ifah terus berupaya mencari tahu nama si anak, sedang dia tetap bungkam atau geleng-gelang kepala, tak juga ingat nama ayah dan bundanya. Akhirnya kak Ifa beserta tim dan orang orang yang ada disekitar itu memutuskan untuk menghadiahi sebuah nama:
 
"Gimana kalau kita kasih nama Fauzan?" saran kak Ifa.
 
"Ah bagus betul itu nama..bolehlah" ujar Hakim.
 
"Namamu Fauzan ya hei anak manise..' kelakar salah seorang mereka, si anak mengangguk, tidak menolak bahkan mulai senyum, dibalik matanya yang cekung.
 
Fauzan!? Nama ini ramai ramai disepakati. Fauzanlah namanya. Akhirnya kak Ifa memutuskan untuk membawanya kerumah agar ibunya bisa memelihara dan menjaganya.
 
 
Trauma Counceling
Melihat kondisi Fauzan kak Ifa bersama teman lainnya bermaksud membawa Fauzan pergi ke counseling center di kantor Gubernuran. Kak Ifa duduk menghadap para  councelor sambil memangku Fauzan.  Mereka adalah dari Unisef, tim 'counceling treatment'. Kepala Tim yang diutus kebetulan orang India dan tentu saja mereka adalah tim yang terdiri dari orang orang netral, datang untuk memberikan terapi penderita trauma utamanya anak anak dan wanita korban konflik, karena mereka paling rentan disetiap konflik atau perang.
 
Diruang itu nampak ada beberapa meja, kursi dan diatas meja ada tumpukan kertas gambar,  nampak pula tempat pensil besar berisikan  berbagai pensil berwarna dan crayon. Dimeja lain ada beberapa anak tengah menggambar beserta pengasuhnya, sedang disudut lain ada kelompok yang sedang diinterview.
 
Kak Ifa memberi keterangan dan melaporkan kepada petugas apa yang dialami si anak, sambil sesekali  mengusap kepala Fauzan. Si petugas mencatat semua ditels Fauzan.Kak Ifa mengambil kertas lalu menyuruh Fauzan menggambar. 
 
 
Fauzan tetap duduk dipangkuan kak Ifa. Fauzan ragu dan takut, kak Ifa membujuknya dengan lembut. Akhirnya ia mau menggambar, bahkan ia memilih sendiri pensil berwarna. Kak membiarkannya dan mengikuti alur fikir si anak sambil juga kak Ifa bicara terus dengan petugas.  Mata tak lepas dari tangannya Fauzan, penasaran, apa gerangan yang keluar dari benak Fauzan. Ia menengok kearah kak Ifa, seakan mengatkan 'ini gambarku!'. Kak Ifa melihatnya lalu ia mulai bertanya kepada Fauzan. Saat itu ketua Tim yang India tepat berada bersamanya.
 
"Gambar apa ini dan ini siapa Fauzan...? tanyanya.
 
"Ini Mama.... ini papa...". Kak Ifa merasakan gerakan kaki dan badannya Fauzan, ia sangat nervous, groggy.  Kak Ifa merasakan bahasa tubuh Fauzan dan ia berusaha menahan gejolak perasaannya.
 
 
Fauzan menggambar dua orang tengah terkapar ditanah,  dengan tangan terbuka, digambar itu ada gambar dua rumah dengan kepulan asap diatasnya. Atas pesan councepor si penerjemah meminta kepada kak Ifa untuk bertanya lagi.
 
" Lalu ini siapa Fauzan? " tanya kaka Ifa.
 
" Ini Obet..Obet bunuh papa ama  mama" Fauzan menjawab dengan telunjuknya diarahkan kegambar, jujur dan lantang Fauzan menjawab, lalu dia memeluk kak Ifa, ketakutan, kak Ifa segera mendekapnya rapat.
 
 
Kak Ifah sangat terkejut mendengar ini, ia segera mendekap Fauzan sambil dielusnya. Semua diluar dugaan kalau Fauzan akan bicara begitu lugu, apa adanya. Kak Ifa merasa tidak  enak karena kebetulan yang mendampingi sang councelor merangkap penerjemah adalah beragama Nasrani.
 
Sang boss dari Unisef mencermati gambar Fauzan yang memang luar biasa. Dia menggambar seseorang sedang berdiri dengan senapan, sedang ditanah nampak beberapa orang tengah tergeletak, gambar itu dilengkapi pula dengan rumah-rumah yang berasap. Pengarahan ia berikan ke kak Ifa dan teman-teman bagaimana mengatasi anak anak yang trauma, kak Ifa meng-iyakan dan akhirnya kak Ifa pulang mambawa Fauzan dan lainnya.
 
***
 
Selang beberapa lama ternyata Fauzan masih memiliki sanak keluarga, mereka tinggal di pulau Seram. Saatnya tiba sang paman datang sendirian menjenguk Fauzan. Reaksi Fauzan sangat mengejutkan, ia tidak ramah. Ada rasa ketakutan dan sukar diajak bicara, bahkan wajahnya dibuang dan tidak peduli. Fauzan mengalami trauma tidak percaya pada lelaki dewasa, apalagi yang asing. Menurut dia si paman orang asing, tidak dipercaya.
 
 
Hal ini memakan waktu cukup lama dan dengan seringnya sang paman dan bibi datang menjenguk akhirnya Fauzan  menerima keberadaan mereka.
 
***
 
"Fauzan sayang...ketahuilah engkau tidak sendiri didunia ini, percayalah kau telah mendapat tempat yang sangat spesial disisi Allah dan Rasulullah saw. Sayang bunda tak sempat mendekapmu, bunda tak sempat bertatap muka denganmu" itulah yang terucap dari nuraniku yang paling dalam.
 
Kuakhiri tulisan ini dengan buliran air mata, menangisi nasib Fauzan yang sendiri tanpa ayah dan ibu atau abang adik, semuanya terenggut.
 
 
Karena jarak yang jauh Fauzan tidak masuk dalam daftar  untuk menerima santunan. Kuyakin Fauzan dan walinya sempat menikmati serpihan sadaqah dari kami entah itu berupa ifthar, daging qurban atau lainnya.
 
Pembaca yang dirakhmati Allah, ini cuma salah satu kisah dari sekian ratusan kisah dan cerita anak korban konflik di jazirah Maluku. Yang belum terangkat masah terlalu banyak, sedang ratusan Fauzan masih bertebar di dibalik-balik bukit, terlantar bahkan yang masih di sandera dibalik belantara desa dan pulau, mereka telah terpisahkan dari abang adiknya, mereka rentan, sebagai korban keserakahan para pencinta duniya yang semu dan menipu. Mereka menanti empati anda. 
 
" Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kami berlaku sewenang wenang." (Adh-Ddhuha:9)
 
 
London, 15 Desember 2005
 

Posted at 03:17 pm by alshahida
Make a comment  

Next Page