alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< July 2005 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Friday, October 28, 2005
Kerinduan Dibulan Ramadhan

 
 
 "Jamila, temukan kami dengan anak anak dan makan bersama, mungkinkah?' pesan ini kami sampaikan lewat sms.
 
"Bisa bunda, kami siap !" begitu jawab Jamila dengan sigapnya menjelang kedatangan kami ke Ternate, ibukota Maluku Utara.
 
Jam empat pagi sekali aku diantar oleh iparku ke Bandara Cengkareng. Menurut jadwal pesawat berangkat jam 6 pagi. Tidak terlalu banyak yang kami bawa kecuali ektra tiga kardoos berisi mainan bekas serta buku buku bahasa Inggris berwarna.  
 
Pesawat Merpati siap melepas landasan dan dengan gagahnya terbang menerawang, tinggi...tinggi sekali ke angkasa hingga moncong dan sayapnya menerobos gumpalan awan, awan putih, awan kelabu - kadang bening dan tipis transparan menyelimuti sang pesawat. Sesekali kami merasakan tarbulans jika gumpalan awan begitu tebal...dengan serta merta suara ding dong untuk segera mengenakan sabuk pengaman..seolah kami tengah melewati polisi tidur
yang tengah melintang dijalanan darat atau jalanan yang penuh lubang.
 
Dan seterusnya hingga hingga kota Ujung Pandang kami singgahi untuk transit. Cuma setengah jam, lalu balik ke pesawat untuk melanjutkan perjalanan ke Ternate. Jam 12 siang tepat pesawatpun menyentuh dermaga bandara Ternate. 

Raung mesin memecah kesunyian  bandara Ternate, kota kecil dipesisir yang terletak dikaki bukit gunung Gamalama, bersebrangan dengan pulau Tidore dan Halmahera yang  telah menyisakan sebuah goresan kelam hitam bagi anak manusia.

Aku menarik napas dalam. Dibalik jendela sempat kusaksikan birunya sang langit, biru dan jernih.  Pemandangan yang hampir tak kudapat di ibukota, begitu bening hingga sinar mentari yang menyirami dedaunan memantul, berkilat. Sepertinya pepohonan kelapa yang berjejer dan warna warni bunga kertas Bogenville diatas bukit menyambut kedatangan kami..'Selamat Datang kembali di Ternate Teteh...ahlan wa sahlaan ya ukhteee.!
 

Kami berdiri, kliks... pintu cabin kubuka untuk mengambil semua perlengkapan dari camera manual Canon, laptop, kursi lipat portable kecil  serta tas,  siap kami tengteng. Pintu pesawat terbuka, kami hirup udara Ternate yang berbaur dengan hembusan udara laut. Kami turuni sang tangga pertama ..uuuh terasa sengatan panas menggigit kulit, akhirnya dermaga aspal kami sentuh, sang bis siap mengangkut kami keatas.....
 
Kami tiba diruang pengambilan bagasi. Cukup lama karena sang bagasi diangkut oleh Kijang bak. Aku mengintip dari balik jendela..nampak seraut wajah lembut terbalut jilbab coklat tua, menanti kami, beliau melemparkan senyum  ceria. Segera aku keluar ruangan  "Ahlan wa sahlaan ya Ummi...!' sambutnya, kami berpelukan. Erat sekali. Ada kerinduan yang dalam diantara kami, maklum hampir satu setengah tahun kami tidak jumpa. Anak anak yatimlah yang mempertautkan kami, yang menyatukan hati kami, anak anak korban konflik, anak dan ibunya yang terusir dari kampung halamannya, konflik yang sesungguhnya direkayasa untuk sebuah agenda keji.
 
 
Sang Kijang memboyong kami ke kawasan Siko, cepat sekali...cuma sepuluh menit.
Anak- anak sudah lama menanti dengan segala kesabaran, ada yang menanti dari sejak pagi, ada yang baru sampai karena paginya sekolah. Kami disambut hangat, anak anak menyalami kami, mereka berebut.  'Salamalaikum Bundaaaa....! Ohhh kesempatan yang kutunggu selama delapanbelas bulan untuk menyentuh kepala mereka :
 
" Barang siapa meletakkan tangannya diatas kepala anak yatim dengan kasih sayang maka Allah akan memuliakan kebaikan  pada setiap lembar rambut (hadith: HR Ahmad, ath-Tabrani dan ibn Hibban).
 
 
Duduk dan Makan Bersama
 
Kamipun duduk diruang tamu yang amat sejuk, dua ibu lainnya menemani kami, bertanya tentang kabar kami. Senyum yang sumerineh, binar mata yang bahagia memantul dari matanya yang menyimpan duka yang dalam...penuh rindu. Kami bertutur, sementara anak anak berada diruang lain. Segan dan malu meliliti benak mereka, lalu Umi Aminah memanggil mereka.
 
"Ehhh sini anak anak duduk disini sama Bunda..jangan malu malu" terdengar logat Maluku. Satu satu berdatangan, ada yang malu merunduk, ada yang selalu senyum, ada yang bersembunyi dibalik bahu temannya...aih anak anak mereka mendekat duduk disebelahku.
 
Makanan lengkap ala Maluku tengah terhidang siap untuk di santap. Semua serba ikan dari yang diasap dengan rica-rica, digoreng, dipindang lengkap dengan dabo-dabo serta sayur dan lalaban...ditutup dengan potongan buah pepaya yang merah jingga, segar. 
 
Usai sholat dzuhur kami berkumpul lagi. Semua duduk lesehan dilantai.  Kami bercengkrama melepas rasa rindu, anak-anakpun mulai berkenalan lagi - ada yang yang baru memang, ada yang pulang balik ke pulau Bacan ada yang sudah selesai. Aiih mereka memang sudah banyak berbeda, satu satu mereka bertutur menyampaikan  kemajuan yang telah mereka capai  serta harapan yang mereka inginkan.
 
Ada yang ingin jadi dokter, suster, jadi guru atau ustadz, pemain bola sedang kebanyakan  yang laki laki ingin jadi tentara..hal yang tak aneh buatku.
 
" Bundaa itu Syafii bisa ceramah..coba suruh dia berdiri" saran Umi Aminah. Syafii, dengan malu malu dan hampir tak mau melakukannya,  akhirnya ia berdiri menunjukan kebolehannya. Mengagumkan, karena dia telah menghafal beberap hadith.
 
"Bilang terima kasih sama bunda untuk para donatur yang sudah bantu kamuuuu..." bisik bu Zainab kepada anak dan anak didiknya. Hemmm dengan malu malu dan hal ini mereka sampaikan."Terima kasih ICR, tankiu ICR.." mereka mengucap rame rame.
 
Lalu kami biarkan mereka membongkar kardoos yang berisikan mainan dan buku buku berbahasa Inggris. Mereka sangat exciting. Mereka kagumi mainan yang tidak pernah mereka lihat dalam hidup mereka, atau buku buku tebal berwarna-warni, atau Game...mereka berebut, aku merelainya. Tak lupa gula-gula lollypun kami bagikan
 
 
 
Bincang dengan Ibu-Ibu Janda dari Tobelo
 
Sementara anak anak tengah berpesta dan bercenkrama dengan mainana dan buku, dua ibu dserta Ummi Aminah diundang keruang lain untuk diajak bertutur oleh mbak Shinta:
 
Mereka saling memperkenalkan diri, dua ibu berasal dari Tobelo yang tengah bertahan memperjuangkan dan menyelamatkan sisa sisa generasi yang terabaikan. Mereka berdua dengan cermatnya mengajar anak anak yatim kami mengaji Al-Quran, mendidik dan membina akhlaq, membantu PR sekolah, bertindak sebagai ayah ayah mereka yang telah direnggut dimedan laga lima Ramadhan lalu..
 
" Ibu..bagaimana rasanya disaat menjelang bulan Ramadhan in ?" itulah pertanyaan yang dilontarkan mbak Shinta.
 
Seketika wajah dua ibu berubah menjadi agak kemerahan, wajahnya nampak sembab, sesaat menunduk kebawah seperti ada sesuatu yang mencekek leher mereka, matanyan berkaca, nampak rembesan airmata dikelopaknya,  mereka usap sebelum terjatuh, mereka mencoba menjawabnya.
 
" Ramadhan selalu mengingatkan kami pada Ramadhan lima tahun lalu ibu" jawab bu Zainab lirih. Sedang bu Mut nampak memandang jauh kejendela, kosong, mencoba menyembunyikan dukanya dibalik jilbab putihnya yang berenda.
 
"Ramadhan yang akan datang khan yang ke enam ya bu?" tanyanya.
 
" Ya betul jadi gimana bu, sudah cukup lama khan ? " tanya mbak Shinta
 
" Duuh giman ya bilangnya... pokoknya setiap Ramadhan datang, saya ingat suami saya bu, saya rinduuuu sekali" dia mulai mengusap bulir air matanya yang tak bisa lagi ditahan. 
 
Suasana sempat memberi pengaruh pada mbak kita juga, namun ia tahan.
 
" Bu rindunya itu seperti rindunya saat kami masih pengantin baru bu..oh saya rindu dan kangen sekali. Sepertinya kami itu baru menikah kemarin, padahal anak saya susah remaja" tambahnya.
 
Pertanyaan yang sama dilontakan ke ibu Mut yang juga tengah mendidik anaknya yang tengah beranjak remaja yang ayu dan sholehah yang bercita cita ingin jadi dokter.
 
Ia lemparkan pandangannya keluar jendela lagi - setengah melamun, ibu Mut mencoba mengenang dan mengingat Ramadhan lima tahun lalu



"Saat itu... kami tak bisa membedakan antara suara petasan dan bom ibu..kami sedang menjalankan shaum yang juga bersamaa dengan perayaan Natalan," kenangnya.

 "Suasana saat itu sangat mencekam..mereka mengatakan katanya mereka akan melindungi kami, ada provokator,  kami dibuatnya bingung tapi kami terus saja menjalankan  puasa".

 " Suasana tambah panas dan tegang ibu...saat itu memang puasa hampir habis, dibulan Desember.. kami tengah menyiapkan sahur pagi itu " tambahnya.

 " Akhirnya kami sadar bahwa kami tengah dalam serangan, kami tidak siap. Tidak punya apa. Suami suami kami diluar mempertahankan masjid. Kami berusaha bertahan tapi sepertinya tak ada yang bisa kami pertahankan" kenangnya  lagi.

 Tiba tiba air mata itu tak lagi bisa tahan, tersendat sendat tangisnya, dan sepertinya ibu ibu ini tak mampu lagi untuk menyimpan duka ini. Kami biarkan untuk terus bertutur agar tidak menyesak didada mereka.

 
" Suami ibu Mut ini memang terbantai, nasibnya malang sekali,  perutnya ditusuk parah sekali entah dengan parang atau tombak... yang pasti ususnya berceceran buuu..." ujar bu Zainab tanpa agak gemetaran saat ia memaparkan pengalaman yang dahsyat ini.
 

"Sebelum saya panggil ibu Mut saya masukkan ususnya kedalam perutnya kembali, saya rapihin terus saya tutup jazadnya..baru saya panggil" suasana hening mencekam.
 

Bu Zainab melanjutkan: "Bu Mut datang bersama anaknya. Si anak menangisi ayahnya lalu ia peluk semalaman....bayangkan jazad ayahnya dipeluk dan tidur bersama sepanjang malam walau ia sadar dan tahu ayahnya sudah meninggal..."
 
Bu Mut tak kuasa bertutur lagi kecuali terus menerus mengusap buliran airmatanya sambil mendengarkan cerita ibu Zainab, seolah bu Zainablah yang mewakili deritanya..lalu kedua anaknya dipanggil, duduk bersanding menemani ibu mereka.
 

Lanjutnya lagi...
"Begitu juga yang terjadi dengan suami saya bu..pokoknya suami kami habis dibantai dan kami harus menanggung semua ini" tambah ibu Zainab yang lumayan tegar dan tegas.
 
Mbak Shinta terpana mendengarkan tuturan ibu ibu janda yang subhanllah tegar dan berani....air mata ini masuk lagi kedalam karena begitu mencekamnya
 
"  Tapi bu kami bangga karena suami kami mati syahid, mati atas nama agama, saya berdoa semoga ia dan mereka mati syahid, Allah menjadikan mereka syahid ya bu...".
 
"Insya Allah ibu..." relai mbak Shanti. Rasanya tak kuasa lagi kami bertutur lebih banyak tentang atrositi yang terjadi di Tebelo.
 
'Lalu gimana kehidupan sekarang niih?"
 
'Ya kami tinggal di rumah rumah miliknya mereka yang kini tengah jadi pengungsi, sementara kami belum berani balik kekampung kami di Tobelo. Kenangan itu terlalu pedih dan menyakitkan sambil juga saya menemani anak anak sekolah di Ternate. Kami tak sudi anak-anak kami untuk duduk bersama di sekolah di Tobelo, lagian mereka benci sekali sama kami, kami bisa lihat dari sikap dan mata mereka koq " tandas mereka.
 
" Tapi khan sudah ada rekonsiliasi untuk perdamaian?" tukasnya.
 
"Duuh ..maaf bu perdamaian itu tidak bisa dipaksakan, mestinya biarkan ini terjadi secara alami, kami masih terlalu sakit, apalagi nasib kami masih terlunta lunta. Kami justru  agak kewalahan menanggulangi traumanya anak anak kami.  Mereka menaruh dendam yang dalam dihati mereka, mereka mau balas...coba ibu fikir toookh " tantangnya.
 
Kami membenarkan yang ini tentunya. Itulah sebabnya kalau mereka, anak anak korban konflik rata rata ingin jadi tentara...intinya mereka ingin membalas dendam. Jadi sesungguhnya jiwa anak anak korban konflik telah tergores dan cedera jiwanya. Semua tenggelam dalam suasana haru yang mencekam.
 
 
Janda Syuhada
 
" Ibu tidak ada niatan untuk menikah lagi, barangkali ekonomi bisa terbantu?" tanya mbak Shinta, mencoba membujuk.
 
" Duuh maaf ibu..menikah hanya karena ekonomi? Oh tidak bu..belum tentu kami bisa menemukan suami seperti suami kami yang syahid, nanti kami tidak lagi jadi  janda syuhada dong, khan  kami mau ketemu dengan suami kami di syurga" huuuh ..bulu kuduk jadi bangun, merinding.
 
"Dengar ya buu.. rasa  rindu ini luar biasa memang rindunya..rasanya sih pingin suami menyaksikan anak anaknya mampu sekolah, ya walaupun saya janda tapi khan dibantu oleh para donatur di Inggris tokh", tambah bu Zainab.
 
"Ibu merasakan sengsara dan sedih kehilangan suami khan?" keduanya mengangguk membenarkan..
 
"Mana lebih sengsara ditinggal suami yang meninggal dibanding sengsaranya kalau di madu? tanya mbak Shinta, iseng.
 
Jawabnya sungguh mengejutkan kalau mereka lebih suka dimadu, karena kalau dimadu setidaknya sang suami masih ada,  lalu lalang didepan mata, keliweran dan anak anak bisa jumpa dan sedikitnya secara moril dan materil, ada yang tanggung jawab.
 
"Jadi anak anak itu tidak labil bu..mereka perlu  figur bapak dan mereka terlindungi, kadang saya sedih ngurus semuanya sendirian" keluhnya.
 
Mereka wegah untuk menikah lagi karena ingin mempertahankan predikat 'janda shuhada' mereka..hingga mereka bisa menjadi pengantin lagi di Syorga...
 
Suasana hening sejenak....
 
"Jadiii...apa yang ibu harapkan dari semua ini ?" tanya mbak Shinta.
 
"Ya..anak anak itulah bu, mereka yang membuat kami bisa terus melanjutkan hidup, penyejuk hati dan kami berharap agar mereka jadi anak yang terdidik dan sholeh. atas kebaikan dari para donatur yang telah sudi membantu kami ". 
 
" Kami ini ibarat buih yang terombang ambing ditengah lautan, tak ada yang mau tahu derita kami, tak ada yang peduli.. Kami yang terusir dari kampung kami karena kami Muslim dan  kami menjadi pengungsi. Sungguh harga diri kami tidak ada bu sebagai manusia". akupun ikutan terperangah mendengar celotehan dan harapan ibu Zainab, mujahidah kita ini.
 
Anak mereka  Nurul dan Maysarah  - kini pada jenjang pendidikan hampir selesai di SMU......begitu juga yang lainnya, yang SD, SMU...ada sejumlah empat puluh lebih ingin mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada mereka yang dengan diam diam telah membantu mereka, mementaskan pedidikannya. Semoga mereka yang menolong akan dan bertemu disana bersama mereka yatim yatim dan berjumpa atau bersama Rasulullah saw.
 
Orang orang yang yang memberikan perhatian dan berbuat baik kepada anak anak yatim sekalipun sebesar zarrah akan mendapatkan pahala yang besar dan berlipat ganda dari sisi Allah swt firmanNya:
 
"...dan jika ada kebajikan sebesar zarrah niscaya Allah akan melipat gandakan dan memberikan dari sisiNya pahala yang besar." (an-Nisa:40)
 
Allah alam bisawab
 
 
 
25 September 2005
 




"Ya Allah, aku sungguh memohon cinta-Mu, cinta orang-orang yang
mencintai-Mu, dan mencintai amal yang dapat menghantarkan aku pada cinta-Mu".

Posted at 04:34 pm by alshahida
Make a comment  

Previous Page Next Page