alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Thursday, August 03, 2006
Foto Galeri Dari Yogyakarta

Oleh: Al Shahida

Pada saat kunjungan singkat ke Yogyakarta dan sekitarnya, sambil membawa  secuil  bantuan, alakadarnya dari teman teman muallaf di UK serta sahabat terdekat, aku sempat  menjepret beberapa foto.  Seringnya dijepret dari dalam mobil, makanya selalu duduk didepan, sambil shooting juga dengan handycam.

Minap di lereng Gunung Merapi..berharap bisa menyaksikan kepulan asapnya atau kegagahannya, sayang kabut menyelimuti sang gunung.

 

Hancur dalam bilangan kurang dari satu menit.

Bila Allah berkehendak...hanya 57 detik..maka Jadilah!

Sekolah darurat/emergency school

Foto dibawah adalah mesjid di Gunung Kidul, tinggal fondasi. Rasa keagamaan anak-anak muncul, juga ibu-ibu, mereka ingin berjilbab, aktif di TPA. Konon di  Yogya dan sekitarnya kekurangan tenaga guru atau para Dai dan Daiyah. Tugas kita adalah memurnikan dan meluruskan aqidah mereka, aqidah kita semua. Bukan mencampur baurkan dengan Janur kuning dan Nyi Loro Kidul dan sebagainya. Dengan sabar mereka menunggu kedatangan kalian.

' Iiih..bunda ko lama banget siih. Ayo dong bagi-in Iqranya...

 

Dalam peperangan, konflik dan musibah atau bencana alam anak-anak kerap menjadi korban yang paling rentan.

Merekapan tak luput dari incaran dari beberapa Ngo dengan berkedok kemanusiaan, dengan imingan yang menarik seperti mainan, komik-komik, lagu-lagu rohani yang berbeda dari agamanya, bahkan dongengan peri, tak terlepas tawaran biaya sekolah untuk masa depan mereka. Lalu kenapa kita marah ? Apa upaya kita ? Siapkah anda berkorban?

Hallo bapak-bapak, ibu, oom, tante dan mbak serta mas..buatkan sekolah dong..tengok dan jenguklah kami. Kami anak -anak yang manis khan? Jangan salahkan kami ya kalau kami pindah dan berubah...

Akan dibiarkankah mereka ? Anak-anak semanis ini akan dibiarkan aqidahnya berubah? Lalu mana simpati dan empati anda?

Makna sebuah peremen Loli...

 

Akan dibiarkankah mereka ? Anak-anak semanis ini akan dibiarkan aqidahnya berubah? Lalu mana simpati dan empati anda?

Hari ini Senin, subuh waktu Klaten atau tengah malam di UK aku baru saja tiba beberapa jam dari bandara Heathrow, London. Salah satu adikku menyapa dan bertutur ' Oh iya  teteh..mereka sudah berani datang kerumah rumah dan menawarkan jasa kebaikan, banyak tawaran yang menggiurkan mulai dari rumah, modal usaha, motor dan biaya sekolah anak anak...' ujar relawan kita.'

'Bahkan teh ...' tambahnya lagi ada satu ndeso, ruame-ruame pindah agama kecuali 6 KK saja..'Kapan dong kami dibantu..anak anaknya saja deh, cuma 85 ribu per bulan teh.. ? suaranya sayup dan jauh bersaing dengan ritme gelombang udara. Lalu suara itu menghilang dibalik debu Yogya dan pesan pesan itu sirna dibalik kemelut tentang mempertahankan perut dan aqidah.

Itulah sebuah sapaan dan keluhan dan peringatan atau  teguran dari relawan kita dilapangan. Dia menambahkan lagi bahwa masyarakat sekarang sudah tambah jenuh dan kebal rasa empatinya terhadap musibah gempa, tidak lagi mau membantu korban.

Sedang aku begitu kagum dengan keberaniannya untuk  berkorban, tidak berhitungan untuk  menelfon dengan hapenya. Sepertinya dia memiliki sosial skil karena dengan menelfon ada 'personal touch' dibanding dengan email atau sms saja...sehingga membuatku untuk segera bergerak dan memulai. 

Dengan para relawati dari Bandung, di Klaten (teteh di tengah).

Kutemui mereka, para relawan/wati di desa Kragilan, Klaten. Mereka dari Bandung, dari mana-mana. Langkah kaki mereka sungguh ringan, tangannya apalagi. Spontanitas mereka tinggi sekali. Nekad. Andalannya Allah saja. Ma'rifatullah tentu modal utama mereka. Mereka bekerja terus sekalipun tidak dibawah naungan satu lsm atau organisasi apapun.. tidak ada yang menghalanginya untuk bersegera pergi ketempat bencana karena empati mereka kental sekali.

Karena.. negara kita adalah negara hukum dan amat dan sangat birokratis, para relawan/wati mengalami kendala pada saat mereka tiba ditempat bencana. 'Kalian atas nama lsm apa..' disitulah mereka tercenung dan bingung, sementara mayat menggelepar-gelepar, begitu juga para korban tidak menemukan makan hingga Seninnya. Empat puluh delapan jam mereka makan pisang bakar - sementara para penguasa setempat sibuk berbirokrasi. 

Akhirnya sahabat relawan bergabung dengan Hidayatullah atau tim SAR yang  begitu gesit dan cekatan memberikan bantuan kepada para korban musibah. ' Sejauh itu pemereintah baru memberikan beras sebanyak 10 kg dan uang kontan Rp 90 ribu tuhh selama ini teh..itu saja ' ujar mas Pimpro dan relawan lainnya yang memang tahu betul. Sambil menunggu nasib dan menunggu janji yang dijanjikan akan dibangun rumahnya, mereka rajin membenahi bata-bata yang berserakan, kayu dan timber untuk disusun dan dirapihkan.

Pada setiap hari Senin Kamis mereka masih menyempatkan diri shaum, tahajudpun berjalan secara berjama'ah dan dengan giatnya mereka terus mencari bantuan dan menghimbau siapa saja. Mereka butuh bantuan  seperti buku-buku , mainan, outdoor game, biskit bergizi, seperti Ida sampai pergi ke Serang untuk menemui lsm mencari bantuan buku dan lainnya, sementara temannya yang lain diam ditempat, berada dilapangan untuk terus merebut hati anak-anak serta menjaga agar mereka tidak terseret dan terjerat dengan tantangan yang cukup berat.

Pada saat aku sibuk ngepak bingkisan untuk ke Yogya, di Senin malam, hari dimana Tsunami terjadi di Pangandaran, salah seorang mereka menelepon penuh kebingungan: 'Teteh..Ida ada di stasion KA Senen..Ida bingung niih..ke Yogya atau ke Pangandaran..?' Lalu kuyakinkan ..'teruskan ke Yogya sayang..kasihan teman teman menunggumu disana' akhirnya Ida yakin lalu lanjut ke Jogya. Sendiri. Dan malam itu jam 9. Sikap dan kepribadian ini sungguh memesonaku.

Aku ikutan bingung tapi kagum dengan perjuangan mereka. Rasa empati mereka yang menebalnya telah menyelimut benak dan qalbu mereka...apalagi ditemukan adanya persaingan untuk memperebutkan anak-anak didesa itu.

Mereka, anak-anak digoda dan dihibur dengan alasan 'counceling' atau penyembuhan trauma fase pertama dengan dongengan peri serta hymn, (hymn = lagu kerohanian/pujian) konon dilakukan disaat mereka masih lengang tidak ada para relawan. Saat mereka tiba hal itu dilakukan pada saat mereka lengah. 'Teteh yang hebatnya nama lsm mereka sangat Islami dan bikin kaum awam bingung' kata salah satu mereka. hal ini membuatku berfikir dan bertanya tanya..apa siih yang memotifasi mereka, para relawan sampai begitu gigihnya ?

Adikku Ida hapenya hilang dicuri, di kereta api dalam perjalanana  Jakarta-Yogyakarta saat Ida memeramkan matanya..hanya semenit saja, begitu cerita Ida pada saat kami temui di desa Kragilan, Klaten. Selang beberapa hari aku terima smsnya ' Teh kami ada di Ciamis, tak jauh dari Banjar, mereka para masih tinggal di hutan hutan, takut pulang kerumah' tak lama Ida menelpon bahwa mereka akan menyelenggarakan tabligh Akbar, teteh bantu mainan edukatif untuk menghibur anak-anak sama itu teeeh..milkuit' pinta Ida.'Oya percaya engga teh kalau kami bertumburan dengan orang-orang yang  sama di Klaten, mereka cepat sekali, maklum sdm dan duitnya tebel ya teh..? dengan tegarnya Ida meyakinkanku. Lalu aku minta tolong adiku Mona untuk mentransfer via ATM.

Untungnya masih ada dana dari sahabat Malaysiaku, uang kontan yang pas-pasan ada seratus pound dan dengan cara yang cepat dan instan dana tsb sampai.  Usai acara Tabligh Ida menelfon lagi menyampaikan bahwa acaranya sukses dan anak anak seneng menerima bingkisan kecil serta memiliki mainan untuk sementara.

Kedengarannya riuh sekali dibelakang, maklum para korban baru saja meninggalkan lapangan masjid. Itulah sekilas cerita adik-adiku yang gigih dan siap berkorban bekerja dilapangan disetiap musibah.Mereka mungkin masih  bertebaran di Tasik, Ciamis, Pangandaran yang tengah tertimpa musibah Tsunami.

Selamat bekerja adik-adiku para Mujahid dan mujahidah yang sedang bermujahadah. Langkah kaki serta gerak tangan dan detak jantung dan hati kalian menjadi  syafa'at di akhirat  nanti.

Dan perjalanan itu masih..masih sangat jauh...buram.

 

Ya Allah mudahkan dan kuatkan kaki kaki mereka, mudahkan urusan mereka ...

London, 22 Agustus 2006

al_shahida@yahoo.com

 

 


Posted at 01:16 am by alshahida
Make a comment  

Next Page