alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Wednesday, July 26, 2006
Sejumput Empati Untuk Yogyakarta


 



Bencana besar senantiasa menimbulkan penderitaan tetapi juga empati. Berkeliling mengunjungi titik-titik terparah dari bencana gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Richter yang mengguncang Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Indonesia, nampak hati nurani umat manusia menunjukan puncak kekuatan yang nyata. Penderitaan para korban akibat kehilangan sanak-saudara yang tewas dan ratusan ribu warga lainnya yang kehilangan tempat tinggal, telah mengundang solidaritas umat manusia dari pelbagai pojok dunia.



Sikap solidaritas yang tinggi itu terwujud dari mengalirnya bantuan dari pelbagai negara. Termasuk yang menjadi tulang punggung solusi setiap peristiwa bencana adalah sikap tanggap lagi cepat dari pelbagai lembaga nonpemerintah (NGO). Misalnya, NGO internasional seperti Save The Children, Unicef, Kuwait Red Cross and Red Crescent, sampai Oxfam, dan juga NGO Indonesia sendiri, seperti H idayatullah, PKS, DD, PMI serta jaringan kerja dari ITB dengan Masjid Salman, Daarut Tauhid dll-nya. Sebagian mereka langsung terjun begitu bencana muncul, terutama di masa-masa tanggap darurat (emergency). Sementara yang lainnya mematok strategi untuk terjun pada masa rekonstruksi yang lebih menuntut kesabaran dan konsistensi.



Saya sebagai relawan dan pekerja sosial yang berbasis di Inggris terketuk hati ingin ikut menjadi solusi, telah berkunjung ke daerah bencana tanggal 18 20 Juli 2006. Bersama rekan-rekan kerja yang saya kenal lewat internet dan lisan yakni Hidayatullah, Daarut Tauhid dan rekan pribadi seperti mas Bambang yang datang jauh jauh dari Wonogiri, menemui saya di Bandara Yogyakarta. Dengan mengenakan rompi ICR sebagai tanda pengenal dan symbol kembanggaan sebgai relawan atau 'Relief Worker, akhirnya kami bertemu dan dipertemukan oleh kemurahan dan kebaikan Allah swt.


Menyaksikan kerusakan dan mendengarkan cerita mengenai fenomena, keajaiban tetap mengasyikan sambil ikut merasakan betapa dampak positif dan negatif  yang dialami penduduk warga jawa Tengah. Inilah titik-titik pos yang kami kunjungi:



Rabu, 19 Juli 2006 :


1. Desa Candi, Sidorejo, Gunung Kidul. Masjid satu-satunya di desa tersebut runtuh, rata dengan tanah. Warga kini sedang bergotong royong untuk membangun kembali fasilitas ibadah tersebut.Untuk membangkitkan semangat penduduk setempat dalam mempertahankan keimanan dan semangat hidup, telah disumbangkan :

  • 100 buku Iqra untuk kegiatan TPA.

  • 40 helai jilbab untuk ibu-ibu.


Sebelum penyerahan pelbagai sarana dilangsungkan acara ramah tamah yang dihadiri 50 ibu-ibu. Dilaksanakan di bekas reruntukan bangunan masjid, beratapkan tenda plastik, juga dilangsungkan tausiah dengan topik meneguhkan sikap sabar dan tawakal dalam menghadapi cobaan hidup. Acara berlangsung selama 45 menit.



2. Desa Kragilan, Klaten.


Desa Kragilan merupakan salah satu desa yang mendapat guncangan terberat pada gempa bumi lalu. Posko Hidayatullah bekerja sama dengan Altar, sebuah paguyuban/jaringan kerja para relawan yang independen dari Bandung telah berada di desa ini sejak kejadian gempa. Mereka adalah gabungan mahasiswa/i dari Bandung yang juga terdiri dari relawan/wati dari Daarut Tauhiid, Masjid Salman. Mereka peduli dan fokus pada anak anak yang berjumlah sampai + 50 anak dari usia 3 10 tahun.


Sejumlah mainan edukatif berupa crayon, buku gambar, outdoor toys (skipping rope, raket dan sejenisnya), puzzles dan biskuit bergizi, diserahkan untuk anak-anak yang berjumlah sekitar 60.


3. Desa Patuk, Kecamatan Patuk, Gunung Kidul yang letaknya sangat jauh dari Yogya karena berada di Gunung Kidul. Di kecamatan ini ada sejumlah anak yang perlu mendapat perhatian dengan dibawah naungan Hidayatullah sekitar 110 anak yang menjadi garapan Hidayatullah. Ditemui oleh sdr Rian, koordinator Posko Hidayatullh telah kami serahkan bantuan untuk anak-anak berupa biscuit bergizi, permen dan mainan edukatif.


Kesimpulan


Dalam kondisi dan fasilitas yang amat terbatas Hidayatullah telah dengan penuh dedikasi, kesungguhan dan semangat yang tinggi terus bekerja dengan tidak mengenal lelah menunjukan kepedulian dan tanggung jawab, yang tidak hanya untuk masa kini namun untuk masa yang akan datang.


Kegiatan TPA, counselling, hiburan, khitanan massal, pencukuran rambut dan bahkan pengobatan gratis telah dan tengah dilaksanakan disamping kegiatan mengaji di TPA dan membangun semangat ber-Ilsam telah di ditanamkan kepada para korban gempa bumi.


Kunjungan ini baru merupakan sikap empati atas bencana yang menimpa saudara kita. Problem seperti traumatis, tidak adanya bantuan yang bisa diandalkan dari pemerintah sementara kerusakan total baik secara materi, fisik dan mental menunggu uluran tangan dari para dermawan.


Saat ini adalah merupakan tahap pemulihan (recovery), yang sedang dan akan dilakukan oleh LSM-LSM setempat berupa pemulihan atau medium term project untuk 6 hingga 12 bulan ke depan.


Pembangunan kembali sarana fisik yang mengalami kerusakan, konsolidasi kegiatan yang lebih sistematis, terarah dan sampai kepada pemulihan total terutama edukasi untuk anak anak.


Bekerja sama dengan Hidayatullah, sebagai calon mitra kerja kami, kedepan, program untuk pemulihan baik secara mental berupa memulihkan trauma serta pendidikan masa depan anak-anak adalah fokus utama kami mengingat bahwa anak-anak adalah merupakan korban yang paling rentan pada setiap bencana baik bencana alam, perang dan konflik.


Kepada rekan rekan kami di Yogyakarta, Mas Syamsul Maarif dan Mas Aris, saya haturkan terima kasih atas kesediaannya untuk menemani kami dalam perjalanan menemui para korban baik ibu-ibu, anak-anak hingga ke Gunung Kidul yang begitu panas, gersang dan berdebu.

Semoga semua langkah, deru mesin dan debu yang berterbangan menjadi kesaksian, catatan di akhirat nanti untuk kesungguhan dan kerja keras anda semua.






Sleman, 20 Juli 2005


Dirangkum oleh : Teteh dan Bambang Haryanto





Posted at 06:56 am by alshahida
Make a comment  

Next Page