alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Monday, April 24, 2006
Yang terabaikan

oleh: Al Shahida
 
Konflik begitu lekat mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, baik di Aceh, Poso, Maluku Utara hingga Ambon. Dampaknya telah menyisakan jiwa-jiwa yang cedera, tercecer, terabaikan dipojok-pojokan Nusantara.
 
 
Anak-anak pengungsi, Maluku, rentan dan terabaikan.
 
Oktober 2005
 
Jumat sore pesawat Adam Air mendarat di Cengkareng airport dari Banda Aceh, lalu rehat 2 malam untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Ambon. Sambil mengobati rasa rindu pada anak-anak yatim yang begitu menerkam, juga untuk membenahi banyak hal,  sehingga ke Ambon tetap dalam agenda. Ramadhan kali ini aku berkesempatan duduk bersama mereka  para yatim dan bunda mereka, untuk berifhtaran.
 
 
Ahad tepat jam 4 pagi, sang kijang meluncur lagi ke Bandara Cengkareng. Kali ini kukepa'kan sayap bersama Merpati via Ujung Pandang, menuju gugusan pulau Seribu.
 
Kalau kebanyakan kita begitu berbahagia mampu ber-umroh untuk bertawaf di masjidil Haram dibulan Ramadhan untuk kepuasan diri, konon dalam rangka mendekatkan diri kepada Rabbnya.  Aku memilih bertawaf di bukit, dan pantai serta pojokan seputar pulau Ambon, menebar dan meraih cintaNya, merajut tali kasih sayang buat yatim dhuafa yang masih papa dan terabaikan
 
         ***
 
Tepat tengah hari sang pesawat menyentuh landasan bandara Pattimura . Kami berkemas, bersiap siap diri turun dari pesawat untuk menapaki dermaga Bandara kota Madya Ambon.
 
Ambon manise, nampak cerah dan ceria, sang  langit nan biru diselimuti awan warna transparan. Kian semarak dengan lambaian pohon Palem dan Kelapa serta anggukan  warna warni bunga-bunga Asoka dan bogenville. Menyambutku.  Lega rasanya dadaku, bisa kembali ke Ambon, bisa melepas rindu  yang lama kuperam. .
 
 
Begitu aku keluar menyeret bagasiku...tak pelak aku disambut penuh ceria oleh wakil dua  LSM setempat "Ahlan wa sahlan, met datang  teteh ditanah Ambon manise!" alaamak begitu sambut para mitra kerja, teman teman. Jarak memang memisahkan kami namun kedekatan hati yang mempertautkannya, demi satu misi, yaitu misi cinta,  kami bisa bertemu. Teman teman menyambut hangat kedatanganku. Ka Ifa, bang Idris, dan lainnya. Aku diboyong kepusat kota.
 
" Gimana kabar Ambon...banyak perkembangan?"  tak sabar aku bertanya.
 
"Banyak teteh...ya dalam rangka merealisir perdamaian ini. Sekarang jalanan dibuat satu arah. Jadi kami terpaksa melewati jalanan mereka, begitu juga mereka. Tak ada pilihan harus melewati jalanan kita orang punya" papar ka Ifa.
 
" Kita orang  membaur lagi teteh dan tentu transaksi.. maksud saya interaksi istilahnya, terjadi,...walaupun sebetulnya kami nggak suka, tidak alami... terlalu dipaksakan.. tapi yaa... memang begitu " bang Idris menambahkan.  Aku mendengarkan celotehan mereka sambil menikmati keindahan pulau Ambon. Kijang ber-AC meluncur menuruni bukit Ambon. Kamipun tiba ditempat.
 
Aku ditempatkan disebuah penginapan, 'Jamila Hotel' disalah satu sudut kota Ambon. Hotel langganan kami.  "Ehhh ibu dah lama dak datang...selamat datang bu" ujar pegawai hotel. Aku memilih kamar diatas, yang lebih leluasa sehingga kami bisa menggunakan ruang tamu yang cukup luas pula.
 
 
Mereka membiarkan aku untuk istirahat.  Sepakat untuk menjemput kembali menjelang maghrib ke Kebun Cengkih. Aku rehat sesa'at...meregangkan tubuh sambil menerawang kelangit langit mengingat-ingat rencana dan agenda selama aku berada disana.
 
Usai sholat ashar aku keluar hotel untuk melihat-lihat suasana Ramadhan. Kutelusuri  kota Ambon hingga ke mesjid Jami dan Al-Fatah, pusat dan jantung kota Ambom,  ikut menyaksikan dan menikmati atmosfir Ramadhan, lalu balik lagi.  Sungguh menarik.
 
 
Ibu ibu, yang aku yakin rata-rata adalah janda korban konflik. Sibuk berjualan penganan untuk berbuka puasa. Dari berbagai kolak dan kue kue manis, lemper, pastel, lumpia, kue lapis dan kue jagung...nanpak eksotik dan menggiurkan.
 
 
Aku menyebrang ke desa Silale. Mencoba mencari rumahnya ibu Amina, alias Yokomina, suaminya yang menjadi korban kerusuhan  April tahun 2004.  Begitu aku naik ketangga, mengucap salam...Allah maak tiba tiba aku disambut oleh puluhan serangga,  berseliweran, berlarian menghampiri kakiku.  Hiih aku merinding dibuatnya.
 
Bu Min menampakan diri,  terkejut: "Ummiii...kapan datang ya Allah" dipeluknya erat, erat sekali seolah aku direjeng;
 
"Kapan tiba Ummi ?..ah kejutan manis ini" bu Min menatap aku penuh bahagia. Aku disuruhnya duduk.
 
" Anak- anak bagaimana, Sahrul Firda dan Intan?' Kami berbincang sesaat . Aku minta Bu Min untuk datang ke hotel, membawa anak-anaknya. Iapun sepakat, aku dilepas dengan senyuman yang luar biasa cerianya. Aku balik ke hotel.
 
 
Pantai Ambon dari Poka diwaktu maghrib
 
 
Esoknya, pagi, sekitar jam 8.30 Ibu Aminah datang bersama anaknya yang bungsu dan Sahrul. Ibu janda syuhada yang tengah hamil tua dengan kelima orang anak pada saat kami temui 18 bulan silam.. Suaminya aalah satu korban pada insiden berdarah di Ambon pada bulan April 2004. 
 
 
Kami duduk diteras. Bu Min nampak lebih keren dan ceria.  Sedang Sahrul, 10 tahun,  anaknya nomor 3 tak menunjukan ekpressi apa apa. Wajahnya tanpak datar dan biasa. Sukar aku menduganya. Peremen lolly kuberikan pada mereka. Dengan senang mereka menerimanya.
 
 
Mulailah bu Min bercerita tentang kehidupannya bersama ke  6 anaknya. Kedua anak remajanya sekolah diluar Ambon. Ia menjalani kehidupan bersama keempat anaknya di Ambon dengan berbagai ujian dan cobaan serta tekanan dari keluarganya..
 
 
Amat berat dirasakan memang, mengurus anak sejumlah 6 orang, namun ia begitu tabah dan ikhlasnya menerima semua ini. Bu Yokomina sangat berterima kasih kepada para dermawan (lewat Republika) yang telah memberikan bantuan, terutama bagi kedua gadis remajanya. Dia banyak berdoa unutk kebaikan para donatur yang telah bermurah hati.
 
Ia memutuskan untuk mengungsikan kedua remajanya ke luar Ambon karena dirasakan bahwa keamanan kedua putrinya sangat mengkhawatirkan. Saudara ipar dan para petinggi tak luput datang menjenguk kerumahnya, kadang membujuknya untuk kembali ke agama lamanya dengan berbagai macam  imingan.
 
 
Anak bungsunya yang kini sudah hampir 15 bulan. Aku teringat saat pertemuannya kami terakhir,  perjuangannya hingga rasa pesonaku, kutorehkan seperti disitus ini dan  kusematkan didadanya sebagai seorang 'Mujahiddah..: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=169800&kat_id=19&kat_id1=&kat_id2=
 
                  ***
 
Sahrul tanpak diam saja mendengarkan kami berbincang, sementara si bungsu selalu minta perhatian, meringik. Untuk menghibur mereka, kuambil foto mereka.
 
Aku banyak bertanya mengenai anak-anak bu Min satu persatu sampai mengenang kembali pada saat kami berjumpa masa silam. Ibu Amina bercerita bagaimana ia beruapaya untuk bisa surfive sejak kepergian suaminya. Akhirnya ia bercerita bahwa  Sahrul menyaksikan kematian ayahnya. Ah, buatku ini sangat menarik sekali. Mulai kugali ceritanya.
 
 
Saat Sahrul mendengar ledakan bom pada 26 April, Sahrul berlari, berlari menuju ke tempat huru-hara. Kebetulan  tempat kejadian itu tidak dari rumahnya. Gerak dan larinya bak kijang. Gesit dan cepat. Diapun pandai berjongkok dan tiarap.
 
 
Insiden tersebut terjadi di perbatasan antara dua komunitas. Konon mereka yang baru melakukan  upacara penaikkan Bendera, mereka melanjutkan arak-arakan, keliloing dibeberapa tempat. Mereka disambut dan dijegat oleh kelompok yang mendakwakan dirinya sebagai pembela NKRI - bentrokan tak terelakan hingga berjatuhanlah korban dari kedua belah pihak.
 
 
Sambil menunduk kelantai, Sahrul, dengan susah payah ia menceritakan, sesekali ia menengok ke mamanya. Sahrul mulai bertutur. Menurut Sahrul diperbatasan itu ada kontainer besar. Ia bersembunyi dibaliknya. Desing  suara peluru yang bersaing dengan riuhnya masa yang murka dan terpancing, tak membuatnya gentar.  Seakan Sahrul menikmati ini. 
 
 
Sahrul,  menyaksikan  sendiri sang sniper yang datang dari atas bukit, berseliweran diarahkan kekerumunan. Dentumnya menggelagar, keras, memekakan telinga dan menyeramkan,  ujarnya. Korbanpun berjatuhan.
 
 
Sahrul  melihat ayahnya ada diantara kerumunan. Tengah berjongkok menolong para korban, mengikat kaki mereka lalu memindahknya kepinggiran jalan. Sementara ia berupaya keras agar dirinya tidak tersambar peluru,  tiba tiba dia mendengar suara:
 
 
"Ayah kena...ayah kena....ayah kena!" beberap orang berusaha menyanggahnya. Sahrul mendengar ini dan dia tahu siapa yang dimaksud. Ia menengok kearah dimana ayahnya  terjatuh, sang peluru tepat menyasar didadanya.. Sahrul merasa terpukul  menyaksikan ini. Tersayat hatinya "Papaaaa...oh papaaa" ia tahan sekuatnya agar orang tidak tahu dirinya ada disitu. Sahrul menangis.
 
 
Lalu ia berlari kerumahnya. Cepat sekali. Diam-diam ia masuk kerumahnya , langsung masuk kekamarnya. Berdiam diri. Ia tidak ingin mengatakan kepada Mamanya apa yang terjadi. Tak lama ia mendengar orang datang kerumahnya mengatakan  tentang kabar buruk yang cukup memasygulkan ini kepada mamanya.
 
 
"Bu Min Ayah terkena sniper...sekarang lagi dibawa ke ke rumah sakit  Al-Fatah..." dengan tenang bu Amina menerima berita duka ini, dengan segala kesabaran dan rasa tawakal. Ayah, adalah panggilan untuk suaminya yang digunakan oleh teman dan anal buah suaminya. Sepertinya memang ia telah memiliki firasat bahwa suaminya akan pergi untuk menemui Tuhannya. Syahid. Bu Amina meminta kepada iparnya untuk kerumah sakit untuk mengecek kebenaran berita ini.
 
 
Ibu Amina meminta agar suaminya dibawa kerumah untuk diurus prosesi pemakaman. Tak lama orang sekampung berdatangan menyampaikan bela sungkawa. Ibu Amina menerima musibah ini dengan segala kesabaran dan tawakal kepada Allah swt.
 
-----
 
Aku termenung dan bingung dengan kejanggalan Sahrul. Matanya lebih banyak berbicara. Mamanya mengatakan rasa penasarannya begitu tinggi bila ia mendengar letupan bom-bom. Inikah dampak buruk dari anak anak korban konflik? Bu Min lanjut bernincang;
 
" Dia ini punya sifat sangat aneh Ummi, saya sunggh heran..  Dulu pada masa  kerusuhan  5 tahun yang lalu,  setiap kita mendengar suara ledakan bom...tahu tahu anak saya yang satu ini sudah menghilang. Padahal waktu itu umurnya baru 5 - 6 tahun"  papar bu Min.
 
Jadi kalau ada bom atau suara keributan Sahrul akan pergi melihatnya. Saya tidak bisa melarangnya. Dia memiliki sifat penasaran. Tidak ada rasa takut.  Nanti begitu sampai dirumah dia akan diam, menyendiri, itu tandanya dia menyaksikan sesuatu yang menakutkan, tambahnya lagi.
 
"Pada masa kerusuhan lima tahun lalu, kenang bu Min, Sahrul banyak menyaksikan mayat yang, menurut kita yang dewasa, mengerikan, diantaranya di pelabuhan Yos Sudarso", paparnya lagi..
 
"Apa yang kamu lihat Sahrul ? tanyaku.
 
" Banyak mayat bergelatakan, bunda, dimana-mana" ujarnya.
  
" Sahrul tidak menyasikan siih cuma lihat mayat saja berdarah darah...kaya orang mandi darah " dengan susah payah Sahrul mengatakan ini.
 
"Lalu ...kamu ngapain" tanyaku lagi.
 
"Pulang dan diam saja, tIdak bilang sama Mama, pasti Mama marah, kalau Mama tanya, baru bilang " dia nampak agak ketakutan.
 
"Kamu enggak takut melihat yang begituan Sahrul ? aku begitu penasaran.
 
Dia menggelang-gelengkan kepalanya. Lalu menunduk kelantai. Diam. Tampak gelisah dan resah dia. Kenapa ini anak?
 
Mamanya Sahrul menambahkan bahwa pada tahun 2001 dia memyaksikan pertikaian dan pembantaian. Terakhir dia lihat  di pelabuhan Yos Sudarso. Dia berlari dengan wajah ketakutan tapi dia tidak akan bilang pada saya. Kalau dia diam saja berarti dia baru menyaksikan sesuatu yang menyeramkan.
 
Sahrul kini usianya 10 tahun kelas 5 SD. Dia menyukai matematik, menggambar dan main bola. Cita-citanya ingin menjadi Tentara. Dia sangat mencintai David Beckham dari Manchester United, United Kingdom.
 
 
Masih teramat banyak anak-anak yatim korban konflik yang masih berceceran, terlunta nasibnya dipojok-pojok, sejagat Nusantara. Masih terlalu banyak yang tak mampu bersekolah, tak mampu membayar SPP. Dan sekolah tidak perduli dan tidak mau  tahu dengan kondisi anak yang sudah jelas anak korban konflik, pengungsi. Keharusan membayar SPP tak bisa dibebaskan, begitu ongkos jalan atau  transpot ke sekolah yang mencekak-atau buku buku sekolah.
 
Tentang perlindungan
Konon: Anak-anak yang menjadi korban dalam konflik berhak atas perlindungan khusus. Dalam pasal 62 UU No 23/2002 yang berbunyi:
 
'Perlindungan khusus bagi anak korban kerusuhan, korban bencana, dan anak dalam situasi konflik bersenjata sebagaimana dimaksud dalam pasal 60 huruf b, huruf c, dan huruf d, dilaksanakan melalui: a. pemenuhan kebutuhan dasar yang terdiri atas pangan, sandang, pemukiman, pendidikan, kesehatan, belajar dan berekreasi, jaminan keamanan, dan persamaan perlakuan; dan b. pemenuhan kebutuhan khusus bagi anak yang menyandang cacat dan anak yang mengalami gangguan psikososial".
 
 
" Jadi gimana dong Wardah..nasib mereka ? Bukankah undang undang menjamin mereka?" aku menuntut pada adikku Wardah yang sangat pakar dalam hal konflik & Rural Development" komplainku, diiringi menggerutu padanya. Padahal aku tahu jawabannya.
 
"Jangan mimpi teteh..semua ada... undang-undang ada, saya yakin dana juga ada..kenyataannya.ahh..masak sih kita engga tahu" ujarnya.
 
" Jadi generasi masa depan macam apakah yang diinginkan oleh negeri ini? Atakah kita tengah merancang dan mempersiapkan  generasi bebal, bodoh dan tertinggal. Hak mereka tidak  kita penuhi,  kewajiban kita tidak kita laksanakan. Kita lalai dan larut.
 
Bagaimana kita mengharapkan mereka sebagai generasi tumpuan dan harapan bangsa untuk masa depan untuk mengejar ketertinggalan kita...?".
 
Allahu alam bisawab.
 
 
 
London, 24 April 2005

Posted at 07:27 pm by alshahida
Make a comment  

Next Page