alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Friday, April 14, 2006
Mereka Yang Terusir

"Tragedi kemanusiaan yang terjadi di Poso yang puncak puncaknya terjadi pada
22 Mei 2000 merupakan imbas dari tragedi Maluku. Dibelakang semua ini adalah
merupakan pertarungan di elit politik. Dikemas sedemikian rupa sehingga
masyarakat Indonesia yang multi etnis dan agama sangat mudahnya disulut kendati mereka dulunya adalah row-model (contoh) untuk kerukunan. Mereka, para pengungsi, masih terlunta, terlantar dan tersebar dimana mana, mereka menjadi pengungsi dinegerinya sendiri..." .

 

Juli  2004.

   Pesawat Merpati menyentuh landasan bandara 'Mutiara', Palu. Sambil menunggu
bagasi, nampak beberapa wajah yang kukenal, menyembul diantara kerumunan
penjemput. Mereka melambaikan tangannya. Mata mereka nampak berbinar menyambut kami. Duapuluh satu bulan memang aku tidak menginjak tanah Poso. Terlalu lama memang.


   Kijang berplat merah memboyong kami ke kota Poso, sebuah kota yang punya nama tersendiri dalam kehidupanku. Sebuah nama yang aku sendiri hampir tidak pernah mengenalnya. Sebuah hulu dimana aku memulai perjalanan hingga kemuara perjuangan, menurutku ...


   Poso, adalah nama kota dan kabupaten yang hampir tidak dikenal sampai dengan terjadinya tragedi kemanusiaan yang puncaknya terjadi dibuan Mei 2000. Mungkin karena letaknya yang jauh dipedalaman, dibalik gunung dan jurangnya yang curam, tersekat oleh hutannya yang lebat, sengaja atau tidak, suara derita mereka tak diperdengarkan hingga adanya sebuah kenekadan untuk menyaksikan sendiri.

   ***

   Mobil yang memboyong kami terus melaju sementara kelelahan serta panas-nya
udara Poso masih menyelimut. Sang Personal Assistan yang dengan setia mengawalkududuk di jok belakang ditemani oleh yang lainnya. Lamat jauh ditengah debu yang
berterbangan tampak kulihat sebuah gapura berwarna merah bertuliskan " Selamat
Datang di Kabupaten Poso, hatiku mulai berdegub, menggoreskan kenangan lama akan
sebuah 'Perjalanan Hati' bersama jeritan si Yatim, Janda dan gelora jihad para
Syuhada.


   Kami tiba di Poso kota, kami diinapkan disebuah hotel tepat berada dipinggiran
pantai Poso, pantai yang menyimpan ratusan cerita duka warga Poso yang hingga
kini tak terselesaikan. Seakan permainan cantik itu sukar dihentikan.


   Kepasar Poso
   Hotel cuma menyediakan kopi tubruk, seteguk dua teguk kuminum...ahhh terlalu
manis sekali, aku tak sanggup untuk meneguk semuanya. Tiba tiba kudengar suara
deru mesin motor diluar. Nurdin datang..' Teh kita pakai ojek aja ke pasar.."
buatku tak ada pilihan, kami siap untuk berangkat.



   Panasnya mentari Poso sudah mulai menyengat. Tibalah kami dipasar. Kami
menelusuri dari satu lorong kelainnya, mencari ibu-ibu janda Walisongo yang
tengah berjualan. Nurdin mengalami kesusahan untuk mengenal dan mencari mereka.
Akhirnya kami temukan juga. Seorang ibu duduk diantara tumpukan sayuran,
menyambut kami. Senyumnya menyungging.


   " Ohh pak Nurdin..salamalekum..mau meriksa tokh pak" ? sambutnya.

   " Oh bukan,..ini lho bu... ingat tidak dengan ibu ini..." si ibu janda
mengamati akhirnya dia sadar dan ingat.

   " Oh lha iyya.. koq lama tenan ndak datang tokh bu...?" kedengaran kental
aksen Jawanya, sambil menyodorkan tangannya menyalamiku. Akhirnya aku ikutan
mojok, duduk di bangku dingklik yang rendah seolah aku ikut jualan sayuran milik
si ibu yang terdiri dari kangkung, terung, daun singkong, sawi, lengkuas, papaya
dan bunga pepaya dan wah banyak lagi, semua sangat eksotik menggiurkan, pikirku.

Micro credit untuk para janda Walisongo...baroqah

   Kira kira 15 menit aku berbincang dengan ibu Tukinem. Kami pamit dan pergi
menemui yang lain. Ada empat janda yang kita temui pagi itu. Mereka adalah
janda-janda dari desa Sintuwulemba, Kilo Sembilan tempatnya Pesantren Walisongo,
Kabupaten Poso.


   Mereka mendapat prioritas pertama untuk mendapat bantuan pinjaman tanpak bunga dari sebuah Yayasan Ar-Raudhah, BMT yang dirikan beberapa silam lalu, yang modalnya adalah dari dermawan di Inggris. Nurdin dan assistenku mencatat semua percakapan kami baik kemajuan dan kendala yang mereka hadapi serta harapan mereka. Intinya mereka perlu modal lagi untuk meningkatkan usahanya. Kami pamit.


   Ibu-bu ini tak mampu menyewa kios jadi rata rata para penjual dagangan semua
menggelar dibawah. Kami terus jalan menelusuri pasar. Aku bentul betul menikmati
pasar tradisi yang begitu becek, berlantaikan tanah, riuh oleh suara yang
menjajakan jualan, terlebih dibagian ikan Sampah bertumpuk dimana-mana. Lalat
beterbangan, sampai kita berada ditempat yang terbuka lepas.


   " Bentar Nur " aku meminta mereka untuk berhenti berjalan.

   " Napa teh.." Nurdin bertanya heran. Lalu aku diam sejenak, ada pemandangan
unik.  "Coba perhatikan ya ...lihat sepanjang barisan ini niih.. rata-rata yang
berjualan ibu ibu..dan mereka berjilbab semua, gimana tuh ?". Aku terpana.

   " Yaaa itu teteh...sejak habis kerusuhan semua ibu-ibu di Poso pada pake
jilbab, biar gimana keq modelnya " jawabnya  " Ohh Alhamdulillah. ..ya itu impak
yang bagus ya? ' aku terus berfikir sambil terselip rasa kagum.

   " Laaah iyalah..kerusuhan ini ada pelajarannya..." Nurdin menjawab dengan
tegas.
   " Nnahh itu tuuuh pembelanja yang tidak berjilbab ...kakinya telanjang, siapa
tuuh ?", tanyaku lagi.  " Ohh itu biasanya mereka adalah tetangga sebelah dari
Lage atau Betania.

   Sekarang mereka dah pe-de banget Teh... engga perlu dikawal aparat lagi ...",
ujar. Nur. Menarik juga. Jadi sesungguhnya sudah ada interaksi antar dua komunitas. Walau kami dengar perdamaian itu setengah dipaksakan. Akhirnya kami mencari warung sambil menikmati sarapan ala pasar. Kami lanjut....terik sang mentari kian memanas, desingan sura motor para pengemudi Ojeg menambah riuhnya pasar..


   Janda-janda Walisongo
   Akhirnya kami tiba disebuah komplek rumah-rumah gubuk atau gedek, kami
dipersilahkan duduk dibangku buatan bambu, ditemui oleh seorang lelaki,
memperkenalkan diri sebagai wakil kepala desa, kami berbincang. Semeliwir angin
mampir diwajahku, terasa sejuk.


   " Waah sayang bu mereka lagi kekebun... lagi metik coklat, separuh jualan
dipasar", ujarnya, sambil menyilakan untuk minum hidangan yang disediakan.

   " Anak anak belum pulang dari sekolah, pak ?" tanyaku

   " Sebentar lagi mereka pulang bu " ujar pak Wakdes.

   Pak Wakdes masuk kedalam. Ia menunjukan kepada kami buku berukuran besar.
Didalamnya catatan daftar anggota warga Kilosembilan. Aku takjub.


   Sesungguhnya desa Walisongo sudah tidak eksis lagi namun administrasi masih
berjalan dan jabatan seperti Kepala dan Wakil Kepala Desa masih ada, bahkan
daftar urutan warga masih ada, tertata dengan rapi.


   Konon mereka tersebar dimana-mana, diantaranya di Palu. Bahkan ada yang mudik ke Jawa. Aku sempat menemui Ilham, saksi hidup di Palu, the survivor, ia
menunjukan bekas luka bajokan di punggung belakang.


   Sambil menunggu anak-anak kami berbincang tentang kondisi umum dan nasib
mereka yang masih berstatus pengungsi dan belum berani kembali ke desanya yang berada di desa Sintuwulemba, kecamatan Lage


   Mereka Terusir...
   Mereka, terusir dari kampung halamannya di Sintuwulemba sejak bulan Mei 2000,
desa yang berjarak kira kira 9 kilo dari kota Poso. Sebuah desa yagn dibangun
oleh komunitas Jawa yang dikenal dengan kemakmuran dan kesuburan tanahnya.
Menurut laporan ada sekitar sekitar 400-an warga yang menjadi pada masa
kerusuhan.


   Atau, mereka yang terperangkap di masjid, yang tak memiliki lagi pilihan
kendati mereka melambaikan bendera putih sebagai tanda menyerah dan damai. Ada sekitar 70 santri dan ustadznya, mereka dihabiskan nyawanya didalam mesjid itu.


   Cabikan dari Bedug dan percikan darah masih nampak membekas didinding, daftar nama khotib dan rekapitulasi dana masjid masih terpampang, diam membisu.
Begitu juga bercak darah dilantai kelihatan, kendati sudah mereka cuci namun
tidak juga pupus. Diam statis, ingin tetap jadi saksi, menyisakan selaksa nyeri
dihati.


   Entahlah..bulu kudukku jadi berdiri saat aku berjalan didalam masjid,
merinding, hening dan sunyi. Begitu  heningnya hingga aku bisa mendengar suara
nyamuk yang berupaya  menyengat. Whooof mereka haus darah pula !


   Sedang rumah-rumah pendudukpun telah rata dengan tanah. Tanaman begitu bebas menjalar merayapi sisa reruntuhan, bunga matahari, pink cerah sang bogenville terjuntai dan merambah liar, seakan ingin mengatakan kesaksikan mereka kepadaku.

Kilatnya dedaunan yang hijau pekat dari pohon nangka, pisang dan alpukat,
memantul oleh siraman sinarnya mentari, menunjukan kesuburan tanah di desa itu.
'Deserted town',  kota atau desa  yang ditinggalkan oleh penghuninya karena kalah perang. Mati. Totally. Aku cuma bisa menarik napas dalam.


   Suasana diluar terasa dan nampak angker. Mereka, para aparatpun mengatakan
bahwa mereka sangat tidak menyukai ditempatkan disitu karena sering mendengar
dan menyaksikan yang aneh dan menyeramkan.


   Kami keluar, kesamping  Masjid. Menohok kebelakang halaman masjid. Tak jauh
dari situ memang ada tepian sungai atau Kuala. Sejauh mata memandang...tanpak
hamparan sawah dan kebun coklat yang tak berbatas luasnya, yang konon dijadikan salah satu alasan dari beberapa teori sebuah konflik entah itu 'kecemburuan sosial', atau karena mereka transmigran dari Jawa yang dianggap sebagai pendatang yang harus hengkang dari bumi Poso, yang menyebabkan Tibo dan regu pembantai datang disuatu keremangan subuh untuk menghabisi nasib warga Kilosembilan.


   Konon Tibo amat dikenal didesa Sintuwulemba, ibu-ibu dari Walisongo bertutur
bahwa Tibo sering datang dan singgah sehingga anak-anak disana memanggilnya 'Oom Tibo..Oom Tibo !'. Ahh aku jadi hanyut.. membawa kenangan perjumpaan pertama dengan ibu-ibu janda di Masjid di Jalan Jawa atau Madura di bulan Januari 2001.  Aku berupaya berhenti mengingat masa lalu.....

                   ***

   Ibu-ibu mulai berdatangan, mereka mematut-matut diri mengenakan baju seadanya berupa kebaya dan kerudung menyampir dikepalanya.  Mereka berusaha tersenyum. Aku tahu dibalik kerut dahinya menyimpan seribu duka, senyuman itu...sepertinya terpaksa. Nampak dari binar mata ibu-ibu, membias rasa bahagia kendati sesungguhnya berupaya menutupi derita mereka. Mendapat kunjungan seperti ini, serta perhatian mungkin amatlah berarti buat mereka.


   "Aduuh nak dah lama ndak kemari...kami kangen sekali sama nak, kapan datang
nak? eiih mereka ingat, direngkuhnya tanganku, dipeluknya aku.


   "Ohh kemarin sore bu..tadi habis jalan jalan kepasar nengoki ibu ibu yang
sedang berjualan" jawabku, sambil mengumbar senyumku.


   Akhirnya bermunculan ibu-ibu baik yang tua dan muda.  Mereka, kebanyakan
adalah janda. Tak lama anak- anakpun berdatangan.Menyalamiku. Yang perempuan, tentu berjilbab,  anak dari ayahnya yang mati terbantai, direnggut dari
kehidupan mereka, sehingga mereka jadi yatim. Mata mereka, sepenuhnya ditujukan kepadaku.


   "Ibu..ini ibu saya dapat struk, sebelah kanan, tengoklah, disini ada 3 yang
terkena strok bu." salah seorang ibu muda menunjukan seorang ibunya yang renta.
Ia cuma bisa mengulurkan tangannya sebelah kiri. Akhirnya mereka duduk berjejer,
duduk dengan manisnya.


   Lalu mulailah aku berbincang dan memberi semangat kepada mereka. Mas Pram dan Nurdin menuliskan nama nama mereka baik yang janda dan semua yatim. Tanganku mulai bermain cetrak cetrek menyiapkan dan mencari wajah-wajah fotojenik. Nampak anak anak bersiap siap diri untuk dijepret. Ahh  anak-anak! Ada yang menyembunyikan wajahnya, yang nangis.. macam macam. Akhirnya  kuberikan sang kamera ke mas Pramudya.


   "Ibu-ibu dan anak anak maaf ya saya tidak ada waktu cari amplop jadi saya
berikan begini saja, ini ada zakat dari donatur kami di Inggris, mohon diterima
ya" lalu Nurdin memanggil nama nama, satu satu datang bergantian dan bersalaman.


   Seorang Ibu menangis terisak-isak menerima sadaqah, seakan kebahagian dan
keharuan itu tak bisa mereka bendung, sehingga lama tangannya menggenggam
tanganku, sambil kepeluk,"Gak apa ibu ini namanya rejeki..terima saja" bujukku.

Air matanya menitik dikala ibu jnada menerima santunan 50 ribu...


   "Naaak..limangpuluhewu.. ya Allah  besar naak .kami terbiasa dengan ribuan
saja naaak dan itupun lusuh.." diciumnya aku.


  "Alaaamak..isakannya membuat hatiku terkoyak, keharuannya membuat leherku
serasa tercekak ingin menangis pula.." akhirnya aku dilepas, lalu distribusi itu
terus berlangsung hingga selesai, kami lanjutkan dengan menghabiskan minuman dan percakapan lainnya untuk masa depan mereka.

 

Paska Konflik Poso
   Konon masyarakat belum bersedia kembali ke tempat tinggalnya semula. Kondisi
Poso memang belum bisa dikatakan pulih seutuhnya. Demikian pula warga Muslim di Kilo Sembilan, dimana Pesantren Walisongo berada. Mereka betul-betul wegah dan enggan pulang karena khawatir kalau-kalau masih terjadi gangguan keamanan. Hal ini sering dibuktikan dan masih akan terjadi

   .
   Pak Wades mengatakan bahwa hingga kini warga Kilosembilan belum menerima dana Tunjangan atau Jaminan Hidup (Jadup). Mereka cuma mendengar kabar dan dana tsb tidak pernah sampai ketangan mereka sedang dana sejumlah Rp 2.5 sebagai dana RTS (Rumah Tinggal Sementara) juga sama. Tangan mereka masih hampa.


   " Ini gubug yang kami bangun hasil usaha kami sendiri.Kami mencari kayu kayu
bekas, coba ibu lihat masih ada bekas bakaran.  Kami cicil bu" ujarnya.


   "Bu saya dengar dana bantuan itu ada..tapi ko kami belum terima, dan kami
tidak tahu bagaimana nasib kampung kami disana ?" keluhnya.


   Nurdin menjawab bahwa mereka mendengar kabar burung kalau dana itu ada tapi tersangkut entah dimana. Itu yang menjadi pertanyaan. Sedang warga lainnya telah mendapat bantuan.


   Untuk kembali menetap memang tidaklah mungkin sementara kebutuhan hidup terus menuntut, maka satu-satunya jalan mereka pergi menuai hasil tanaman cocoa
beramai ramai, walau dulu, saat masih rawan biasanya mereka minta dikawal.

   Mereka, tentu membayar para aparat. Lama-lama mereka tak mampu lagi membayar akhirnya mereka berbekal nekad pergi tanpak pengawalan aparat.
Telah terjadi beberapa insiden dari warga saat pergi keladang untuk memetik
hasil tanaman, tahu tahu mereka sudah dihadang oleh libasan parang nan panjang.


   Namun keadaan ini tidak membuat mereka menyerah. Mereka, yang tersisa
berpasrah diri, kalaulah itu terjadi pada diri mereka kalaulah ajal menjemput
dengan kalungan parang tentu mereka berharap menjadi syahid.


   Desa Sindutuwulemab yang subur dengan hektaran sawah dan kebun coklatnya
berada Kecamatan Lage. Sedang desa Sintuwulemba itu sendiri satu satunya desa
Muslim yang secara demografis memang terjepit diantara desa desa Nashrani. Jadi
memang tidak heran kalau Sintuwulemba keberadaannya betul betul terjepit. Disaat
mereka terkepung..mereka tak bisa melarikan diri kecuali lari kesungai.


   Membicarakan konflik Poso, mengurai kembali masalah pengembalian pengungsi,
wilayah Lombogia dan Kilo Sembilan selalu tidak lepas dari perhatian. Ketika
warga asli dua wilayah itu belum bersedia kembali, selama itu pula masih ada
kekhawatiran bahwa kondisi Poso akan terus bermasalah.


   Mereka betul betul terusir dari kampung halamannya sendiri, dan mereka jadi
pengungsi di negerinya sendiri. Undang undang tidak menjamin keselamatan dan
kemananan mereka sebagai warga dari Republik ini..Nasib mereka masih terlunta.
Desa Sintuwulemba kini tanpak angker, liar dan menakutkan. Desa tak bertuan,
yang menyimpan seribu duka nestapa anak manusia.

Moga bercak dan simbahan darah mereka akan menjadi saksi dan menanti para pemiliknya, disana. Akan tetap hidup.Konon tetes darah para syuhada melebihi kehebatan tinta para 'alim- piawai danpemilik ilmu. Allahu alam bisawab.

   Kutinggalkan tanah Poso..tanpak meninggalan selaksa janji dan harapan

   Jakarta, Juli 2004.

---

Ini memang catatan lama, lama sekali tersimpan.  Bukan bermaksud hendak
membuka luka lama, open the old wound...dari catatan lama ini justru menunjukan
bahwa saksi mata itu masih menderita dan dengan mata telanjang kesaksian mereka tak bisa diabaiakan begitu saja.


Posted at 03:51 pm by alshahida
Make a comment  

Next Page