alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Wednesday, April 12, 2006
Jihadnya Muslimah (habis)

"Kemantapan aqidah pada jiwa seseorang dan dinamika iman yang ada dalam qalbunya akan menentukan kualitas istiqomahnya kepada ajaran Allah subhana huwa ta'ala".
 
 
Cerita jilbab Eliza
 
Eliza salah seorang pemukim di Inggris yang bersuamikan orang Inggris mulai merindukan sesuatu . Entah itu suara azan,  alunan kalimatullah bahkan ia rindu seseorang yang mengingatkan untuk sholat. Ia mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang yakni ruh iman yang mulai  diam diam menyelinap di nurani Eliza. .
 
Seperti layaknya Muslimah lainnya Eliza mengenakan jilbab atau kerudung pada saat hendak  ke pengajian. Entah itu pengajian mingguan, dua mingguan atau bulanan. Beragam tentunya.  Baik bentuk, warna serta model tentunya. Yang cuma sekedar menyampir dibabhupun banyak, ada yang dilekatkan dengan peniti ada yang dibiarkan melorot naik turun,  teman yang usil menamakan  jilbab yoyo.
 
Tak segan-segan Eliz mangundang  teman mahasiswa  kerumahnya diskusi, yang kebanyakan dosen dari berbagai universitas di Indonesia yang tengah meraih titel master atau PhD. Ia selalu berupaya keras untuk membaurkan mereka dengan suaminya yang bule Inggris. Dari seringnya bertemu akhirnya  mereka sepakat untuk membentuk sebuah halaqah (pengajian).
 
Demo jilbab di Kedutaan Perancis, London, Eliza ikut aktif.
 
 
Ramadhan yang spesial
 
Dibulan Ramadhan.. bisa jadi  bulan dimana ibu ibu atau remaja muslimah rajin menyampirkan jilbabnya. Temporer saja. Namun tak  jarang dibulan yang suci ini banyak Muslimah menjadikan starting point untuk melekatkan jilbabnya.
 
Begitu yang terjadi pada diri Eliza.  Pada suatu Ramadhan ia belajar mengenakan jilbab penuh. Acara iftharan, buka bersama yang diselenggarakan oleh kbri disetiap akhir pekan itu ia hadiri secara rutin, ia juga menjadi bagian dari acara pengajian ini. Liz  agak rikuh saat memasuki gedung ka-be-er-i, sekalipun terselip rasa bangga, berjalan melewati para jama'ah ibu ibu dan remaja:
 
"eh bu Haji....ibu Haji iiih pantes deh", Eliza tersenyum sambil berfikir, kenapa mereka panggil ibu haji, hanya karena pakai jilbab? Panggilan ini membuat ia berfikir kalau ia harus  melakukan ibadah haji? 
 
Pada pekan ketiga Ramadhan tiba tiba Eliza terpanggil hatinya untuk melakukan ibadah haji.Panggilan itu begitu kuat. Liz tak fikir panjang, ia mengajak temannya Amina, mereka sepakat. Merekapun daftar dan saat ada ada sekitar 19 orang. 
 
            ***
 
Syahdan ibadah haji ditunaikan  bersama rombongan  dari United Kingdom.. Sukar dipaparkan bagaimana pengalaman spiritual yang unik ini yang sering bermuara pada sebuah perubahan, nyatanya  harapan dan doa agar menjadi hajjah mabrur itu terbuktikan.
 
 
Begitu yang terjadi pada diri Eliza..ibadah itu ia lakukan dengan intens dan sepenuhnya.  Disitu ia merasakan kesendirian dan lemahnya sebagai  seorang hamba, merasakan kebesaran Allah yang Akbar. Ia berpasrah diri sepenuhnya. Total. Disana Eliza mengadu dan mengaduh diiringi deraian  airmata baik didepan pintu Mu'tazam dan dipadang Arofah dan Ar-Raudhah.
 
 
Di Mekkah...
 
Usai melakukan lempar jumrah para jama'ah perempuan tengah santai, duduk  sambil minum teh dengan daun mint, mereka tengah mendiskusikan berbagai macam termasuk masalah jilbab,  beberapa ibu berpesan...
 
'Itu jilbabnya nanti gak boleh turun lagi lho Liz...kamu khan udah haji..' Eliza menganggukan kepala, walau hatinya tidak seratus persen meng-iyakan.
 
"Wajib lho hukumnya...!'kak Wardah meyakinkan.  Dia diam.
 
Eliza tahu bahwa itu hukumnya wajib.Liz bergumam pada dirinya.
 
" Pikir pikir dululah !" sambil ia menundukan kepalanya ke karpet.
 
Saatnya pulang ke Inggris tentu semua ibu-ibu mengenakan jilbab  mulai dari Mekkah, Jeddah, hingga di bandara Heathrow. Bahkan beberapa ibu-ibu menyiapkan jilbab yang spesial dari Indonesia.  Jilbab itu melekat hingga di Heathrow, hingga dirumah...hingga para sahabat menelfon mengucapkan selamat datang dan kembali dirumah,  hingga pertanyaan terlontar :
 
"Selamat bu Haji...selamat datang..selamat deh " ujar teman-teman.
 
"Liz kamu pake jilbab dong  sekarang...?" pertanyaan ini cukup  membuatnya gagap. Tidak siap apa jawabannya..
 
"Hemmmm..iya..insya Allah..." jawabnya tak yakin.
 
Hampir semua yang menelfon menanyakan kalau Eliza pakai jilbab
yang membuatnya berfikir..tidak itu saja bahkan telah mengusik hatinya.
 
Lalu ia lari kekamar, dicarinya kerudung yang dibeli dipasar Seng di Mekkah, lalu dililitkan kekepalanya dijepit dengan peniti. Eliza berdiri didepan kaca, melihat dirinya dari samping, kiri& kanan, depan lalu dari belakang, berputar berkali kali.
 
" Aku pake jilbab....aku pake jilbab?" ia bertanya pada dirinya.
 
"Ahhh,..yang bener saja...suamiku khan bule, apa kata orang? Eliza bertanya dan menjawab dan bingung sendiri.
 
Akhirnya ia lemparkan sang scarf ketempat tidur, ia  masih ragu dan tak tahu apa jawabannya. Eliza menyelesaikan buku bacaannya. Sesekali ia melihat lihat foto kenangan berhaji. Tiba tiba telefon berdering, kali ini dari teman seperjalanan pak Yusuf dari Wales:
 
"Liz..assalamualaikum, gimana kabarnya?  Liz menyambutnya penuh antusias.
 
"Kemarin dulu khan tanya tentang jilbab, wajib tidaknya , gimana masih ragu ragu ya atau sudah yakin?" tanya Yusuf.
 
Yusuf ingin meyakinkan temannya bahwa jilbab itu wajib dipakai oleh muslimah, dia mengutip beberapa ayat dari Al-Quran, apalagi Eliza  yang sudah melaksanakn ibadah haji. Begitu telefon dia taruh Eliza menggerutu:
 
"Masak sih aku pakai jilbab, eh tunggu dulu, apa kata suamiku. Gimana kata teman2ku, mertua dan iparku, juga teman suamiku. Gimana kata si anu dan si Inu..? " pening kepala Eliza memikirkan sikap dan reaksi orang orang disekitarnya andai ia memutuskan berjilbab. Ia sibuk berandai-andai. Mulailah terjadi perang dibathin.
 
Padahal ia tengah menikmati ketenangan jiwa,  merasakan kedekatan dengan Tuhannya, rasa mutmainnah itu telah ia dapatkan merasuk kerelung hatinya..kenapa sekarang ia dihadapkan dengan masalah jilbab?
 
Gundah...
 
"Ehh ntar dulu..kenapa aku harus memikirkan orang, kenapa aku harus kawatir dengan mereka, manusia, kenapa aku mencari ridho manusia..padahal di pintu mu'tazam, di Arofah  aku sudah memohon ampun..aku bertaubat !". Nurani Eliza mulai bergejolak, antara menyenangkan  manusia atau Tuhannya. Sesaat Liz menyimpan gundahnya ini sendiri. Lalu ia cari ayat ayat dan buku tentang jilbab. Ia temukan, ia cermati. Disimpan dalam dihatinya hingga saatnya tiba untuk ke pengajian.
 
Pengajian bulanan bertepatan dengan penyambutan para jamaah Haji. Ia duduk bersama mereka. Eliza betul betul merasakan sesuatu yang sukar digambarkan oleh kata-kata. Indah rasanya disambut. Dirinya seperti baru pulang dari perang, menaklukan segala kedegilan hati, kedekilan qalbu...konon ada yang mengatakan bagai bayi baru lahir - masing-masing diminta  bercerita tentang pengalaman, ia mendengar: 
 
" Ibu ibu itu kerudung tidak boleh turun sampai  40 hari..." ujar seorang ibu
 
"Lah kenapa cuma 40 hari, kenapa tidak 100 hari" Eliza memandang pada si ibu ini, protes dihatinya. Hadith yang mana pula yang ia fatwakan.
 
"Selamat bu haji...loh kamu pake jilbab tokh, gimana suamimu" tanya salah seorang teman, sambil ditatapnya wajah Eliza. Tatapan  penuh pesona. Eliza memang tampak cantik malam itu. 'Inner beauty', kecantikan yang menyeruak dari dalam.
 
Pertanyaan yang sama datang saling bergantian dari teman dan sahabat. Padahal saat itu Eliza belum tahu apakah dia akan berjilbab atau tidak. Niatan itu masih disimpan saja didalam hatinya.  Masih dalam pertimbangan.
 
 
Dipengajian student
 
Saatnya tiba pengajiana dengan teman-teman student yang juga dalam rangka menyambut kedatangan jamaah haji. Tatkala Eliza memarkir mobilnya ia melihat teman yang sama sama berhaji , Astria,  datang dari ujung jalan yang berlawanan arah, dari Imperial College, ia mengenakan jilbab berwarna biru kelabu. Eliza berdetak jantungnya, serasa tertantang...
 
"Ya ampuun... Astria..dia pakai jilbab...kenapa aku tidak? Eliza terpukau kendati hatinya agak galau, namun ia merasa terpanggil. Pada saat istirahat ia menarik Astria kepojokan untuk menanyakan jilbabnya.
 
"Astria...kau pakai jilbab, betul nih..full time ?" Liz merepet bertanya hingga Astria tak sempat menjawab. Astria memang amat pendiam dan pemalu.
 
"Insya Allah...doanya saja mbak " jawabnya lalu dipeluknya Astria sebagai tanda salut. Akhirnya mereka berjanji untuk saling mendukung. Tiba tiba Eliza mendapat semangat dan bersikukuh bahwa dia harus mengenakan jilbabnya.
 
Di pengajian mingguan, khusus ibu-ibu, Liz juga datang  dengan rajinnya.  Ia kenakan dengan rapihnya hingga seorang ibu bertanya:
 
"Liz kamu koq rapih sekali jilbabnya...emang kamu pake jilbab ya sekarang? tanya siibu dengan logat Sunda, istri yang pejabat bumn itu.
 
"Memang kelihatannya gimana Ceu ?" tanyanya kembali
 
" Ya kelihatannya kamu pake, habis rapih banget." jawabnya.
 
"Tapi..." tambahnya lagi
 
"Yang pake jilbab belum tentu dijamin masuk  surga kahn, lagian pak Nurholis bilang kalau jilbab itu hukumnya tidak wajib khan? " tentu saja Liz terkesima, serasa disambar petir telinganya mendengar komentar dan pernyataan ini, belum sempat ia menjawab
 
" Lihat saja ..istrinya saja tidak pake jilbab khan?" ingin meyakinkan
 
"Duuh ibu kalau pakai saja masih belum dijamin gimana yang tidak pake..lagian ini khan perintahnya untuk orang-orang yang beriman ya, coba deh  baca lagi perintahnya " agak ketus juga Liz menjawab.
 
"Saya tuh belum mampu pake jilbab, itu saja masalahnya?" tambahnya.
 
"Ahh  ibu..belum mampu  apa belum mau. Ya kalau belum ya sudah tidak mengapa tapi jangan memelintir ayat Allah dong, ..dosanya jadi berlipat ganda .." Liz berharap ini bisa menyerap. Sepertinya Eliza harus dan akan siap dengan berbagai komentar dan sindiran.
 
 
Suasana Usai Haji
 
Eliza merasakan suatu kenikmatan sepulangnya dari Haji.  Ia lanjutkan ibadah ritual sebagaimana ia beribadah di Masjidil Haram seperti sholat Dhuha, sholat wajib ditambah sholat rawathib, disambung dengan dzikir yang cukup lama dan bahkan sholat tahajjudpun menjadi rutinitasnya.
 
Sepertinya haji itu sebuah madrasah dimana ia ditempa untuk menjadi sosok yang  bergairah untuk meraih kembali ghirrohnya berIslam. Ternyata bias tangisnya ditanah haram sana telah memberikan imbas pada sebuah perubahan.
 
Eliza...berniat memakai jilbab kendati ia tahu  akan banyak kendala. Ia tahu bahwa ini perjuangan berat. Bermujahadah adalah pilihannya. Siap menghadapi segala kemungkinan. Pergolakan jiwanya untuk mengenakan jilbab mulai memenuhi benaknya, kian menguat. Pintu dam/bendungan air itu telah bobol, begitu kira-kira..
 
Tiba saatnya bagi Liz untuk muncul dipertemuan umum seperti pertemuan bulanan dengan Darma Wanita. Ia ucapkan  'Bismillah' , lalu ia tutup kepalanya dengan jilbab berwarna hitam, dihiasi lilitan kecil bermotifkan loreng. Kedatangan Eliza pada pertemuan itu sungguh membuat semua ibu-ibu terperangah. Liz malu tersipu karena dia mendapat perhatian  begitu banyak.
 
Eliza agak merasa sedih saat ia menyalami dengan ibu, teman serombongan saat berhaji...si ibu malah membuang mukanya..sepertiya tak sudi melihat Liz  berjilbab. Ia hanya bisa menarik napas panjang.
 
Dan seterusnya...hingga jilbabnya menjadikan percakapan ramai.Tentu saja keputusan dan nekadnya  membuat heboh khalayak disekitarnya. Sedang suami Eliza adalah orang Inggris atau jangan jangan dia satu satunya perempuan pertma Indonesia yang bersuamikan Inggris mengenakan jilbab. Wallahu alam.
 
"Ehh betul si Liz pake jilbab, kasihan ya suaminya? atau
 
" Ehhh..gak salah niii pake jilbab..suami gimana, gak apa apa?", sa'at Liz amprokan dengan seorang ibu dikereta.
 
 " Ya apa apa sih bu,..tapi mau apa?" dengan santainya Liz menjawab
 
"Kenap siih si Eliza pake jilbab" nah ini pertanyaan yang membuat Eliza tak tahu apa jawabnya.
 
" Liz..kamu terlalu ekstrim..perubahanmu terlalu drastis" itu kira kira kalimat-kalimat  yang selalu ia dengar 2 -3 bulan terakhir. Namun hal ini tidak membuat nya mundur dan merubah fikirannya.
 
Sebaliknya ia merasakan suatu ketenangan dalam dirinya, oh bahkan ia bangga dengan jihadnya yang telah mampu menaklukan nafs-nya. Ia tahu betapa upayanya menekan perasaaan takut dan bingungnya. Namun ia tak paham kenapa orang lebih memikirkan dan merasa kasihan pada suaminya.
 
Yang pertama...
 
Sebelum Liz mengenakan jilbab penuh ia memulai dengan mengenakan topi pada saat mengantar dan menjemput anak kesekolah, atau ke swalayan dan ketempat lainnya itupun ternyata membuat dirinya tersiksa sampai Eliza memutuskannya.
 
Pada saat ke pengajian rutin baik yang bulanan atau dua mingguan sang suami tidak memperhatikan karena dia fikir itu busana untuk ke pengajian serta acara dan tradisi Indonesia.  Suatu hari mereka berjalan bersama ke swalayan, Eliza mengenakan jilbab.
 
" Hey where are you going.. ..I thought we are going to supermarket..?" tanya sang suami dengan penuh keheranan.
 
Kali ini memang Liz ingin menguji dan ingin melihat reaksi suaminya. Dia memang tidak akan minta ijin atau memberi tahu suaminya bahwa Liz pakai jilbab. Dia tahu betul jawabannya.
 
"I thought you wear that only for Indonesian occasion..now you wear that " sedang pertanyaan yang pertama belum dijawab.
 
" Yes I have to wear this because...I have performed my hajj...ya saya pakai ini karena saya sudah melaksanakan ibadah haji" tegasnya.
 
"But this is England, not Arab..and you dont have to wear that in this country,  you dont need it", pintanya, dibarengi rasa heran dan bingung.
 
Eliza menerangkan bahwa ini bukan soal Arab dan Eropa tapi masalah  kewajiban dan hukum yang  harus ia patuhi.
 
" Liz...kamu  engga merasakan perasaan saya..jalan sama kamu berkerudung...apa saya harus pake baju pastur, aku mau tahu gimana perasanan kamu? Liza diam, berusaha senyum walau hatinya kecut.
 
"Silakan saja kalau kamu mau. Emangnya malu jalan sama yang berjilbab?" Liz mulai bersikeras.
 
"Ya sudah ..engga sudah enggak usah  jalan sama saya!" Eliza keluar dari mobil. Betul saja untuk beberapa saat mereka tidak pernah jalan bersama. Buat Eliz tidak menjadi masalah, tokh  dia juga bisa menyetir mobil sendiri.
 
Suasana rumah tangga Eliza mulai terasa tidak harmonis. Mereka bicara seperlunya saja, sedang Liz tetap menjalankan tugasnya sebagai istri dan ibu rumah tangga untuk keluarganya.
 
Ujian demi ujian Liz lalui seperti sikap dari ibu-ibu Inggris yang biasa berteguran disekolah anak anaknya kini mereka agak mundur, menjaga jarak,  bahkan memalingkan wajah. Termasuk kakak-kaka ipar dan mertua..
 
"Hemmmm risiko.." fikir Eliza.
 
                ***
 
Suatu senja...
 
Suatu senja sang suami mengatkan kepada Liz bahwa temannya  Randy dan istrinya dari Amerika akan  transit beberapa jam dan akan singgah kerumah dan meminta Liz untuk menjamunya. Tentu saja Liz mengatakan ya.
 
 
"Lalu kamu nanti tetap mau pakai jilbab, Liz?" tanya sang suami
 
"Loh apa kaitannya jilbab dan Randy..?" tanyanya
 
"Ya fikir saja Liz apa nanti kata temanku ..kamu pakai jilbab", mereka mulai ribut bertengkar soal jilbab.
 
"Aku tidak mengira kalau kepulanganmu dari haji akan membuatmu berubah seratus delapan puluh derajat, begitu drastis, kamu egois..Liz..kamu tidak merasakan perasaan saya!" sambil menutup wajahnya, setengah marah dan kecewa
 
"Apa siiih yang dipersoalkan cuma sehelai kain saja, is it a big deal !?" Liz mulai menantang suaminya.
 
"I know its only  a pice of cloth...its a big deal..kalau begitu kenapa kau mempertahannya kalau juga cuma selembar kain...?, kian memanas. Eliza mulai merasakan sedih mendapat tantangan keras dari suaminya.
 
Tiba tiba ingatan Liz  melanglang jauh..ke Ka'bah, padang Arofah. Teringat saat ia memohon kepada Allah agar hidayat itu dilimpahkan kepada suaminya, agar nur itu diselipkan diqalbunya. Ia mengadu dan mengaduh diiringi tangis hingga rasanya tak ada lagi air mata tersisa.
 
 
" Ya Allah..tak ada kebahagian lain  kecuali bila suamiku kembali mengakui keberadaanMu, kebesaranMu..ya Allah berikan nurMu, selamatkan perkawinan kami...kalau  saja..ya Allah..ya Allah..."Liz tak sanggup melanjutkan  rasa pilunya" sambil berharap saat ia balik ke Uk nanti akan ada perubahan.
 
Liz sering duduk merenung ditangga Masjidil Haram, menyaksikan lalu lalangnya manusia. Ia merasa cemburu menyaksikan pasangan suami istri, mereka saling melindungi..sholat bersama, tawaf  dan berdoa bersama...sedang Liz sendiri saja..tanpak suami. Dia berdoa bisa kembali ke Ka'bah bersama suaminya.
 
                                  ***
 
 
Demikian... kini Liz berhadapan dengan kenyataan, dia merasa doanya tak pernah sampai, jangankan ada perubahan sikap suaminya sangat kontradiktif. Lalu salahkah kalau Liz menjadi lebih relijius, salahkah bila Liz mencintai Rabbnya? 
 
"Jadiiii..kau lebih dekat dengan Allah sedang engkau menjauhi aku, ohh kau tega sekali ?", suatu hari  pertengkaran itu terjadi kembali. 
 
Tak terasa..mata Liz mulai memanas,  tak mampu menahan perih hatinyanya. Serasa didera...deraian air matapun tak terbendung. Ia menyadari bahwa betapa suaminya membenci jilbabnya, Islamnya.  Lalu masih cintakah ia kepada Liz atau masih cintakah Liz pada suaminya. Hal ini ia benamkan dalam perasaannya.
 
 
Dalam tangisnya Lis tertidur, dalam kegundahan Liz terlelap dengan berbagai masalah dan pilihan antara suami dan Rabbnya. Hingga ia terbangun lewat engah malam..saat dimana ia menyampaikan kegusaran hatinya pada pemilik hati. Tahajjud.
 
                          ***
 
Setahun lebih sejak Liz berjilbab, pasangan ini tidak lagi jalan bersama.  Liz tetap bertahan pada keputusannya untuk tidak melepas jilbabnya sambil terus Liz membaca buku-buku ke Islaman. Dicarinya juga buku-buku Islam dalam bahasa Inggris untuk suaminya.  Liz tetap bersabar dan dia sangat memaklumi ini.
 
Entah bagaimana diantara percakapan suami Liz menerima dan memahami ketegasan Liz dalam berjilbab. Perkawinan mereka dalam kondisi sangat retak. Namun mereka berupaya untuk menyepakati perbedaan. Ada perubahan sedikit sang  suami bersedia membaca buku-buku yang Liz belikan.
 
" Ok Liz aku ngalah dehh..gak apa..aku mendingan ada Liz dengan jilbabnya dari pada tidak ada Liz disampingku" uuh Liz merasakan bahagia sekali mendengar pernyataan ini. Namun Liz masih merasakan dan mendengar komentar yang masam dan sindiran sindiran saat Liz kepanasan dimobil,  seperti:
 
" Huh panasnya...' keluh Liz.dimusim panas, mereka didalam mobil.
 
"Siapa suruh? Makanya  jilbabnya dilepas dong, sudah tahu panas ko masih saja pake jilbab",  ujarnya.
 
"Ahhh lebih panas dineraka nanti" jawab Liz dengan ketus. Nampak kesal sekali sang suami sambil dipalingkan wajahnya keluar jendela.
 
***
 
Suatu hari Liz bertanya tentang buku yang ia berikan karena ia ingin diskusi  serta ingin tahu sudah sejauh mana sang suami memahami dari buku tersebut. Namun apa yang Liz dapati:
 
"Maaf Liz aku tidak interesan dengan buku ini, aku tidak tertarik..harus datang dari hati...dari sini niih" sambil ia menunjukan ke dadanya. Liz sangat syock dan kecewa lalu terjadilah pertengkaran yang cukup serius dan menyakitkan hati Liz|:
 
"Liz kamu  jangan coba coba kasih saya kuliah deh..kalau kau memaksaku berarti kau menghina kecerdasanku (intelligent), aku ini orang esakta, tahu khan kamu?".
 
" Selama ini saya tidak pernah menyetopmu untuk mempraktekan agamamu, anything  make you happy, bukankah yang penting kamu bahagia. Tapi jangan mencoba membawa-bawa saya deh..." serasa disambar petir telinga Liz mendengar itu, lehernya serasa dicekik.
 
"Aku turutkan kemauanmu...apa saja yang membuatmu bahagia, kepengajian, berhaji lalu berjilbab, just leave me alone", pintanya. Liz mulai tambah penasaran.
 
"OK..begini saja.. aku mau meyakinkan saja " ucapnya
 
" Kamu...." ucapnya penuh keterpaksaan
 
"Masih percaya tidak sama Allah..." ah terlontar dari mulut Liz.
 
"Ahhh itu urusanku dengan Allah...tapi kau tidak bisa merubahku..dan kau tidak bisa mengikutimu...sorry!" jawabnya.   Pernyataan suami telah menjawab semuanya, fikir Liz. Ia telan kenyataan ini walau pahit. namun Liz tetap tegar. Dia memahami seutuhnya.
 
Seakan dia tahu apa yang akan ia putuskan namun ia menyadari bahwa ia tak boleh tergesa gesa. tak ada jalan lain kecuali meminta petunjuk lewat sholat istikharah dan melanjutkan tahajjudnya, bermunajah kepada Allah. Hal ini ia jalankan cukup lama.
 
                        ***
 
Liz menyadari sepenuhnya bahwa perkawinannya dalam kondisi rapuh, atau layaknya  seperti telur ditepian meja. Bahkan kini suaminya tidak lagi berjalan bersama memenuhi undangan lebaran atau  hari Proklamasi. Dia memilih untuk jalan  bersama anak-anaknya saja.
 
Sementara ia tetap menjalani sholat tahajjud dengan intensnya sambil bertanya pada para ustadz yang ia kenal. Kini. ..benak Liz mulai dibaluti rasa keraguan tentang pernikahannya, takut bila semua ibadah dan amalnya akan sia sia. Kini ia kian yakin kalau suaminya telah banyak bermaksiat kepada Allah - kerap pertengkaran itu selalu disekitar  mengenai agama.
 
Hal ini terus berlangsung sambil ia terus meminta keyakinannya akan langkah yang akan ia putuskan. Liz menyadari sepenuhnya bahwa cintanya terhadap suaminya telah pupus, cinta untuk ayah dari anak anaknya telah sirna..karena ia membenci Rabbnya, agamanya.
 
Eliza tengah bermujahadah, perjuangan bathinnya menuju kedekatan dirinya kepada Allah swt, kecintaannya kepada  Rabb dan RasulNya, ia ingin mencapai pada puncak ketaqwaan. Sedang suami sangat bertentangan..akhirnya Eliza tahu jawabannya.  Ia hanya ingin menyelamatkan dirinya dari panasnya api neraka. Risiko, fikirnya.
 
Konsultasi ia lakukan kepada beberapa ustadz dan imam. Ada dua pendapat. Ada yang mengatakan tetap saja, pertahankan pernikahan tokh juga banyak  Muslim yang tidak praktek atau pernikahan ini sudah tidak valid karena dia banyak menentang Allah.
 
Eliza tidak lagi memikirkan pendapat orang, tidak takut kalau ia tidak akan makan atau takut akan  cemoohan orang-orang atau hilang status sebagai istri seseorang, semua dan sesuatu yang berkaitan dengan duniya ia hilangkan. Dia tidak takut..karena ia yakin bahwa Allah akan menolongnya
 
Keputusan itu...
 
Suatu pagi  Liz  yakin akan keputusannya, ia ke ruang kantor kerjanya, membuka laci untuk mencari surat nikah, lalu ia buka lembar demi lembar. Ditatapnya foto diri dan suaminya, tanggal pernikahan,  lalu ia bergumam sendiri:
 
"Aku...harus bercerai..aku harus meninggalkanmu, aku sudah tak bisa, maafkan aku, rasa toleranku sudah punah.." Sungguh berat dirasakan, Liz menangis sejadi jadinya. Seharian Liz menangisi keputusannya. Namun keputusan ini ia pendam lama.
 
 
Liz menunggu saat yang tepat untuk mengatakan kepada suaminya. Hal ini sungguh berat untuk dikatakan kepada suaminya.  Pada harinya,  Liz mengalami kesulitan, ia cuma menampakan sikap yang  kurang menyenagkan dan nampak gelisah sehinga suaminya bertanya kalau kalau ada masalah  Dengan berat  hati disampaikannya tentang keputusannya untuk bercerai.
 
Hal ini membuat suami sangat, sangat  terkejut dan sama sekali tidak mengira kalau istrinya berani mengajukan perceraian. Gemetar sekujur tubuhnya. Menurutnya semua ini diluar perkiraannya. Tentu saja sang suami menangis dan meminta Liz untuk memikirkan kembali. Liz ..dengan tegar tetap pada keputusan yang ia ambil.
 
Empat jam mereka berdebat dan diskusi...seolah mereka berputar dikorsel dan Liz berulang ulang dengan argumentasinya.  Akhirnya  mereka sepakat bahwa perceraian itu menyakitkan, buat siapa saja namun mereka juga sepakat untuk tidak diakhiri dengan permusuhan dan tidak harus bertengkar didepan pengadilan. Hal ini disepakati bersama. Kedua anaknya mereka panggil  untuk menyampaikan keputusan ini.
 
"Siapa yang akan menyampaikan..kamu apa saya?" tanyanya
 
"Silakan kamu saja..." pinta Liz. Terbata bata sang suami menyampaikan. 
 
"Sebetulnya kami heran...kalian koq masih bisa bertahan lama..." ujar salah seorang mereka.Akhirnya mereka menangis berpelukan, mereka saling minta maaf dan mereka berjanji tidak akan bermusuhan. "Amicable devorce" menurut istilah advokasi.
 
Hal itu memang dibuktikan. Eliza tidak banyak menuntut ..karena dia tahu bahwa haknya akan dipenuhi dan terlindungi hukum Inggris, begitu juga anak anak mereka. Bahkan suaminya begitu kawatir dan selalu memikirkan keadaan kesejahteraan bekas istrinya.
 
Buat Eliza..perceraian itu merupakan sebuah hikmah, bukan sebuah kalamiti atau malapetaka, ia telah menyiapkannya. Perpisahan demi Tuhannya sama sekali tidak membuatnya sedih,  apalagi depressi bahkan sebaliknya..seakan ia terlepas dari beban, terbebas dari rasa berdosa kepada Allah. Ia tidak takut menghadapi resiko, ikhlas semata mengharapkan ridho Illahi.  Allahu alam bisawab.

"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja sungguh-sungguh menuju Rabb-mu, maka kamu pasti akan menemui-Nya." (QS. Al-Insyiqaq : 6).
 
 
London,  1 April, 2006

Posted at 02:49 am by alshahida
Make a comment  

Next Page