alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Tuesday, March 07, 2006
Jihadnya Muslimah




Pengalaman para Muslimah mempertahankan keyakinanannya menutup aurat, adalah 'perjuangan' yang maha berat. Di bawah ini sebuah kisah pengalaman nyata mereka.
Sabtu, 4 Maret 2006

Oleh: Al Shahida


Dalam perjalanan menuju Hackney, London sebelah timur untuk sebuah pertemuan. Dua sahabatku sibuk membincang masalah jilbab.

"Saya heran.. kenapa siih jilbab tetap hangat dan sangat kontravesial dan masih banyak yang pro dan kontra antara kita sendiri? Saya tidak heran siih kalau yang kontra adalah non, yang tak  hentinya meributkan soal jilbab, ya engga sis?," kata sister Kosser yang duduk disebelahku.

"Lah pendapatmu gimana sis?, " balas Nazma yang duduk dibelakang bertanya balik.

"Kamu sendiri sejak kapan pakai jilbab ?"
 
"Baru Juli lalu tuuh..kami pulang dari Haji bulan April, " jawab Kosser.

"Ohhhh baru tokh...welcome to the club," aku mengucapkan selamat pada Kosser.

"Memang berat banget sih memulainya. Jadi masalahnya memang musti ada pemahaman dulu, gak bisa dipakasain tuuh, " ujarnya.

"Jadi gimana tuuh mulanya sis?" desak Nazma penasaran.

"Oh cukup panjang ceritanya sis, " jawab Kosser sambil memutar badannya kebelakang.

"Aku juga bingung sendiri padahal aku khan sudah melakukan ibadah haji, aku bener bener bingung loh, malah perang batin dan stres sendiri. sampai sepertinya aku mendzalimi diri sendiri," tukasnya lagi.

"Oh begitu..lalu ditempat kerja gimana, ada masalah ?" tanyanya lebih penasaran.

"Tidak sih cuma banyak yang terkesima bahkan ada yang agak sinis. Tapi yang sinis malah orang kita sendiri... huh dasar. Aku sudah siap ko sis,"  menegaskan.


Sementara aku sibuk mencari nama jalan, kebetulan memang hari sudah cukup gelap.  Percakapan mengenai jilbab kian menghangat dan terus berlangsung sampai rumah yang kami cari kita kutemui. Kami parkir pas didepan pintu gerbang.

"Ntar diterusin lagi ya sis cerita soal jilbab, menarik sekali tuuh," pintaku.

"OK sis pasti disambung. Ntar ketemuan dong waktu lunch ke kantorku, " ia mengundangku.


Kami tiba di rumah sister Amina yang cukup lama menanti kedatangan kami. Amina, Muslimah yang muallaf,  campuran antara Scottish dan Carribean menyambut kedatangan kami. Kami disuguhi  minuman teh panas English tea, yaitu teh dicampur susu segar, lengkap dengan makanan kecil.

Petang itu kami rapat membincang masalah pendataan dan merancang 'data base' bagi anak anak yatim Indonesia yang akan dipadukan atau dijodohkan dengan para calon orang tua asuh atau donatur kami.

Rapatpun usai hingga pukul 10 malam, usai itu makanan ala Carribean dihidangkan oleh Amina beserta suaminya Abdulkarim pengarang dan author the 'The Shadow'. Satu pekerjaan telah selesai, lalu kami pamit dan pulang.


Seminggu kemudian...

Seperti yang pernah kita janjikan aku akan datang memenuhi undangannya sister Kosser, tapi kami ganti menjadi sore,  jam 5, usai kantor untuk minum kopi. Kutemui di kantornya yang megah itu..

Sister Kosser asli Pakistan. Sosoknya tinggi semampai, satu satunya Muslimah yang mengenakan jilbab digedung CityGroups, gedung yang bersebelahan dengan Menara Canary Warf, Trade Centernya London, pusat perdagangan, perbankan, assuransi, finance dll-nya.

Kami mencari coffee shop  yang masih buka dan sudi melayani kami. Mengingat gedung ini melulu perkantoran maka tak heran rata rata warung kopi, kantin dan restoranpun mulai menaikkan kursi kursi diatas meja, pertanda warung akan ditutup.

Mulailah Kosser berceloteh tentang asal muasal dia berjilbab.

"Sis.. pernah lihat film dokumentasi tidak mengenai perjalan Haji..?" dia memulai.

Aku mencoba mengingatnya. Ooo.. aku baru sadar kalau dia adalah pemerannya, ternyata ia seorang selebriti Muslimah.

"Ohh jadi itu kamu sis.. jadi kamu sudah haji dong..?" Kosser
mengangguk diiringi senyum bangga.

"Tapiiiii...aku tertekan sendiri sis, ada perang bathin dalam diriku!" tambahnya lagi. Sambil menikmati capuccino mulailah  Kosser berceloteh;

"Jadi...ceritanya disuatu pagi saat saya bangun tidur, biasanya saya langsung kekamar mandi ambil wudhu untuk sholat subuh. Kali ini saya duduk lama ditepi tempat tidur. Merenung. Lalu saya bertanya pada diri sendiri..kalau tiba tiba saya mati gimana..?" itu yang terbetik dibenak saya.

"Ya Allah! aku menarik napas dalam dan saya sangat ketakutan, sedih dan ngeri..saya sadar kalau saya belum patuh pada perintahNya. Padahal pada saat saya berhaji saya telah berjanji untuk berserah diri. Lalu saya kekamar mandi. Saya malah menangis dikamar mandi, lama sekali setelah itu saya keringkan air mata barulah berwudhu. Saya menarik napas dalam dan beristighfar", ujarnya, lalu:

"Saya mencoba sholat subuh, memulai takbir tapi koq hati rasanya hancur luluh, saya tak paham.. akhirnya saya kekamar mandi lagi mengulang whudu, barulah saya bisa sholat dengan khusu. Selesai sholat kuberdoa dan minta ampun, aku menangis sejadi jadinya. Maka terjadilah suatu niat dan tekad. Aku mau pake jilbab..that its..!". Kosser melanjutkan ceritanya.

"Jadi sis..subuh itu saya bertekad untuk mengenakan jilbab, hari itu juga!. Setelah sarapan saya minta izin sama suami mau ke kedai, saya titip anak anak.."  lanjutnya lagi.

"Lalu suami sempat bertanya; "Are you ok?" suami agak curiga, karena mungkin mataku agak sembab dan wajahku nampak agak lain pula", tambahnya.

"Ye..yeah I am fine..I am ok,"  sambil saya palingkan muka berusaha menyembunyikan perasaanku".


Undangan Makan Siang

"Hari itu hari Ahad saya sekeluarga diundang oleh bossku yang Amerika untuk Sunday dinner, pukul 2 siang. Staff dikantor kami diundang juga. Saya tak fikir panjang dan langsung pergi kekedai untuk mencari scarf yang akan saya pakai hari itu.. kebetulan dimana kami tinggal banyak sekali kedai-kedai Muslim".

"Tahu enggak...saya sama sekali enggak bilang sama suami, boro boro minta izin" tambah Kosser. Aku kagum. Aku terus mendengarkan ceritanya.

"Saya  pilih 2  helai scarf yang kusuka, lalu pulang kerumah. Scarf kubiarkan dalam kantong plastik. Saya bebenah rumah seperti biasanya karena hari itu hari Ahad lalu saya mengingatkan suami dan anak anak bahwa kita akan pergi kerumah boss agar mereka bersiap siap. Akhirnya kami berangkat kesana".

"O..oo...what is going on. Are you sure you wear that scarf?" tiba-tiba suamiku bertanya penuh keheranan ".

"Yeeep...I am positif and I am decided to wear it, " jawabku dan nampak suami memandangku penuh heran.

Saat Kosser dan keluarga tiba dirumah sang boss, tuan rumah tentu saja sangat terperangah dengan penampilan Kosser yang lain. Kosser  salah tingkah. Seakan semua orang memberikan perhatian khusus dan semua pandangan terarah padanya.. Atau apakah itu perasaaan Koser saja. Kosser bisa membaca dari mata mereka namun dia tak peduli.

Tuan rumah, sang boss menawarkan minuman kepada mereka sebagaimana layaknya tradisi Eropa. Tuan rumah atau suami langsung menawarkan dan membuatkan minuman sebelum tamu duduk. Setelah  masing masing mendapatkan minuman berupa minuman jus, barulah mereka mengambil tempat duduk. Dengan segera boss menarik Kosser kedalam ruangan dan:

 
"What a surprise!...but tell me Kosser..hhhhmmm..." beliau menahan sesaat, Kosser berdegup, deg-degan,  sambil menanti reaksi dan siap dengan pertanyaan.

"I know what you area going to say..." ujar sister Kosser diiringi senyum, sebelum ia ditanya atau ditegur.

"Just tell me and confirm that you are going to wear this scarf in the office," tanya sang boss sambil mencoba menangkap pandangan pegawainya.

"Yes I am going to wear it  and I confirm this", jawab Kosser tegas.

"I know you have performed your hajj few months ago.Its ok for me as long as I know so we know what to expect," sambil kedua tangannya diangkat.

"Well Done! Congratulation!  So you decided ! Of course we support you...and full...remember that ".  Bukan main Kosser merasakan kebahagiaan saat itu.

Akhirnya Kosser memberikan pencerahan tentang jilbab, tentang apa yang terjadi pada nuraninya dan tidak satu imampun yang memerintahkan dia untuk mengenakan jilbab, tidak pula suaminya. Sang boss paham dan pengertian itu merupakan support penuh bagi Kosser.

Kosser bekerja di kawasan Canary Wharf, tepatnya di gedung CityGroup menjabat sebagai Personal Asisstant (PA) meladeni 12 manager dari berbagai bangsa. Ia telah bekerja disitu selama 12 tahun.

Menara Canary Wharf adalah gedung kebanggaan orang Inggris yang dibangun diatas dockland (perairan atau bekas pelabuhan) dengan beratapkan bentuk Piramid. Diujung atap ber-matakan satu yang  berkedip kedip selama 24 jam, nonstop. Situsnya bisa diklik di www.canarywharf.com

Betul saja pada hari pertama Kosser mengenakan jilbab dan pada saat ia menginjakkan kakinya digedung Citygroups yang maha besar itu,  ia merasakan kejanggalan seakan dia dipelototi  oleh orang orang yang berpapasan dengannya.

Reaksi mereka tentu beragam.  Dan yang paling menyakitkan adalah pandangan sinis, kurang menyenangkan datang dari saudara sesama Muslim.

Dia memang satu satunya wanita Muslimah pertama yang mengenakan jilbab digedung itu.

Kosser selalu bangga dengan jilbabnya dan bangga bahwa ia telah mampu menaklukan nuraninya yang selalu berperang antara ya dan tidak.

Akhirnya helai kain itu melekat dikepalanya. Dia ingin sekali kalau langkahnya bisa diikuti oleh para muslimah lainnya, dikantornya yang berada di gedung bergengsi itu,  Canary Wharf Tower, semisal dengan Twin Tower di New York tentunya.

Cerita lainnya

Lain dengan cerita Tayyiba dan Aisya Alvi,  dua sister yang juga sama sama berasal Pakistan berprofesi sebagai `Barrister' atau Pengacara.

Tayibba adalah Barrister pertama Muslimah. Dan satu satunya Muslimah pula yang mengenakan jilbab pula ditempat kerjanya.

Tak terbayangkan saat dia harus menolak mengenakan wig putih panjang hingga bahu (seragham pengacara di Inggris)  dengan melepas jilbabnya. Akhirnya wig tersebut ditaruh diatas jilbabnya.

Mereka tetap berjuang dan mempertahankan hijab sebagai prinsip dan identitas kemusliman mereka. Karena mereka tahu hak mereka sebagai warga Inggris yang bahkan dilindungi oleh undang-undang. Tak ada sedikitpun  rasa takut, bahkan ini dianggapnya sebuah perjuangan.

Demikian dengan sister Aqsa seorang ahli farmasi bekerja di Guy Hospital, London Bridge. Jilbab buatnya tak ada masalah ditempat ia bekerja. Temannya yang non malah lebih respect dan selalu bertanya tentang jilbab.

Atau sister Azizah, Advocate atau lawyer sihitam manis turunan Nigeria, anak mantan diplomat, buatnya berjilbab bukan masalah lagi. Bahkan jilbab merupakan identitas Muslim, kalau kita tidak mengenakannya malah akan dipertanyakan oleh rekan atau temannya yang non Muslim.

Dulu sebelum Azizah mengenakan jilbab dia selalu dituntut oleh temannya yang bukan Muslim. "Lho. .. kamu Muslim koq enggak pake jilbab?" tuntut mereka. Akhirnya Aziza terdorong untuk memulai mengenakan jilbab atau hijab.

Pernah sister Sonwara, seorang asistent Artsitektur asal Bangladesh, diinterview untuk bekerja sebagai arsitektur, begitu diterima langsung dia ditawari:

"Do you need a room for praying... yes?" tanya si calon boss.

"Yes please... thank you...but I dont need the whole room just that much" sambil tangannya memberikan isyarat besarnya ruangan yang ia perlukan untuk sholat. Dia tidak merasakan adanya intimidasi, sikap-sikap yang kurang nyaman atau sikap sikap prejudis dari kolega dan rekan kerjanya.

Tentu saja, baju yang mereka kenakan disesuaikan dengan suasana perkantoran seperti rok panjang atau celana panjang dengan jas tigaperempat hingga lutut. Tidak ketat.

Selagi busana itu praktis, tidak membahayakn dirinya, enak serta nyaman pula dikenakan dan dipandang.......bersambung.


dari http://www.hidayatullah.com/index.php?
option=com_content&task=view&id=2831&Itemid=1



London, 3 Maret 2006





Posted at 03:43 pm by alshahida
Make a comment  

Previous Page Next Page