alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Monday, April 10, 2006
Jihadnya Muslimah (Bagian 2)

 

Sabtu, 11 Maret 2006

 

Dengan jilbab justru para Muslimah marasa terbebas dari tekanan untuk kompetisi kecantikan, bebas dari objek seks dijalanan. "Sayapun bisa jadi lebih nampak sederhana, " kata Jennifer
 


Oleh : Al Shahida
 

 
Hidayatullah.com--Temanku Anisa asal Barbados yang juga muallaf mengundangku kerumahnya di Tooting, untuk acara perpisahan. Keluarga ini akan berhijrah ke Cairo, ingin mencicipi kehidupan dengan nuansa 'Islami' katanya.
 
Aku dikenalkan dengan teman-temannya  yang multi bangsa dan warna. Ada yang tulen Inggris, wanita Aljazair berkebangsaan Perancis,  Jamaika, Ethiopia dan Nigeria. Unik sekali.
 
Aku tertarik dengan penampilan Joana Rowntree, muslimah Inggris asli yang mengenakan busana Muslim penuh. Mirip abaya,  longgar,  berwarna abu-abu dengan jilbab berwarna biru muda. Aku menyapa dan memperkenalkan diri.
 
Joanna, perempuan Inggris berusia sekitar 26/27 tahun, baru saja memeluk agama Islam sekitar 3 tahun. Joanna berprofesi sebagai Medical Reseach bekerja di Guy Hospital, London Bridge. Ini dulu. Cerita bagaimana awalnya ia masuk Islam, ia memaparkan;
 
"Usai sekolah SMU di Inggris saya tidak langsung ke universitas tapi memutuskan untuk melanglang buana. dia percaya bahwa merantau bisa memperluas cakrawala 'Travel can broaden you mind' ujarnya. Saya mendaftarkan  diri untuk jadi volonteer dengan  British Council. Mengajar bahasa Inggris adalah satu satunya cara unutk keluar negeri", kenangnya.
 
"Saya ingin cari pengalaman dengan merantau", tambahnya. Joanna memilih ke Serawak, Malaysia.
 
"Tempatnya jauuuh sekali, disebuah desa dipedalaman pulau Borneo" papar Joanna sambil mengawasi anaknya yang berambut pirang.
 
"Malay people are very kind and gentle. Orang Melayu baik-baik dan lemah lembut, saya betah disana. Sampai-sampai saya tinggal disana kurang lebih 10 bulan " tambahnya
 
"Lalu apa yang membuatmu masuk Islam?" tanyaku.
 
"Pada waktu istirahat..itu anak anak selalu mendatangi saya. Selalu datang menyampaikan salam. Suatu hari mereka menyodorkan buku kecil dan tipis seklai " ujarnya.
 
"Miss..miss kenal dengan nabi Muhammad, Rasul kami? " tanya salah satu mereka, mereka berdesakan dan masing-masing ingin dapat perhatian.
 
"Siapa tuh Muhammad...saya tidak  tahu"  dengan sabar Joanna menjawab pertanyaan mereka.
 
"Ini miss.. baca buku ini...disini ada sejarah tentang nabi kami, Muhammad" mereka menghadiahi buku kecil tentang Rasulullah saw pada Joanna.
 
 "Tapi ini khan pakai bahasa Melayu saya enggak bisa bahasa Melayu" ia menolak dengan lembutnya, agar anak-anak tidak tersinggung.
 
"....tapi miss Anda kan guru bahasa Inggris anda mesti belajar bahasa kami, bahasa Melayu..ini hadiah dari kami dan bacalah" buku itu diterima oleh Joanna sambil tercenung berfikir betapa baiknya mereka ini.
 
Joanna sangat menghargai pemberian itu, seakan ia diberi perhatian khusus oleh anak-anak, dia sangat terharu.
 
Sejak itulah Joanna tertarik dengan agama Islam. Ia menyempatkan diri ke toko buku saat Joana berada di Kualalumpur. Pesan anak-anak itu cukup membekas dihatinya. Ternyata banyak sekali buku-buku tentang Islam yang berbahasa Inggris. Joanna membeli kamus Inggris Melayu yanng kecil. Pikirnya pasti anak anak akan senang kalau mereka tahu bahwa ia belajar bahasa Melayu. Joanna tertarik,  dia tidak menyangkal..itulah perjalanan awalnya Joanna masuk Islam.

                          * * *
 
Joanna balik ke Inggris lalu kuliah disebuah universitas pada fakultas Kedokteran. Joanna tidak berminat jadi dokter, tapi ia memilih untuk menjadi Medical Researcher.
 
Pada saat Joanna melakukan praktikum di rumah sakit ia mengenakan jilbab. Disanapun ada seorang dokter Muslimah, sangat aktif meng-kampanyekan soal jilbab di rumah sakit. Hal ini membuat Joanna menjadi lebih percaya diri untuk tetap mengenakan jilbabnya.
 
Sepenggal kisah

Ia berjumpa dengan seorang pemuda India beragama Katholik. Salah seorang dokter. Pemuda ini nampaknya tertarik dengan perilaku Joanna yang lemah lembut dan haniefah.
 
Di kantin mereka berkenalan. Mereka sering diskusi masalah agama. Mulanya sang pemuda tak paham kenapa perempuan Inggris mengenakan jilbab. Jilbab putih itu nampak serasi dengam seragam (Robe) dokternya yang juga berwarna putih. Joanna nampak ayu dan lembut.

Tidak saja jilbabnya yang menarik sang pemuda, ia tertarik dengan agama yang ia anut. Sipemuda  tertarik, lalu masuk Islam – namanya jadi Ahmad. Tak lama kemudian Ahmad melamar Joanna. Menikahlah mereka.
 
Setahun kemudian perkawinan mereka membuahkan seorang anak. Joana memutuskan untuk tinggal dirumah menjaga anaknya. Suaminya sangat setuju. Sambil mendidik anaknya Joanna sering berkumpul bersama ibu-ibu, mengkaji Islam di Islamic Cente, Tooting Broadway.  

Disitu Joanna belajar dan mendalami  agama Islam. Sejak itu pula busana yang ia kenakan lebih Islami, longgar dan lepas, dilengkapi penutup kepala atau jilbab yang menutup dada dan setengah tubuh.
 
             * * *
 
Lain lagi cerita Nina, ukhti asal Indonesia yang juga residen atau pemukim yang  bersuamikan Inggris mempunyai cerita unik.

Karyawati disebuah Department Store ini cukup lama bekerja di sini, 10 tahun lebih.  Dulunya ia seorang penari. Ramah dan lincah. Temannya dimana-mana. Setelah gabung dengan sebuah pengajian student Indonesia dikota London ia menemukan sesuatu, ia merasa bahagia berada di lingkungan yang nyaman serta banyak mendapatkan masukan.

Ia tambah intens memperdalam agama Islam, sampai terjadi perubahan cukup drastis. Nina  berkeinginan mengenakan jilbab, walaupun penuh keraguan.
 
Ia memulai dengan memakainya dari rumah ketempat pengajian, lalu ke supermarket atau ke station. Terus mencobanya ketempat ia bekerja, sampai ditempat bekerja ia lepas. Ada selaksa perasaan berdosa, namun Nina tengah memupuk keberaniannya.
 
"Ahh aku mau part time saja dulu..." ujarnya.
 
Pada saat ia bekerja,  Nina belum berani mengenakan sang jilbab dikepalanya.  Ia belum yakin. Pada intinya dia tidak berkinginan membuat masalah ditempat ia bekerja. “Aku belum siap, aku takut, katanya! Nina mulai mensurvey, untuk mencari tahu berapa berapa jumlah Muslimah  ditempatnya ia bekerja. Ternyata cukup banyak!.
 
Setiap ia kepengajian, ia sibuk membahas dan bercerita tentang jilbabnya.

Nina mulia terobsesi dengan jilbab. Banyak meminta saran kapan ia bisa memulai mengenakannya ke tempat bekerja. Kita terus mensupport.

"Saya tunggu waktu, support aku deh" tambahnya lagi.
 
"Aku takut dipecat teh" was-was sekali mbak kita ini.
 
"Ahh mana mungkin. Percayalah, kita ini dilindungi oleh undang undang. Lihat saja itu orang-orang Sheik, Yahudi, mereka pakai sesuatu dikepalanya. Lagian khan kamu sudah 10 lebih kerja disitu", aku berusaha meyakinkan dia.
 
Sambil dia terus mengenakan jilbab untuk membiasakan orang orang disekitarnya baik itu suami, anak dan tetangga. Namun Nina belum berani mengenakannya ditempat kerja. "Aku belum pe-de ahh " kilasnya. 
 
Pada suatu hari, saat ia mengambil 'day off'. Nina mengajak teman-temannya untuk minum kopi. Tentu dia mengenakan jilbab. Pada saat hendak pulang tiba tiba dia membelok ke tempat ia bekerja untuk sekedar menyampaikan hello kepada teman kerjanya. Dia lupa kalau dia mengenakan jilbab. Tentu saja semua temannya terkejut. Kebetulan sang supervisor yang Muslim sedang berada disitu:
 
"Ooh..I didn't know you wear hijab, Nina" tegurnya. Ia jadi tersipu malu sambil mengatakan bahwa ia mengenakan jilbab.
 
"Why dont you wear it to you work  ?" tantangnya.
 
"Really ?! Can I wear hijab to work?" Tak percaya  mendengar tawaran ini. Sangat exciting. Tentu.
 
"Well of course you can..I will talk to my manager and I am sure you have the  right in this country" meyakinkan.
 
Tak terbayang rasa bungah dihati mbak Nina mendapat support penuh dari sang supervisor. Nina pulang dengan langkah yang..duuuh rasanya ringan sekali langkah ini, ingin sekali ia teriak ke langit. Kini Nina mengenakan jilbab yang warnanya disesuiakan dengan seragam kerja. Konon langkahnya banyak diikuti oleh beberapa muslimah yang selama ini bersembunyi dari persembunyiannya.
 
Dan seperti biasanya teman dan sahabat yang  biasa pergi ke disko atau berkumpul untuk bersenang senang, mendengar perubahan Nina, mereka menjauh, mencibir...dan tentusaja, memperolokannya.
 
Pemandangan Aneh!

Seorang ukhti atau sister Jane yang muallaf (convert) yang kutemui di depan kedutaan Perancis, saat kami berdemo tentang hijab, ia bercerita dan berpendapat;

"Karena saya sudah bersyahadat yang artinya kesaksian dan pengakuan saya terhadap adanya Allah yang Esa serta kesaksikan saya bahwa nabi Muhammad adalah Rasulullah' maka ini adalah sebuah komitmen danjanji saya. Artinya saya tidak bisa hanya mengambil setengah setengah. Saya harus ambil seutuhnya. Termasuk mengenakan hijab  tentunya" ujarnya Percakapan ini berlangsung lewat telefon. Jane betul betul melaksanakana 'wa sami'na wa ato'na' fikirku.  Sayang sejak itu kami tak pernah ada waktu luang untuk berjumpa.
 
Saat mengawali masuk Islam, Jennifer tidak tahu bagaimana caranya mengenakan jilbab.
 
"Saya beli dua helai kerudung lalu saya sampirkan dikepala saya"
 
"Dengan mengenakan jilbab saya merasa tenang dijalanan tanpak menarik perhatian kaum lelaki yang selalu berfikir kalau perempuan adalah objek seks. Saya marasa bebas dari tekanan untuk kompetisi kecantikan.  Sayapun bisa jadi lebih nampak sederhana" paparnya.
 
"Mereka memang menatap (melototi) dengan pandangan macam macam, tapi saya tidak peduli",  kata Jennifer. Tentusaja, bagi mereka, sebuah pemandangan aneh. Atau komentar-komentar yang negative lainnya.

Namun, kata Jennifer;

"Tatkala saya mengenakan jilbab saya merasakan kehangatan pada jiwa dan hati saya. Ada rasa aman dan tenang, walaupun saya merasakan bahwa saya masih belum mampu memenuhi perintahNya, saya takut bahwa  saya belum bisa meraih ridhoNya". Demikian Jennifer bertutur. ..bersambung.

London,  9 Maret 2006,

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2859&Itemid=1


Posted at 10:01 am by alshahida
Make a comment  

Previous Page Next Page