alshahida
Female
London

Assalamualaikum wr wb
Duka lara mereka, anak-anak yatim korban konflik terlalu jauh, doa dan deritanya telah menerobos ke sela sela dinding hati kendati terpisahkan oleh jarak puluhana ribu mil, moga mereka bisa membawaku ke emperan jannah...
   

<< October 2006 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed


Monday, April 10, 2006
Penggalan Cerita Yatim Dari Lhoong


   
  Oleh : Al Shahida
  
  
  Bocah bocah cilik tak berayah-ibu itu merasakan dinginnya dikegelapan malam. Kerinduan dan rasa kehilangan ayah-bunda begitu mencekam dada mereka. Kesunyian itu begitu melilit nyeri dibenak mereka. Takut dan bingung.
  
 

Mereka, bocah bocah kecil yang rentan, terancam olah rasa  lapar dan seribu satu wabah kerap mengintai. Setiap saat muncul wajah wajah asing entah itu berwarna coklat atau bule putih bergantian, mengintai mereka. Rasa syak menghantui mereka.
 

  " Ahh siapa mereka ini, mau apa mereka ini...ihhh aku takut" membuat anak anak beringsut dari tempat duduknya yang berlantaikan tanah.
   
  Lia dan kakaknya, ditemukan diantara puluhan anak-anak ditenda pengungsian. Disuatu sore disalah satu tenda tenda berwarna biru langit ditemui oleh para relawan yang tengah mendata anak anak korban Tsunami. Mereka hanya berdua, ayah dan bunda, abang adik telah sirna tertelan oleh amuk dan amarahnya Tsunami.
   
 
Lia dan kakaknya tak tahu hendak mengaduh kepada siapa, bingung hendak menyandarkan kepala kedada siapa. Derai airmatpun tak ada yang sudi mengelapnya.  Dimalam malam kelam dingin tak ada yang menyelimuti mereka - tak ada yang menuntun doa tidur - seringnya mereka tertidur kelelahan, terlelap dalam impian menakutkan oleh deru dan gemuruhnya ombak Tsunami - sukar dan susah menghilangkan suara ini, terus  menghantui mereka, hingga...datangnya  kakak-kakak dari sebuah lsm menemui mereka...
  
                  ***
 

   "Lia mau ikut dengan kami, disana banyak teman dan tidur rame rame ?" demikian para relawati mendekati  mereka untuk mendata sambil menawarkan sesuatu.
   
 
   Lia..pandangannya amat kosong.  Ia cuma memandang kelangit-langit tenda, atau wajahnya kerap diarahkan ketempat lain atau menunduk ketanah. Sukar ditangkap.  Dengan sabar,  para ukhti itu membujuk dan meyakinkan bahwa mereka akan tinggal dirumah sementara bersama yatim lainnya, nanti akan disekolahin, diberi uang jajan, mainan, buku-buku dan baju  baru" ujarnya.
   
 
   Lia nampak tak yakin. Antara ekpressi duka dan ria itu menyatu diwajahnya, sambil menoleh ke kakaknya.

   
  "Tapi Lia tidak dibawa keluar Lhoong khan ustadzah?" Lia bertanya penuh ragu.

   
  "Tidak..ustadzah kahn orang sini. Itu di desa Monmata tempatnya, disana banyak teman" Sumaya meyakinkan Lia. Akhirnya kakak Lia membujuk Lia untuk bergabung di asrama sementara agar Lia tidak terlalu bersedih.

   
  Lia yang cantik, pemalu, lebih banyak diam. Kenangan pahit akan Tsunami sukar dilupakan,  Lia tidak pernah mau berbagi cerita dengan siapapun. Semua mendekam didadanya - ia cuma ingin menangis saja.
  
  
  Lia kerap menyendiri, sering bermenung, mengenang duka laranya,  kalau sudah lelah akhirnya Lia menangis...kalau sudah begini biasanya  minta dikembalikan ke tenda untuk bersama kakaknya. "Ustadzah...Lia mau pulang ke tenda..uuuh" para pengasuhpun jadi teriris hatinya. Padahal ditendapun Lia tak betah dan tidak akan betah, mereka tahu. Panas disiang hari, lalu dingin dimalam hari. Kamarpun tak ada pula kalau hendak ganti baju. Lia bingung. Lia sedih dan tak tahu mau apa.

   
  Dikala hujan turun, gemuruh hujan itu membuat Lia sering merasa ketakutan. Namun  Lia tak tahu siapa yanga akan ia peluk. Dalam tidurnya Lia sering bicara. Mengigau. Terutama saat Lia rindu dengan saudara dan ayah bundanya...

   
  Hingga kini Lia tak mampu bercerita tentang Tsunami. Rumahnya di kampung Jantan telah rata dengan tanah, kini Lia bersama teman-teman Gampong Anak Shaleh
  
  Kini...

   
  Sejak September Lia bergabung dengan yatim lainnya, dengan teman barunya  di "Asrama ICR", orang di Lhoong memberi nama, Lia kerasan. Bahkan senyum itu telah mampu menyungging dibibirnya.
 
 
Dulu ngajinya terbata-bata kini telah bisa menghafal surat-surat Juz Amma. Lia sudah bisa mengaji. Juga sudah bisa membaca dan menulis dan membaca doa-doa pendek. "Lia pun pandai berkreasi sekarang " kata para ustadzah... Kakak-kakak ustadzah telah begitu sabar dan telaten menjaga Lia dan teman temannya..dan tentu saja  mereka sangat berterima kasih.
  
  
  
  Andi
  
  Andi sama nasibnya seperti Lia. Sebelum Tsunami Andi punya ayah dan ibu serta saudara. Rumahnya dipesisir dekat Blangme, kacamatan Lhoong itu telah terenggut dan luluh lantak oleh ombak Tsunami, rata dengan tanah. Betul-betul rata, tak ada yang tersisa, kecuali reruntuhan batu dan genteng. Itupun hancur semua. Dahsyat sekali Tsunami, pikir Andi. Semua itu tinggal kenangan belaka dan amat pahit.

   
  Pada saat Andi berupaya berlari menyelamatkan diri ke bukit, ia bersama bunda dan adiknya, mereka berhasil melarikan diri dari kejaran  ombak Tusnami.  Mereka tengah mendaki bukit.. namun malang sekali nasib mereka. Tiba tiba pohon itu tumbang menimpa bunda yang tengah menggendong adiknya. Bunda tertimpa pohon..juga adiknya, mereka diam tak bisa bergerak. Andi melihat semua ini. Ia ingin menolong namun ombak Tsunami lainnya datang lagi bahkan hampir merenggut nyawanya. Ia tak bisa berbuat kecuali merelakannya. Andi berlari sambil berteriak keras dan menangis.

   
  "Maamaaaaaaaa..." hingga ia tiba di bukit, lalu ia terduduk dalam keadaan basah kuyup dan  baju yang penuh lumpur.

   
  Entah bagaimana, saat ombak surut Andi turun kebawah dan ternyata Allah masih menyisakan seorang kakak perempuan dan seorang nenek. Mereka, masih tinggal di tenda pengungsian. Andi bergabung dengan teman lainnya di asrama. Andi ..seperti anak-anak lainnya ia tak tahu bagaimana mengutarakan kesedihannya dalam bentuk kata-kata. Ia lebih banyak diam dan pasif. Duka laranya membuat Andy sangat lambat dan banyak tertinggal dalam hal pelajaran. Ia sering melamun, tak bisa konsentrasi untuk mengikuti pelajaran dikelas.

   
  Namun sejak Andi bergabung dengan teman-temanyatim lainnya yang datang dari berbagai desa seperti Gapuy, Paroy, Monmata dan lainnya Andi menyadari bahwa ia tidak sendirian. Mereka, anak-anak korban Tsunami itu memang amat gaduh dan nakal dan kadang mengganggu Andi yang pendiam.Tapi lebih baik begini dari pada sendirian, pikir Andi.

   
  Andi sangat berterima kasih kepada kakak-kakak dari Hidayatullah seperti ustadz Aman, Harris, karyadi, Gholib atau ustadz Fathun...yang datang dari jauh, katanya dari Jawa atau Kalimantan, yang  sengaja datang untuk mendedikasikana diri mereka untuk menolong dan menghibur anak-anak di Aceh, dan mereka pilih Lhoong.
  
  " Kami memang nakal..." ujar Andi. Tapi kami heran kenapa sih itu para ustadz mau mengurus kami, sedang kami tidak kenal, mereka bukan paman, saudara dan apapun.  Para ustadz itu koq mau makan dan tidur dengan kami, membangunkan kami untuk sholat subuh...padahal kami masih pingin tidur. Dingin. Ahh rajin pula mengajarkan doa-doa saat kami mau makan dan tidur dan mau berangkat sekolah. Kadang kami dihukum, kalau nakalnya kami kelewatan. Ehh kami ketemu lagi dengan para ustadz di TPA, diwaktu Ashar. Digaji berapa sih mereka ini dan kenapa mereka ko baik baik sekali?.

   
  "Ahhh..capek mikirin para ustdaz..susahnya mereka tidak bisa berbahasa Aceh"  tapi Andi tak peduli. Sekarang Andi sudah pandai membaca Iqra walaupun bARU buku no 3, tapi Andi banyak teman untuk bergurau dan main puzzle kiriman dari teman teman di Inggris, juga main bola kiriman kakak-kakak di Jakarta..
  
  
                               ****
Motivasi...
   
  Pada  saat kami ke Lhoong, Aceh aku tak mampu menggali cerita mereka, karena memang masih dalam kondisi trauma, kecuali seorang gadis cilik bernama Ria..dia menantang untuk bercerita pengalamannya. Namun nyaris..usai bercerita dia menangis.

 
  'Ria kangen Mama...uuuh' Ria menganis, akhirnya distop untuk tidak mengungkit luka mereka.

   
  Dari duapuluh lima halaman laporan perkembangan dan cerita, anak  aytim Aceh, yang saya dapatkan dari ukhti Wardah yang baru saja mudik dari Aceh - cerita dan perkembangan mereka membuat aku amat terharu dan membuat air mataku berderai.

   
  Terharu dengan dedikasi para pengasuh yang dengan ikhlas dan setianya mengasuh anak anak yatim atau piatu,  padahal mereka juga punya tugas entah itu sebagai siswa/siswi atau bekerja jadi guru tapi dengan  kesungguhan dan determenasi, mereka tetap  menyisihkan waktu dan mengatur shift dengan teman lainnya untuk tetap mengawasi dan mengurus anak-anak ini, titipan Allah swt. Merekapun, anak-anak Aceh itu  masih sangat rentan dari kejaran para trafficking.

   
  Semua ini membuat aku rindu, membuat aku cemburu.  Rindu membelai bahu dan rambut mereka, rindu bergurau dan bercerita, sambil selonjoran dilantai, lalu mereka akan berebut ingin duduk disebelah bundanya ' Bunda mau pijit...' tanya mereka. Aku sungguh rindu.

   
  Aku cemburu kepada para pengasuh yang telah bisa mengurus, menyediakan makan serta menyayang mereka langsung, kendati mereka sering diuji kesabarannya untuk menangani yatim-yatim yang nakal dan berebut perhatian. Semua ini telah memotivasiku untuk terus dan terus berjalan..walau badai terus menghadang.

   
  Lia, Andi, Mutia, Aji dan Putra dan empatpuluhenam yatim lainnya ada dalam asuhan Hidayatullah dan ICR-UK yang saat ini masih tinggal dirumah sementara. Rencananya akan dirumahkan dalam proyek "Gampong Anak Sholeh" The Friendly Village" di kecamatan Lhoong, 52 km dari Banda Aceh. Insya Allah.

   
  Kepada siapakah mereka menyandarkan harapan, tanggung jawab siapakah nasib yatim-yatim  korban konflik dan musibah kalau bukan kita kita. Sayang dan cintailah mereka sebagai kita mencintai anak anak kita

   
  Longoklah mereka, laporan atau report dengan judul "Tsunami in Aceh One Year On... : http://www.icruk.org
  
  
  
  
  London, 6 April 2006

Posted at 10:22 am by alshahida
Make a comment  

Next Page